Kasus Delis, Di Kota Tasik Siswa tak Ikut Study Tour tetap Bayar Sebagian, Bukti Kegagalan Pendidikan

563
0

KOTA TASIK – Motif pembunuhun yang dilakukan Budi Rahmat terhadap anaknya Delis (13) siswi SMPN 6 Kota Tasik, gara-gara bertengkar soal biaya study tour yang kurang Rp100 ribu dari total Rp400 ribu, ditanggapi wakil rakyat dari Komisi IV DPRD.

Ketua Komisi IV, Dede Muharam yang dihubungi melalui ponselnya mengaku sangat prihatin dengan kasus ini. Tragis sekali motif pembunuhannya karena kekurangan uang study tour.

“Sungguh prihatin dan kami ucapkan duka cita yang terdalam. Apalagi karena pembayaran study tour yang kurang,” ujarnya kepada radartasikmalaya.com, Kamis (27/02) sore.

Terang dia, kasus ini adalah pukulan berat bagi pihak keluarga korban dan dunia pendidikan di Kota Tasikmalaya.

Berita terkait : Delis Siswi SMPN 6 Kota Tasik Dibunuh Bapaknya, Motifnya Biaya Study Tour Rp100 Ribu

“Tapi di sisi lain kami bersyukur bahwa pelaku pembunuhan ini sudah teridentifikasi pelakunya. Kita apresiasi kinerja pak polisi,” terangnya.

“Meski demikian, dengan terungkapnya kasus ini menjadi sebuah gambaran yang luar biasa mengejutkan dari sisi penyebabnya itu (biaya study tour, red). Jadi ini harus dijadikan pelajaran bersama,” sambungnya.

Khususnya, beber dia, terungkapnya kasus ini serta motifnya jadi pelajaran berharga bagi Dinas Pendidikan (Disdik).

“Karena kami dari Komisi IV selalu menyampaikan soal study tour ini agar dievaluasi,” bebernya.

Mengapa demikian, karena fenomena study tour dengan biaya yang dibebankan kepada orang siswa sudah kerap menjadi masalah dan merata terjadi di setiap tingkatan sekolah.

“Banyak yang komplain ke kami dari para orang tua siswa itu, soal biaya study tour,” tambahnya.

Apalagi, jelas dia, sering muncul masalah dari study tour ini adalah ada kebijakan dari sekolah bahwa yang tidak ikut juga harus bayar. Meski nominalnya seperti tidak sama dengan yang berangkat.

“Nah ini kan jelas harus dievaluasi. Apalagi di masyarakat ikut study tour adalah sebuah gengsi. Artinya ada penilaian seperti itu berarti pendidikan tidak berhasil,” jelasnya.

Anggota Komisi IV, Enan Suherlan pun senada dengan pernyataan Dede.

“Persoalan study tour ini pernah dibahas di DPRD dengan memanggil pihak dinas. Komisi IV pun telah terang-terangan menyatakan bahwa biaya study tour harus dievaluasi,” tuturnya.

Apalagi, tukas dia, bagi pelajar yang namanya ikut study tour memang menjadi sebuah gengsi.

Maka dari itu perlu dievaluasi study tour tersebut dengan cara belajar di luar sekolahnya cukup di daerah Tasik saja misalnya.

“Karena kan banyak lokasi di Tasik bisa digunakan study tour dan lebih hemat,” tukasnya.

(rezza rizaldi)

Loading...
loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.