Kasus Pencabulan Bocah, Homoseks & Penipuan Penggandaan Uang di Kota Banjar

147
0
EKSPOSE. Polres Banjar mengekspose pelaku kasus penipuan penggandaan uang senilai Rp 55 juta, Jumat (30/10). Anto Sugiarto / Radar Tasikmalaya 
EKSPOSE. Polres Banjar mengekspose pelaku kasus penipuan penggandaan uang senilai Rp 55 juta, Jumat (30/10). Anto Sugiarto / Radar Tasikmalaya 

BANJAR – Satuan Reskrim Polres Banjar berhasil mengungkap tiga kasus berbeda belum lama ini. Para pelaku berhasil diamankan dan diekspose di Mako Polres Banjar, Jumat (30/10).

Kasus pertama adalah penipuan dan atau penggelapan uang dengan modus penggandaan uang yang dilakukan oleh pelaku yakni MS ke sejumlah korban. Saat itu pun korban merasa tertarik, sehingga menyerahkan uang dengan total Rp 55 juta kepada pelaku. Karena pelaku berjanji akan menggandakannya menjadi Rp 60 miliar.

“Korban menyerahkan sejumlah uang secara bertahap dan pelaku mengaku memiliki kenalan kuncen yang mampu melipat gandakan uang tersebut,” ujar Kapolres Banjar AKBP Melda Yanny SIK MH didampingi Wakapolres Kompol Lalu Wira Sutriana dan Kasat Reskrim AKP Budi Nuryanto saat ekspose, kemarin.

Menurut dia, karena merasa ada yang mengganjal atau tidak beres, akhirnya korban langsung melaporkan ke pihak kepolisian. Setelah mengetahui identitas pelaku, Reskrim langsung bergerak melakukan penggerebekan di rumah pelaku, Ciamis. “Pelaku berhasil diamankan tanpa perlawanan beserta barang bukti,” katanya.

“Barang bukti yang berhasil diamankan berupa baskom ukuran sedang, bekas botol air mineral, satu buah lilin dan botol kecil berisi cairan yang disinyalir bisa melipatgandakan uang. Pelaku dijerat pasal 378 jo pasal 372 jo pasal 64 KUHP dengan ancaman hukuman 4 tahun penjara,” katanya.

Baca juga : Kesadaran Warga Kota Banjar untuk Disiplin Prokes Baru 50%

Kata dia, pelaku MS mengaku meminjam sejumlah uang ke korban sebesar 1 juta selanjutnya Rp 2 juta, Rp 3 juta sampai total Rp 55 juta. Saat itu korban menagih uang yang telah dipinjam namun belum ada. “Korban disuruh mandi menggunakan air yang sudah diberi mantra, agar percaya namun belum keburu ada hasilnya,” ucapnya.

Lanjut kapolres, untuk kasus kedua adalah pencabulan anak di bawah umur terhadap LF (16). Korban dicabuli oleh pelaku berinisial WA (46) yang tidak lain kakak iparnya sendiri pada 21 Oktober 2020.

“Korban diiming-imingi dibelikan HP asal mau berhubungan intim dan itu pun akhirnya terjadi, apalagi korban adik dari istrinya sendiri yang tinggal di rumah kontrakan di wilayah Langensari,” katanya.

Kemudian, kata dia, kakak korban yang tidak lain adalah istri pelaku curiga karena adiknya sedang berpelukan dengan pelaku atau suaminya. Karena ketangkap basah, korban pun diinterogasi oleh keluarga dan mengaku sudah disetubuhi pelaku.

“Akhirnya keluarga melaporkan kejadian tersebut ke pihak kepolisian dan Satreskrim Polres Banjar pun bergerak melakukan penangkapan pelaku pada 27 Oktober dan langsung dibawa ke Polres Banjar untuk diamankan,” ujarnya, menjelaskan.

Ketiga, kasus pelecehan terhadap anak di bawah umur, laki-laki dengan laki-laki. Korban berinisial MA (14) dicabuli dengan cara dimainkan alat kelaminnya oleh pelaku SP (53) pada November 2019 lalu.

“Saat itu korban datang ke rumah pelaku yang tidak lain membuka jasa vermak pakaian. Niat korban mengecilkan baju, namun oleh pelaku disuruh masuk kamar lalu celananya dilepas, setelah itu dilakukan cabul atau pelecehan seksual,” jelasnya.

Kata dia, setelah melakukan aksinya, pelaku mengancam ke korban untuk tidak melaporkan kejadian itu. Jika melapor, korban akan dibunuh oleh pelaku. Karena merasa di bawah tekanan, akhirnya korban bercerita ke keluarganya.

“Anggota menerima laporan dari keluarga korban 14 Oktober lalu dan oleh timsus dilakukan penyelidikan tidak lama kemudian pelaku berhasil diamankan. Kedua kasus tersebut para pelaku dijerat pasal perlindungan anak dengan ancaman 5-15 tahun penjara atau denda Rp 5 miliar,” pungkasnya.

Pelaku pencabulan, SP mengaku melakukan hal itu karena sebelumnya juga dia menjadi korban cabul sesama jenis pada waktu masih kecil. Sampai saat ini masih sendiri alias belum menikah. “Belum menikah, hidup sendiri di rumah. Saat melakukan Itu (cabul, Red) tidak mengancam korban,” akunya. (nto)

Loading...
loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.