Kebijakan Satgas Covid-19 Kota Tasik Dinilai Rugikan Pengusaha Kecil

109
0
SALAT. Mahasiswa menggelar aksi salat berjamaah di halaman Bale Kota Tasikmalaya, Rabu (30/12). Mereka mengeluhkan kebijakan Pemkot yang seolah tidak berkeadilan dalam mengeluarkan kebijakan pandemi Covid-19 terkait penutupan 38 ruas jalan dan pembatasan operasional usaha. Firgiawan / Radar Tasikmalaya
Loading...

BUNGURSARI – Massa dari Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Kota Tasikmalaya, beraksi di Bale Kota Tasikmalaya, Rabu (30/12). Mereka menyuarakan protes atas kebijakan Satgas Penanganan Covid-19 yang dinilai merugikan laju ekonomi pegiat usaha kecil.

Aksi mahasiswa tersebut dimulai sekitar pukul 11.20, mereka berorasi di depan pintu lobi Bale Kota Tasikmalaya dan meminta Plt Wali Kota Tasikmalaya H Muhamad Yusuf turun langsung menerima kehadiran mereka.

Sebab, pada audiensi yang digelar hari sebelumnya, para mahasiswa kecewa lantaran Pemkot seolah tidak serius menerima kedatangannya. Apalagi, saat itu diketahui sejumlah pejabat tengah berangkat ke Yogyakarta untuk urusan dinas, di kala masyarakat dibatasi ruang gerak dan aktivitasnya.

“Kemarin pejabat jalan-jalan terus, tapi masyarakat aktivitasnya disendat. Ini kontradiktif dan tidak menjunjung azas keadilan,” kata salah seorang orator aksi, Deden Saptan­jani.

Baca juga : INNALILLAHI.. 3 Warga Indihiang Kota Tasik yang Terbakar Meninggal Dunia

Loading...

Kemudian memasuki wak­tu salat zuhur, mereka merangsek ke area lobi dan menggelar salat berjamaah. Dilanjutkan de­ngan salat jenazah dengan dikawal ketat pe­tugas keamanan gabungan yang ada di sekitar lokasi aksi.

“Kita mendoakan su­paya penerus Pemkot nanti, tidak mati lagi sehingga kebijakannya berpihak ke ma­syarakat. Covid-covid terus yang di­bicara­kan, yang harus ditegakkan itu bukan san­k­si saja, tetapi keadilan,” tegas orator lainnya.

Aksi berlanjut sampai sekitar pukul 12.25. Mereka setelah salat berjamaah dilanjutkan dengan doa bersama. Mendoakan agar Pemkot yang seolah tidak lagi bernyawa, karena kebijakannya dianggap tidak berperikeadilan segera dibukakan hidayah. Akhirnya, massa sudah tak sabar karena tak ada satu pun pejabat yang menerima aksi tersebut.

Saat mereka berencana masuk ke ruang pimpinan, Plt Wali Kota Tasikmalaya H Muhammad Yusuf beserta sejumlah kepala Organisasi Perangkat Daerah (OPD) terkait langsung menerima kunjungan mahasiswa tersebut.

Seusai diterima Plt wali kota dan jajaran, Korlap Aksi Adrian Nugraha mengeluhkan kebijakan Pemkot selama pandemi seolah mengesampingkan aspek keadilan. Terutama bagi pedagang kecil yang terbiasa berusaha di malam hari, terhimpit dengan adanya pembatasan jam operasional atau kegiatan masyarakat.

“Bahkan rekan-rekan kami sering mendapati keluhan, adanya aparat yang kurang humanis dalam menegur atau memberi punishment akan pembatasan jam malam. Kita tekankan ini harus dikaji kembali,” tegas Adrian.

Ia menilai pola penanggulangan Pemkot dengan membatasi aktivitas masyarakat di malam hari seolah diskriminatif. Melihat tidak semua aktivitas masyarakat dilaksanakan siang hari, terutama pedagang atau pelaku usaha kecil malam hari.

“Kita minta Pemkot mau merekonstruksi atau mengkaji ulang surat edaran tersebut. Apalagi menjelang tahun baru sejumlah ruas jalan ditutup sampai pagi, padahal sejumlah pihak itu menjadi harapan tersendiri, ketika hampir setahunan usaha sepi akibat pandemic,” paparnya menjelaskan.

Plt Wali Kota Tasikmalaya H Muhammad Yusuf mengakui berkaitan penanggulangan Covid-19, Pemkot dilematis. Termasuk di daerah lain pun mengalami hal serupa, kalang kabut ketika kasus terus naik, dibenturkan dengan even rutin seperti malam tahun baru atau potensi keramaian lainnya.

“Surat edaran itu atas kajian dan pertimbangan bersama. Kita harus maklumi kondisi Kota Tasikmalaya sekarang kan masih tinggi kasusnya, kita khawatir ini terus bertambah,” tutur Yusuf.

Dia menjelaskan kebijakan yang digulirkan melalui surat edaran berkaitan aktivitas di masa pandemi, semata untuk melindungi masyarakat supaya tidak berisiko terpapar lebih luas lagi. Melihat lonjakan kasus setiap harinya terus mengalami penambahan.

“Masukan rekan-rekan mahasiswa kita akan bahas untuk bahan evaluasi. Kami memahami, tetapi kami juga harap masyarakat mohon memaklumi kondisinya seperti ini,” ajak dia. (igi)

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.