Traktor, Pompa Air dan Mesin Tandur Dicek

Kejagung Bawa Dokumen Dispertan

63

TASIK – Tim Penyidik Pemeriksa Khusus (Saksus) Tindak Pidana Korupsi Kejaksaan Agung (Kejagung) membawa data dari hasil keterangan perwakilan 85 kelompok tani di Kabupaten Tasikmalaya. Di dalamnya, termasuk berkas pengadaan alat dan mesin pertanian (alsintan) bantuan Kementerian Pertanian (Kementan) tahun 2015 dari Dinas Pertanian (Dispertan) Kabupaten Tasikmalaya dan data lainnya.

Seperti yang diketahui bahwa kedatangan Tim Penyidik Saksus Tipikor Kejagung ke Tasikmalaya untuk mengumpulkan data di lapangan soal bantuan alsintan. Bantuan tersebut diterima kelompok tani-kelompok tani di Tasikmalaya 2015. Kini, Kejagung tengah menangani dugaan korupsi pengadaan alsintan Program Kedaulatan Pangan tahun anggaran 2015 di Dirjen Sarana dan Prasarana Pertanian Kementerian Pertanian.

Kepala Seksi (Kasi) Alat dan Mesin Pertanian (Alsintan) dan Sarana Produksi (Saprodi) Dinas Pertanian (Dispertan) Kabupaten Tasikmalaya Asep Kuswara menjelaskan selain mengumpulkan dan memintai keterangan dari para kelompok tani, tim penyidik Kejagung juga mengkroscek bantuan alsintan jenis traktor, mesin pompa air dan mesin tandur bantuan Kementan kepada kelompok tani tahun 2015.

“Setelah di kroscek ke lapangan memang ditemukan sampel, bahwa alsintan seperti traktor masih ada dan dipakai oleh kelompok tani,” ungkap Asep saat diwawancara wartawan di Kantor Dinas Pertanian (Dispertan) Kabupaten Tasikmalaya, Jumat (30/11).

Selain mengumpulkan keterangan dari para kelompok tani dan kroscek turun ke lapangan, tim penyidik Kejagung juga membawa fotokopian berita acara serah terima barang pekerjaan alsintan jenis traktor, mesin pompa air dan mesin tandur yang diberikan tahun 2015 kepada kelompok tani di Kabupaten Tasikmalaya.

“Ya dibawa fotokopian SK berita acara dan dokumen dari Dinas Pertanian Kabupaten Tasikmalaya,” jelas Asep.

Jadi semua data keterangan dari perwakilan kelompok tani, sampel kroscek ke lapangan serta dokumen berkas dari Dispertan Kabupaten Tasikmalaya, kata Asep, sudah dibawa tim penyidik Kejagung ke pusat.

“Jadi sebenarnya di tingkat daerah tidak ada masalah. Dengar-dengar informasi memang permasalahan pokoknya ada di Kementerian Pertanian. Saya kurang begitu tahu. Yang pasti Dispertan membantu penyidik dari Kejagung mengumpulkan data-data,” tambah Asep.

Ketua DPRD Kabupaten Tasikmalaya H Ruhimat meminta kepada Dispertan untuk memberikan semua data yang dibutuhkan Kejagung.

“Ya mungkin kedatangan Kejagung ke kantor Dispertan untuk mengkroscek kebenaran pendistribusian alsintan yang diterima kelompok tani di Kabupaten Tasikmalaya. Kita positive thinking saja,” papar politisi PPP ini.

Sebanyak 85 kelompok tani (poktan) di Kabupaten Tasikmalaya, sebelumnya, dimintai keterangan oleh Tim Penyidik Pemeriksa Khusus (Saksus) Tipikor Kejagung RI, Kamis (29/11).

Para perwakilan poktan tersebut dikumpulkan di Aula Kantor Dinas Pertanian (Dispertan) Kabupaten Tasikmalaya sejak pukul 09.00 hingga 13.00. Dengan didampingi Kejaksaan Negeri Kabupaten Tasikmalaya serta dijaga ketat aparat Polres Tasikmalaya.

Kelompok tani diminta keterangan soal penyaluran bantuan alat dan mesin pertanian (Alsintan) berupa traktor, mesin pompa air dan mesin tandur tahun 2015. Karena diduga ada tindakan korupsi dari Program Kedaulatan Pangan Tahun Anggaran 2015 di Direktorat Jenderal Prasarana dan Sarana Pertanian Kementerian Pertanian (Kementan) RI.

Di Kabupaten Tasikmalaya sendiri diketahui 85 kelompok tani mendapatkan kucuran bantuan tersebut. Perwakilan poktan pun diberi soal pertanyaan oleh Kejagung RI tentang penerimaan dan penggunaan Alsintan dari Kementan melalui Dispertan Kabupaten Tasikmalaya tahun 2015.

Sumber yang dihimpun Radar, menyebutkan bahwa bantuan dari Kementan tahun 2015 sebagian diduga diperjualbelikan. Sehingga mendorong Kejagung melakukan verifikasi dan kroscek kepada penerima bantuan.

Salah satu anggota kelompok tani Silih Asih I di Desa Cidadali Kecamatan Cikalong Kabupaten Tasikmalaya Maman mengaku mendapatkan undangan bersama kelompok tani dari Dispertan. Dia diminta menyampaikan soal penerimaan dan penggunaan bantuan alat dan mesin pertanian tahun 2015. “Tahu-tahu ada bantuan saja kalau anggota (poktan, Red). Dan digunakan oleh kelompok tani untuk pertanian. Alat bantuannya masih ada,” tuturnya kepada Radar.

Anggota kelompok tani lainnya asal Desa Ciawang Kecamatan Leuwisari, Dadan menjelaskan saat dikumpulkan tim penyidik Kejagung, dia mengisi pernyataan soal penerimaan dan penggunaan alat bantuan pertanian jenis pompa air yang diterima kelompoknya.

“Dikasih pertanyaan, kemudian saya mengisi jawaban di kertas sesuai pertanyaan yang diberikan Kejagung. Soal bantuan pompa air ada, sudah digunakan. Masih ada barangnya juga,” paparnya.

Dalam isi pertanyaannya, Dadan menceritakan apakah saudara dalam keadaan sehat jasmani dan rohani saat memberikan keterangan sekarang ini. ”Kemudian jawabannya saya, saat ini dalam keadaan sehat dan secara rohani bersedia memberikan keterangan,” kata dia.Pertanyaan lainnya, lanjut dia, mengertikah saudara mengapa saudara dimintai keterangan? Dadan menjawab mengerti, saya diminta keterangan sebagai saksi terkait dugaan tindak pidana korupsi dalam pengadaan alat dan mesin pertanian. (dik)

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.