Siapa Calon bupati Tasikmalaya pilihan anda?
17%

83%

Anak 10 Tahun Tewas Tersengat Listrik

Kejar Layangan Berujung Maut

1864
0
BERDUKA. Suasana duka di rumah Bimo, bocah yang tewas tersengat listrik saat mengejar layangan putus di Mangkubumi Senin (7/10). Rangga Jatnika / Radar Tasikmalaya

TASIK – Permainan layang-layang bisa menjadi ancaman nyata khususnya bagi anak-anak. Jangan sampai kejadian yang menimpa Bimo (10), warga Rancamacan Kelurahan Cipari Kecamatan Mangkubumi Kota Tasikmalaya terulang.

Bimo yang merupakan salah seorang siswa Madrasah Ibtidaiyah (MI) kemarin (7/10) meninggal dunia akibat tersengat listrik saat memegang tali layangan.

Kejadian ini bermula ketika Bimo dan teman sebayanya Farhan berlarian mengejar layangan putus. Upaya mereka untuk menggapai layangan itu sampai ke Kampung Cibeureum Kelurahan Cipari Kecamatan Mangkubumi.

Layangan yang mereka kejar tersangkut di kabel listrik di kawasan kebun, tak jauh dari pemukiman warga. Untuk mengambil layangan tersebut, Bimo dan temannya mengguna­kan sebuah kawat besi. Sayangnya, kawat sepanjang kurang lebih 2 meter itu ikut tersangkut di kabel.

Saat Bimo hendak menariknya secara paksa, dia pun langsung tersengat listrik. Temannya bernama Farhan panik, dan mencari bantuan warga yang kemudian berdatangan ke lokasi kejadian. Namun nyawa bocah itu tak bisa tertolong.

Salah seorang warga Cibeureum, Jamal Lesmana (59) mengaku sempat melihat Farhan berlari dari lokasi kejadian. Tetapi saat melintas di pekarangan rumahnya, anak tersebut tidak bicara apapun. “Enggak nyangka ada kejadian ini (anak tersengat listrik, Red), saya kira enggak ada apa-apa karena anak ngejar layangan. Biasanya kan memang sambil lari-lari,” tuturnya kepada Radar.

Jamal pun mengetahui kejadian itu setelah warga ramai berdatangan ke lokasi kejadian. Korban langsung dievakuasi ke klinik dan dinyatakan sudah meninggal dunia. “Sudah meninggal anaknya, “ kata dia.

Di rumah korban, kedua orang tua Bimo, Unay dan Adi Gupran tampak lemas sambil terisak menangis. Setelah dimandikan dan disalatkan, jenazah Bimo langsung dimakamkan di Gunung Tengah Kelurahan Cipari Kecamatan Mangkubumi.

Kakak Bimo, Sumi Sulastri (33) mengatakan keluarga sudah menerima kejadian tersebut sebagai kecelakaan. Maka dari itu, pihaknya tidak mengajukan autopsi atas kematian Bimo. “Ya kami menganggap sebagai kecelakaan,” ujarnya.

Bimo dikenal sebagai anak penurut, siapapun orang dewasa yang meminta tolong kepadanya selalu dikerjakan. Anak itu pun, kata Sumi, tergolong pendiam namun murah senyum kepada orang di sekitarnya. “Enggak banyak ngomong, paling senyum-senyum saja, “ kata dia menceritakan.

Sumi menambahkan Bimo bukan anak yang sering main layangan, terlebih mengejarnya. Di tambah, saat kejadian adiknya itu sedang dalam kondisi sakit demam. “Kayaknya baru kali ini ngejar-ngejar layangan, “ tandasnya. (rga)

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.