Kejari Akan Jemput Paksa Kades Karyajaya

53
0
Deny Marincka Pratama

TAROGONG KIDUL – Kejaksaan Negeri (Kejari) Garut akan menjemput paksa Kepala Desa Karyajaya Kecamatan Bayongbong berinisial ES yang jadi tersangka korupsi. Hal itu karena ES selalu mangkir ketika dilakukan pemanggilan untuk pemeriksaan lanjutan.

“Kami sudah tiga kali lakukan pemanggilan, yang ketiga hari ini (kemarin, Red) kita panggil, tetapi dia tidak datang. Tidak ada alasannya juga kepada kami,” ujar Kepala Seksi Pidana Khusus (Kasi Pidsus) Kejari Garut Deny Marincka Pratama kepada wartawan di ruang kerjanya Rabu (4/12).

Menurut dia, penjemputan paksa akan dilakukan setelah pihaknya melakukan pemanggilan keempat yang rencananya akan dilakukan minggu depan. Kalau masih mangkir dan tidak memberikan keterangan kepada penyidik saat tak memenuhi panggilan, pihaknya akan menjemput paksa. “Minggu depan akan kembali dipanggil. Jika tak datang, kami akan jemput paksa. Kalau dia kabur, maka masuk daftar pencarian orang,” katanya.

Pihaknya meminta ES bisa kooperatif untuk memenuhi panggilan. Menurutnya, penyidik masih memberi kesempatan kepada ES untuk datang ke Kejari. “Memang belum kami tahan meski sudah ditetapkan tersangka. Masih ada beberapa proses yang harus dilalui sebelum menahan tersangka,” ucapnya.

Saat ini pihaknya juga sudah memeriksa saksi ahli dari Inspektorat dan Disperkim Garut. Pihaknya juga akan meminta keterangan dari kecamatan dan DPMD Garut untuk melengkapi berkas pemeriksaan.

Deni menerangkan tersangka ES diduga melakukan korupsi anggaran dana desa (ADD) sebesar Rp 414 juta. Dana yang digelapkan diambil dari berbagai sumber anggaran desa. Salah satunya untuk pembangunan fisik.

Modus pelaku, kata dia, dengan membangun jalan lingkungan. Tetapi pembangunannya fiktif dan tidak pernah dilaksanakan. “Total anggaran pembangunan fiktif ini mencapai Rp 175 juta. Warga sempat mengendus korupsi kades ini dan tersangka sempat mengembalikan uang Rp 160 juta,” ujarnya.

Namun uang untuk pengembalian tersebut bukan berasal dari dana pribadi tersangka. Namun diambil dari dana desa tahun 2018.

Deni menerangkan setelah dilakukan audit terhadap keuangan desa yang mencapai Rp 1 miliar lebih, ditemukan adanya penggelapan anggaran tersebut. Bukan hanya pembangunan fiktif, tersangka juga melakukan korupsi pada kegiatan lain. Seperti renovasi kantor desa, pembangunan irigasi dan kegiatan lainnya. Totalnya mencapai Rp 350 juta. (yna)

Loading...
loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.