Siapa Calon bupati Tasikmalaya pilihan anda?
17%

83%

Kejari Tasikmalaya Didesak Usut Dugaan Pemerasan Penerima Bantuan Hibah

69
0
JELASKAN. Kepala Kejaksaan Negeri (Kajari) Kota Tasikmalaya Lila Agustina memberikan penjelasan kepada massa dari Masyarakat Anti Penindasan (MAP) yang mendatangi kantornya, Senin (7/10). Firgiawan / Radar Tasikmalaya

BUNGURSARI – Sejumlah massa mengatasnamakan Masyarakat Anti Penindasan (MAP) mendatangi Kejaksaan Negeri (Kejari) Kota Tasikmalaya, Senin (7/10) pagi. Mereka meminta instansi tersebut menindak oknum wartawan dan staf kejaksaan, AA dan AR yang diduga memeras penerima bantuan hibah.

Perwakilan MAP Ustaz Syamsuri mengeluhkan adanya salah seorang penerima bantuan hibah 2017, dengan peruntukan pembangunan fisik madrasah di Kelurahan Tuguraja Kecamatan Cihideung meninggal dunia. “Almarhum sempat mengeluhkan ketika stigma di lingkungannya men-judge seolah dirinya menyelewengkan dana hibah, akibat adanya panggilan dari APH atas bantuan hibah yang diterima yayasannya,” kata dia kepada Radar, Senin (7/10).

Pria yang akrab disapa Ustaz Iri itu menyimpulkan almarhum yang baru kali pertama berurusan dengan aparat penegak hukum (APH) terbilang awam dengan pemeriksaan. Belum lagi, stigma yang terbangun di lingkungan sekitar membuat dia tidak nyaman dan tenang. Termasuk penerima hibah lain di Kecamatan Bungursari, mengeluhkan hal serupa.

Usai menjalani pemeriksaan, mereka merasa terintimidasi oleh oknum staf kejaksaan serta wartawan, yang terbilang intens menghubungi penerima bantuan hibah, tanpa menggunakan mekanisme sesuai aturan. “Masa mengundang bertemu via WhatsApp, bilang kalau tidak mau datang ke kejaksaan, kita yang datangi. Apalagi, saat saya berupaya mediasi dia menyebut nominal yang tidak elok diucapkan penegak hukum,” ucapnya.

Dia mengaku sepakat apabila APH berupaya menegakkan supremasi hukum di Kota Tasikmalaya. Menindak bentuk penyimpangan dari program pemerintah yang berupa bantuan hibah. Sayangnya, kehadiran dua oknum itu cukup mencederai citra penegak hukum di tengah dinamika yang terjadi di daerah.

“Rekan-rekan kami marah adanya sikap oknum tersebut, sebab para penerima ini belum ditetapkan secara hukum sebagai tersangka atau terdakwa, namun diperlakukan seperti itu. Sementara ada yang sudah ditetapkan tersangka masih tenang-tenang saja,” kata Iri memaparkan.

Pada audiensi tersebut, Kepala Kejaksaan Negeri (Kajari) Kota Tasikmalaya Lila Agustina mengatakan pemeriksaan dana hibah itu diawali adanya laporan dari YLBHI Kota Tasikmalaya, kaitan bantuan hibah pemkot. Kemudian, pihaknya menerbitkan surat penyelidikan pada 20 Juni 2019. “Memang sudah pemanggilan saksi-saksi,” tuturnya.

Dia mengakui perlunya penyuluhan hukum supaya masyarakat tidak merasa takut ketika dipanggil pihak kejaksaan dan tidak melakukan kesalahan apa pun. “Sebab ketika secara yuridis dugaan itu tidak ter­bukti otomatis tidak akan dilanjutkan, kalau ada pemerasan se­macam itu bisa laporan balik. Kita perlu penyuluhan terhadap masyarakat sebagai edukasi,” kata Lila.

Sementara itu, Kasi Intel Kejari Kota Tasikmalaya Hasbi Kurniawan menyebut dalam proses penyelidikan terdapat mekanisme. Adapun masyarakat mengeluhkan oknum yang melakukan dugaan pemerasan, memang sebaiknya melakukan pelaporan. “Kemudian diharapkan menyertakan bukti konkret supaya ke depan tidak menjadi fitnah juga,” kata Hasbi.

Dia menambahkan sesuai instruksi Kajari pihaknya akan menelusuri aduan masyarakat tersebut. Kemudian menindaklanjuti sesuai aturan yang berlaku. “Seperti yang disampaikan Ibu Kajari, nanti akan kami telusuri, apabila ada yang seperti itu (pemerasan, Red) akan ditindaklanjuti,” ucapnya.

Setelah dari Kejari Kota Tasikmalaya, massa tersebut juga mendatangi DPRD. Di gedung para legislator itu, mereka mengeluhkan hal yang sama kepada wakil rakyat. (igi)

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.