Kekerasan Pada Anak di Kabupaten Tasik Meningkat

144
0

MANGUNREJA – Dinas Sosial Pemberdayaan Masyarakat dan Desa, Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana (DPMDP3AKB) Kabupaten Tasikmalaya mencatat angka kekerasan terhadap anak mengalami peningkatan.

Sampai September 2020 terdapat sebanyak 55 kasus kekerasan terhadap anak yang terjadi di wilayah Kabupaten Tasikmalaya.

“Jumlah kasus kekerasan terhadap anak setiap tahunnya mengalami peningkatan. Sejak tahun 2017 tercatat 47 kasus kekerasan, tahun 2018 sempat menurun yakni sebanyak 36 kasus. Namun di tahun 2019 kembali melonjak mencapai 50 kasus dan tahun 2020 sekarang meningkat lagi,” ujar Kepala Bidang Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak pada DPMDP3AKB Kabupaten Tasikmalaya Yayah saat sosialisasi pencegahan kekerasan terhadap perempuan, Jumat (6/11).

Yayah mengatakan, terkait kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak yang paling banyak tercatat yaitu kasus kekerasan seksual. Banyak juga yang tidak melapor, entah karena malu itu aib atau takut melaporkannya.

“Yang paling dominan itu kasus kekerasan terhadap anak di bawah umur dan kekerasan terhadap perempuan itu seperti kekerasan dalam rumah tangga (KDRT). Ada juga penyebabnya karena ekonomi, kemiskinan, budaya, pendidikan, perceraian dan lainnya,” ungkapnya.

Menurut Yayah, kegiatan sosialisasi ini sebagai upaya untuk pencegahan kekerasan terhadap perempuan dan anak dengan sasaran kepala desa, tokoh agama, tokoh masyarakat, tokoh perempuan dan tokoh pemuda. Pihaknya pun membantu dalam penanganan dan pendampingan kasus, serta pembinaan forum anak daerah.

Yayah berharap dengan sosialisasi ini targetnya minimal bisa mengurangi atau mencegah terjadinya kekerasan terhadap perempuan dan anak, serta dengan sosialisasi yang nantinya disampaikan oleh para tokoh agama atau alim ulama karena mereka panutan bisa menusuk ke masyarakat.

“Kami ingin masyarakat lebih mengerti dan tahu untuk pencegahan kekerasan itu agar kekerasan terhadap anak dan perempuan khususnya di Kabupaten Tasikmalaya bisa menurun,” ucapnya.

Lanjut dia, salah satu yang dibahas juga soal bagaimana dukungan psikososial kepada korban dan pencegahan tindak kekerasan terhadap perempuan dan anak dan juga kebijakan dalam mengurangi tingkat kekerasan terhadap perempuan dan anak.

Ketua KPAID Kabupaten Tasikmalaya Ato Rinanto menambahkan, kekerasan terhadap anak data yang ada di KPAID lebih banyak. Karena, fakta di lapngan didominasi oleh cabul atau pelecehan seksual.

Baca juga : SMK NU Tasik Menuju Sekolah Vokasi CoE

“Pada pandemi Covid-19 ini kasus kekerasan terhadap anak terkait cabul tingkat persentasinya naik cukup signifikan,” ujarnya.

Kata dia, dari kekerasan itu harus ada perhatian dari semua pihak karena tren di Kabupaten Tasikmalaya setiap tahun selalu naik. Sehingga kalo pola penyelesainnya hanya normatif, artinya harus segera dikembalikan dengan cara gagasan dan ide-ide kreatif serta pola pikir inovatif.

“Harus cari cara bagai­ma­na sama-sama bisa meng­kolaborasikan pola koordinasi yang baik antara lembaga satu dengan yang lainnya itu, agar bisa bersama-sama mencegah kekerasan terhadap anak-anak agar tidak naik dari tahun ke tahun-tahun,” kata dia. (obi)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.