Kekeringan Ekstrem Ancam Indonesia

46
0
BPBD Kota Tasikmalaya DISTRIBUSI AIR. BPBD Kota Tasikmalaya mulai mendistribusikan air di Kelurahan Setiawargi Kecamatan Tamansari, Rabu (3/7).

JAKARTA – Kekeringan ekstrem mengancam sebagian wilayah Indonesia. Terutama pulau Jawa, Bali dan Nusa Tenggara Timur (NTT). Kondisi ini terpantau berdasarkan prakiraan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) yang menyebut Hari Tanpa Hujan (HTH) hingga 30 Juli 2019.

“Dari hasil analisis BMKG, teridentifikasi adanya potensi kekeringan meteorologis yang tersebar di sejumlah wilayah,” kata Deputi Bidang Klimatologi BMKG Herizal melalui keterangan tertulisnya, Kamis (4/7).

Pantauan BMKG, sejumlah wilayah di Indonesia telah mengalami bencana kekeringan. daerah-daerah tersebut di antaranya Sumedang (Jawa Barat), Gunung Kidul (Yogyakarta), Pemalang (Jawa Tengah), Magetan, Ngawi, Bojonegoro, Gresik, Tuban, Pasuruan dan Pamekasan (Jawa Timur).

Lebih lanjut, dia mengatakan potensi awas atau telah mengalami HTH lebih dari 61 hari dan prakiraan curah hujan rendah kurang dari 20 milimeter (mm) dalam 10 hari mendatang dengan peluang lebih dari 70 persen yaitu di Jawa Barat tepatnya Bekasi, Karawang, dan Indramayu.

Serta di Jawa Tengah yaitu Karanganyar, Klaten, Magelang, Purworejo, Rembang, Semarang, dan Wonogiri. Juga sebagian besar wilayah Jawa Timur dan DI Yogyakarta yaitu Bantul, Gunung Kidul, Kulonprogo, dan Sleman.

Selain itu, potensi kekeringan dapat terjadi di Buleleng (Bali), Nusa Tenggara Timur yaitu di Sikka, Lembata, Sumba Timur, Rote Ndao, Kota Kupang, dan Belu. Serta di Nusa Tenggara Barat tepatnya di Bima, Kota Bima, Lombok Timur, Sumbawa dan Sumbawa Timur.

Sementara status siaga atau telah mengalami HTH lebih dari 31 hari dan prakiraan curah hujan rendah kurang dari 20 mm dalam 10 hari dengan peluang lebih dari 70 persen di Jakarta Utara dan Banten tepatnya di Lebak, Pandeglang, dan Tangerang.

Sedangkan status waspada atau telah mengalami HTH lebih dari 21 hari dan prakiraan curah hujan rendah kurang dari 20 mm dalam 10 hari dengan peluang lebih dari 70 persen di Aceh tepatnya di Aceh Besar, Pidie dan Bireuen.

Di Jambi yaitu di Merangin, Batanghari dan Bengkayang, Way Kanan di Provinsi Lampung, Pulangpisau di Kalimantan Tengah, Bengkayang di Kalimantan Barat serta di Bantaeng, Selayar, dan Takalar di Provinsi Sulawesi Selatan.

Untuk mengatasi bencana kekeringan di sejumlah daerah, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) melalui Balai Besar Teknologi Modifikasi Cuaca telah menyiapkan strategi pelaksanaan teknologi modifikasi cuaca (TMC).

“Kami baru dikontak Kementerian Desa Pembangunan Daerah Teringgal dan Transmigrasi mengenai kemungkinan dilaksanakan TMC di berbagai daerah di wilayah Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara. Detil daerahnya belum diinfokan, namun dilaporkan sejumlah daerah di tiga wilayah tersebut mulai alami kekeringan,” ungkap Kepala BPPT Hammam Riza, kemarin (4/7).

Selain wilayah tersebut, Badan Pengusahaan Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Batam meminta dilaksanakan TMC.

Sedikitnya terdapat lima sampai enam waduk di Pulau Batam yang mengalami mengalami defisit pasokan air, akibat kemarau panjang dan anomali iklim. “Padahal waduk-waduk tersebut menjadi sumber utama pasokan air baku untuk sekitar 1,4 juta penduduk Batam,” kata dia.

Indramayu telah melayangkan surat pada Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengenai permintaan dilaksanakan TMC karena kondisi di wilayahnya yang memprihatinkan.

“Hingga pertengahan Juni lalu, tanaman padi yang terancam kekeringan di Kabupaten Indramayu sudah mencapai ribuan hektare,” ungkap Hammam.

Kepala Balai Besar Teknologi Modifikasi Cuaca (BBTMC) Tri Handoko Seto mengatakan sejak awal tahun saat curah hujan masih tinggi sudah mengimbau institusi, baik pemerintah maupun swasta untuk bersama-sama mengantisipasi musim kemarau. Pihaknya meminta agar instansi terkait melakukan TMC pada masa transisi dari musim hujan ke musim kemarau.

“Sebenarnya kami sejak awal tahun, sudah bergerilya ke beberapa institusi baik pemerintah maupun swasta untuk bersama-sama mengantisipasi musim kemarau dengan melakukan TMC pada masa transisi dari musim hujan ke musim kemarau,” ujarnya.

Jika TMC antisipasi kekeringan dilakukan tepat waktu sebelum masuk musim kemarau, maka hasilnya akan sangat efektif dan efisien.

“Kami ingin meniru cara Thailand dengan memastikan semua waduk dan danau terisi penuh ketika menjelang musim kemarau sehingga persediaan air bisa dimanfaatkan selama musim kemarau. Namun kenyataannya, persepsi TMC di masyarakat luas dan pemangku kepentingan, belum terbentuk dengan baik,” ungkap Seto.

Kabid Pelayanan Teknologi Modifikasi Cuaca BBTMC Sutrisno mengatakan saat ini tengah dibuat kajian untuk dilaksanakan TMC di wilayah-wilayah yang dilaporkan mengalami kekeringan.

“TMC akan efektif kalau di daerah target masih banyak peluang akan munculnya awan-awan potensial. Untuk musim transisi munculnya awan potensial masih memungkinkan, tapi untuk puncak kemarau memang akan relatif sulit untuk ditemukan awan-awan potensial. Kemungkinan hanya ada awan-awan orografis yang berada di lereng-lereng gunung,” tandasnya.

Oleh karena itu, BBTMC selalu mengimbau kepada pengelola waduk, danau atau embung agar melaksanakan TMC di akhir musim penghujan agar tinggi muka air maksimal .

“Sehingga dapat memiliki cadangan air cukup pada periode kemarau untuk keperluan irigasi, pasokan air baku dan lain sebagainya,” pungkas dia.

Sulit Dapat Air Bersih

Ari bersih di Kampung Ciluncat RW 09 Kelurahan Setiawargi Kecamatan Tamansari semakin sulit didapatkan. Sumber-sumber mata air pun sudah kering.

Pengurus Karang Taruna Kecamatan Tamansari Bidang Penanganan Sosial dan Kebencanaan Agus Jarwo menjelaskan, sudah sekitar satu minggu terakhir, warga di kampung tersebut mengalami kesulitan air bersih. “Sumber-sumber air yang biasanya digunakan warga seperti sumur dan lainnya sudah mulai mengering,” tuturnya kepada Radar, Rabu (3/7).

Menurutnya, fenomena itu mulai melanda di beberapa titik wilayah Kecamatan Tamansari. Pihaknya saat ini terus menampung informasi dalam memetakan titik-titik yang harus segera ditangani. “Kita terus memantau terhadap pengurus di seluruh kelurahan supaya intens berkoordinasi dalam memudahkan informasi kaitan kesulitan air bersih,” kata dia.

Dia menjelaskan berdasarkan catatan tahun ke tahun, titik yang rawan mengalami kesulitan air bersih seperti Kelurahan Setiawargi, Tamansari, Tamanjaya dan Setiamulya. Namun, sejauh ini baru terjadi kesulitan air di wilayah Setiawargi. “Memang kelurahan lain setiap kemarau panjang pasti kesulitan air. Tetapi untuk saat ini Kelurahan Setiawargi harus diantisipasi, sebab Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) bukan kali pertama kirim air ke sini, tapi setiap kemarau,” tutur dia.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Tasikmalaya pun mulai mendistribusikan air bersih. Satu tangki berisi 5.000 liter air didistribusikan di wilayah tersebut. “Kami baru memulai pendistribusian. Untuk hari ini dilaksanakan di Kelurahan Setiawargi dan di Kampung Urug Babakan Kawalu masing-masing satu tangki berisi 5.000 liter,” kata Koordinator Pusdalop BPBD Kota Tasikmalaya Harisman. (gw/fin/igi)

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.