Kelola Sektor Migas Rawan Masuk Bui

27
0
Ignasius Jonan

JAKARTA – Menteri Energi Sumber Daya dan Mineral Ignasius Jonan menyebutkan pengelolaan sektor migas memiliki risiko yang sangat tinggi. Artinya rawan akan mengalami kerugian dan berujung masuk penjara.

“Banyak unsur ketidakpastian ya, misalnya eksplorasi sumur minyak baru di perut bumi perlu biaya besar dan ada kemungkinan gagalnya juga besar,” ungkap Jonan dalam seminar nasional bertajuk ‘Memetakan Makna Risiko Bisnis dan Kerugian Keuangan Negara di Sektor Migas’, di Jakarta, kemarin (22/7).

Lanjut Jonan, bisnis di sektor migas juga rawan masuk ke ranah hukum jika salah perhitungan.

‘’Jika dalam pencarian sumber daya ini gagal kadang dianggap sebagai kerugian negara sampai masuk ke pidana, padahal ini lazim dalam sektor migas,” ujar Jonan.

Menurut mantan Menteri Perhubungan itu, tingkat kesulitannya sangat besar untuk menghitung migas di dalam bumi. “Coba aja kalau tidak percaya yang sekolah hukum masuk ke dalam perut bumi, kan gak bisa semua kita juga dari estimasi perhitungan jadi semuanya ada unsur ketidakpastiannya,” ucap Jonan.

Untuk itu, dia menyarankan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) agar merekrut tenaga ahli dari Kementerian ESDM yang paham dengan bisnis ini. “Karena kalau bisnis ini tidak dipahami dengan benar teknisnya, pencarian cadangan migas bisa terhambat karena orang-orang akan takut dipidana karena merugikan negara,” tutur Jonan.

Selain itu, kata Jonan, harus didukung dengan teknologi andal untuk memperoleh lokasi eksplorasi yang tepat dan pemanfaatan sumur temuannya. “Apa yang terkandung di perut bumi gak bisa diperiksa dengan pasca kandungan yang P1 proven-nya berapa, karena cadangan minyak kita makin lama makin berkurang,” ungkap Jonan.

Dosen ITB Tutuka Ariadji menambahkan saat ini diperlukan eksplorasi sumur baru, karena konsumsi minyak dan produksi terus menunjukkan selisih yang makin tajam sekitar 1 juta barel.

Terakhir blok cepu, yang sekarang menjadi blok penghasil minyak terbesar di Indonesia.

Sebelum beproduksi oleh ExxonMobil, Blok Cepu pada 30-40 tahun lalu sudah pernah dieksplorasi oleh PT Pertamina (Persero) dan Humpuss. Sayangnya, kala itu perusahaan tersebut tak menemukan cadangan minyak yang dicari.

Lalu diserahkan ke pemerintah dan diberikan ke Exxon (lelang). Sekarang produksinya lebih besar dari produksi Blok Mahakam. “Ini satu fakta semuanya tergantung teknologi, seismik, dan sebagainya,” ungkap dia.

Tutuka menerangkan setiap sumur memiliki keunikan sendiri ada recovery cost yang berbeda tidak bisa disamakan termasuk juga teknologi pengambilannya apakah dengan injeksi CO2 seperti prinsip Coca cola atau injeksi surfaktan.

“Melalui teknologi kita akan mengoptimalkan berapa jumlah sumur yang hasilnya paling besar termasuk biaya recovery cost yang paling sedikit untuk memenuhi kebutuhan cadangan minyak kita,” jelas Tutuka.

Sementara itu, Staf BPK Rizal Jalil mengatakan ketika pihaknya melakukan investasi selalu melibatkan pakar di bidangnya sehingga hasilnya tidak merugikan semua pihak, termasuk negara.

“BPK tetap memerlukan pendapat ahli. Karena BPK belum berpengalaman sebetulnya untuk menghitung kerugian negara di sektor migas,” ungkap Rizal.

Dia memastikan penghitungan migas ini tidak ada konflik kepentingan karena dilakukan secara profesional. “Saya sarankan untuk meningkatkan penerimaan pajak untuk sektor migas khususnya sebaiknya Direktorat Jenderal Pajak ditingkatkan menjadi badan, seperti halnya BNN karena kita saat ini sudah darurat narkoba,” pungkas dia.(ds/din/fin)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.