Keluarga Besar Pontren Miftahul Huda Tasik Kehilangan Sosok Komandan Besar

1204
0

KABUPATEN TASIK – Keluarga besar Pesantren Ponpes Miftahul Huda, Manonjaya, Kabupaten Tasikmalaya, kehilangan salah satu dewan kyai, Selasa (10/12) dini hari.

Adalah, KH Jaja Abdul Jabbar. Menjnggal sekitar pukul 02.20 WIB. dunia di rumahnya.

Pantauan radartasikmalaya.com di lokasi, sejak pukul 09.00 WIB, ribuan santri dan para pelayat turut mengantar pemakaman KH Jajaj Abdul Jabbar yang dimakamkan di dalam area pesantren.

KH Jaja, wafat diusia 61 tahun. Almarhum lahir pada 8 Agustus 1958. Beliau meninggalkan seorang istri, 7 anak dan 1 putra angkat.

Ketujuh anaknya itu adalah; KH Hahmi Zamzam Zawahiril Huda, KH Dikri Abdul Latif, KH Rafri Musyafa, H Sidqi, H Kahfi, Fakhri, Nayla dan putra angkatnya, Rizki.

Ketua Umum Himpunan Alumni Miftahul Huda (Hamida) Indonesia, KH Dudung Abdullah Faqih mengatakan, kondisi kesehatan KH Jaja yang sudah dianggap dia seperti ayahnya sendiri sejak 2 bulan ini menurun drastis.

“Almarhum menderita penyakit jantung koroner dari tahun 2002. Mestinya jantungnya di ring, tapi beliau enggan melakukan itu. Sudah 2 bulan ini sudah ngedrop,” ujar KH Dudung yang ditemui radartasikmalaya.com.

“Jadi sejak 2002, dari 3 saluran jantung almarhum, yang berfungsi hanya 1. Dan fungsi saluran jantung yang hanya 1 itu kata dokter hanya sekitar 15 persen. Tapi Almarhum sangat kuat. 6 dokter yang pernah memeriksa kesehatan beliau mengakui, almarhum sangat kuat,” sambungnya.

Terang dia, KH Jaja sendiri selama 17 tahun berkiprah di Hamida. Beliau menjabat sebagai Ketua Umum Hamida setelah beberapa bulan lalu karena kondisi kesehatannya menurun, tongkat komando pimpinan Hamida berpindah kepadanya. “Kami, keluarga besar Hamida sangat kehilangan sosok beliau,” terangnya.

Beber dia, yang pasti hari ini Hamida kembali berduka atas wafatnya salah satu dewan kyai dan guru besar yang menjadi 9 pilar di Pondok Pesantren Miftahul Huda. “KH Jaja Abdul Jabbar ini adalah paman kami yang biasa berbagi suka dan duka bersama sebagai sosok seorang ayah. Tetapi beliau juga sosok guru besar yang memang penuh dengan suri tauladan,” bebernya.

Bisa juga, tambah dia, sosok almarhum adalah bukan sekadar guru besar biasa. “Tapi beliau juga adalah komandan besar dalam satu gerbong besar dalam wadah Hamida. Kurang lebih 17 tahun beliau mengemban tugas sebagai ketua umum Hamida dan baru beberapa bulan ini beliau istirahat dari jabatan ketua umum Hamida. Dan dilimpahkan tongkat ketua itu kepada saya,” tambahnya.

Jelas dia, kurang lebih selama 100 hari sampai hari ini dirinya terus menerus menelusuri tanaman-tanaman yang telah ditanam oleh almarhum.

“Dari mulai titik nol Medan, Sabang, sampai ke setengah pulang Jawa Tengah. Kita hanya ingin melihat, tanaman apa saja yang telah ditanamkan oleh almarhum. Peribahasa mengatakan, lautan itu dalam tetapi setelah kita tenggelam dan karam di lautan tersebut kita semakin yakin bahwa lautan itu benar-benar dalam,” jelasnya.

Tukas dia, dan hari ini semua pihak mengetahui bahwa jaringan yang dimina dan dipimpin beliau yaitu Hamida diketahui besar gerbongnya dan jumlah anggotanya yang luar biasa banyak.

“Tapi setelah saya berkeliling menelusuri tanaman beliau, saya yakin bahwa beliau orang yang sukses dan hebat untuk membuat sebuah jaringan yang sangat luar biasa. Jadi, minimal pada hari ini kita kehilangan tiga sosok penting dalam kehidupan secara kelembagaan kepesantrenan, ataupun dalam tatanan organisasi masalah jaringan, ataupun dalam konteks keguruan. Hari ini kita kehilangan guru besar, hari ini kita kehilangan komandan besar, dan hari ini kita kehilangan sosok ayah serta bapak yang baik,” tukasnya.

(rezza rizaldi / radartasikmalaya.com)

loading...
Halaman

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.