Kemenag Kota Tasik Mengimbau : Santri Luar Kota Dilarang Pulang

167
0
RAPAT. Kepala Kemenag H Hilmi Riva’i MPd (kanan) memimpin rapat persiapan pemberangkatan jemaah haji di kantornya, Selasa (2/7). RANGGA JATNIKA / RADAR TASIKMALAYA

TASIK – Menindaklanjuti Surat Edaran (SE) Wali Kota Tasikmalaya mengenai penanganana wabah virus Corona. Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kota Tasikmalaya langsung melakukan koordinasi dengan jajaran RA, MI, MTs, MA serta Madrasah Diniyah Takmiliyah Awaliyah (DTA) termasuk pengurus pondok pesantren se-Kota Tasikmalaya.

Kepala Kemenag Kota Tasikmalaya H Hilmi Rivai mengatakan salah satunya pembahasan yakni penanganan covid-19 di lingkungan pondok pesantren, pihaknya pun telah berkoordinasi dengan Forum Pondok Pesantren (FPP).

“Kita mengambil keputusan bahwa santri yang jauh (luar Tasikmalaya, Red) tidak diperkenankan pulang. Dan melarang orang tua santri selama 14 hari menengok atau mengunjungi anaknya di ponpes,” ujarnya usai rapat koordinasi di Kantor Kemenag Kota Tasikmalaya, Senin (16/3).

Namun, kata dia, pihaknya tidak menghentikan peribadatan di rumah ibadah seperti masjid. Terutama untuk salat Jumat, karena telah berkoordinasi dengan Dewan Masjid Indonesia (DMI) Kota Tasikmalaya untuk membersihkan karpet dan lainnya.

”Jadi tidak ada penghentian aktivitas di masjid,” tuturnya.

Baca Juga : Pintu Kota Tasik Masih Terbuka, WNA dan Warga dari Luar Diawasi

Selain itu, kata Hilmi, pihaknya pun telah menginstruksikan Kepala Seksi Penyelenggara Haji dan Umrah Kemenag Kota Tasikmalaya untuk mendata jumlah berapa orang warga Kota Tasikmalaya yang baru pulang melaksanakan ibadah umrah.

“Karena menurut informasi Dinas Kesehatan Kota Tasikmalaya tercatat jamaah umrah 200 orang yang sudah pulang, tapi data yang dimiliki kami hanya sebanyak 95 orang,” tuturnya.

Perbedaan data ini, kata Hilmi, kemungkinan adanya jamaah umrah yang berangkat secara mandiri atau tidak melakukan pemberangkatan travel umrah di Kota Tasikmalaya.

“Khusus pemantauan untuk yang pulang dari umrah itu yang melaporkan sakit, baik ke puskesmas atau dokter private. maka dimasukkan kriteria (orang dalam pemantauan, Red). Tapi 200 orang yang pulang dari umrah belum ada yang melaporkan sakit sampai 28 hari ini,” katanya.

Diminta Ikut Aturan

Kementerian Agama (Kemenag) mengimbau agar Pendidikan Islam menyesuaikan dan bersinergi dengan kebijakan yang diterapkan pemerintah daerah dalam mencegah penyebaran Corona virus (Covid-19).

Menteri Agama (Menag), Fachrul Razi mengatakan upaya mencegah penyebaran virus Corona harus dilakukan secara sinergis oleh semua pihak. Ia juga meminta, Perguruan Tinggi Keagamaan (PTK) mengambil kebijakan tegas yang diperlukan untuk mencegah penyebaran virus mematikan tersebut.

“Jika sudah diperlukan, berlakukan belajar mengajar jarak jauh. Batasi dosen dan mahasiswa ke kampus, sampai keadaan membaik”, tegas Menag, Senin (16/3).

Fachrul juga meminta kepada pengelola pendidikan agama dan keagamaan bersinergi dan menyesuaikan dengan kebijakan Kemendikbud dan Pemerintah Daerah.

“Jika Pemda sudah memberlakukan pembelajaran jarak jauh, Pendidikan Agama dan Keagamaan agar menyesuaikan. Madrasah dan sekolah-sekolah agama bisa menerapkan sistem belajar di rumah bagi murid-muridnya,” terangnya.

Baca Juga : Masjid Agung Kota Tasik Terbuka Bagi Umat

Terlebih lagi, kata Fachrul, Kemenag dalam waktu dekat akan menggelar Ujian Akhir Madrasah Berstandar Nasional (UAMBN) Berbasis Komputer. Untuk daerah yang aktivitas pendidikan di sekolahnya sudah ditutup, akan dilakukan ujian secara khusus setelah masa liburan berakhir.

“Pelaksanaan Ujian Nasional akan mengikuti kebijakan Kemendikbud, jika jadwalnya bertepatan dengan kebijakan daerah menutup aktivitas belajar di sekolah,” terangnya.

“Madrasah dan Pondok Pesantren yang berbasis asrama/ma’had/pondok pesantren, Kemenag minta membatasi aktivitas siswa/santri di luar asrama. Jika memungkinkan orang tua/wali santri tidak menjenguk terlebih dahulu,” imbuhnya.

Selain itu, madrasah berbasis asrama dan pesantren juga diminta mengambil langkah-langkah pencegahan penyebaran virus COVID-19. Caranya, dengan melakukan edukasi kepada siswa/santri agar melakukan cuci tangan pakai sabun, membersihkan lingkungan asrama, menggulung karpet masjid/musholla, dan mengikuti protokol yang ditetapkan oleh Pemerintah.

“Madrasah berasrama dan pesantren agar menyiapkan hand sanitizer dan memastikan orang yang keluar masuk asrama/komplek terbebas dari corona dengan melakukan pemeriksaan tempratur,” tuturnya.

Lembaga Pendidikan Islam, sambung Fachrul, diminta mengintensifkan koordinasi dengan Puskesmas atau Fasilitas Kesehatan lainnya. Itu penting dilakukan dalam rangka pencegahan penyebaran virus COVID-19 di lingkungan madrasah dan pondok pesantren.

“Apabila terdapat siswa/santri/guru/lainnya yang mengalami gejala virus COVID-19, agar segera berkoordinasi dengan Puskesmas/Fasilitas Kesehatan lainnya terdekat,” pungkasnya. (riz/fin/der)

Loading...
loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.