Kenaikan Pertamax Bukan Tanpa Risiko

2

Siapa Presiden Pilihan Mu ?

TASIK – Efek kenaikan harga BBM non subsidi belum berdampak kepada penurunan konsumen Pertamax. Namun demikian naiknya harga BBM tetap bisa berefek terhadap perekonomian masyarakat kecil.

Pengamat Ekonomi Tasikmalaya Prof Dr H Kartawan SE MPd menilai kenaikan harga BBM non subsidi bukan tanpa risiko. Perlu diketahui bahwa ketersediaan BBM bersubsidi sangat terbatas sehingga sebagian masyarakat terpaksa menggunakan BBM non subsidi.

“Akibatnya orang yang berhak akan BBM bersubsidi harus menggunakan BBM non subsidi,” ungkapnya kepada Radar, Kamis (11/10).

Efek domino dari kenaikan Pertamax, kata dia, pada akhirnya berpotensi membuat harga barang naik karena biaya transportasi meningkat. Maka dari itu, kenaikan BBM non subsidi tetap bisa berdampak kepada perekonomian masyarakat kecil. “Efek dominonya akan mendorong naiknya harga barang yang menggunakan transportasi,” katanya.

Sementara itu, dampak kenaikan harga terhadap penjualan Pertamax belum terlihat. Seperti halnya di SPBU 34 46104 Jalan SL Tobing Kecamatan Cihideung Kota Tasikmalaya. Dimana antrean konsumen Pertamax masih terlihat.

Supervisor SPBU  34 46104 Hendra Gunawan mengatakan tidak melihat ada penurunan pembelian pasca naiknya harga BBM non subsidi. Karena menurutnya, konsumen lebih mementingkan ketersediaan dari pada harga. “Kebanyakan yang penting ada, harga biasanya nomor sekian,” tuturnya.

Salah seorang konsumen Pertamax, Ishak Farid  (30) mengaku tetap memilih BBM non Subsidi meski harganya naik. Menurutnya, kenaikan harga BBM merupakan hal yang wajar dan sudah biasa terjadi. “Memang berat sih, tapi setiap tahun juga suka naik kan,” tuturnya.

Namun demikian, menurut warga Jatiwaras, Kabupaten Tasikmalaya itu harus ada konsekuensi positif atas kenaikan harga bahan bakar. Di antaranya adalah upah atau gaji pegawai yang harus lebih disejahterakan supaya sesuai dengan pengeluaran. Di tambah ekonomi harus dibenahi. “Supaya perusahaan-perusahaan maju, dan honor pegawai meningkat juga,” katanya.

Warga lainnya, Rini Sri Wulandari mengaku sering gonta-ganti jenis bahan bakar. Jika ada uang lebih dia selalu membeli Pertamax karena dari segi kualitas lebih bagus daripada Premium atau Pertalite. Namun dengan kenaikan harga yang terbilang cukup tinggi, dia menyerah. “Ya kalau sekarang mah mahal, jadi pakai Pertalite saja,” pungkasnya. (rga)

loading...