Pengakuan Mantan Bandar Ganja Tasikmalaya

Kenal Pil BK Sejak SD, Dipenjara Dapat Rp 300 Juta

59

Siapa Presiden Pilihan Mu ?

Keluar dari kungkungan obat-obatan terlarang tidaklah mudah. Berkali-kali dipenjara tidak membuat kapok. Apalagi berperan sebagai bandar narkoba. Banyak uang melimpah dari penjualan barang haram. Namun, tekad pribadi yang kuat telah menuntun AY keluar dari dunia hitam.

Rangga Jatnika, Tasikmalaya

MASA kecil AY tidaklah seberuntung kebanyakan anak-anak lainnya. Orang tua dan saudara-saudaranya merantau ke Jakarta. Mencari uang. Pria kelahiran Tasikmalaya 1980 ini pun hidup sendiri.

Dalam kesendirian itu, AY bebas bergaul dengan siapa pun. Sejak duduk di kelas III SD, dia sudah nongkrong dengan orang-orang dewasa. Saat itulah kenal obat terlarang. Yakni pil BK.

Saat itu, AY hanya sebatas tahu pil BK. Belum menjadi pemakai. Semenjak naik kelas VI, dia mulai disuruh pemuda di lingkungannya untuk membeli pil BK.

Saat itu, untuk lima butir harganya Rp 1.000. Nominal tersebut terbilang sangat besar di zamannya.

AY kecil tahu betul bahwa penyalahgunaan pil BK itu dilarang aturan. Namun, dia melihat ada peluang bisnis. Dia pun mulai belanja sendiri untuk dijual.

Mencari duit dengan jalan haram ini terpaksa dia lakukan karena jauh dari orang tua. Butuh uang jajan.

Selepas lulus dari SD, AY pun masuk SMP. Namun, dia tidak betah sekolah. Sehingga memutuskan untuk tidak melanjutkan.

“Hanya seminggu, kabur karena dites mengaji,” katanya.

Putus sekolah membuat hidup AY semakin tak karuan. Dia telah menjadi pemakai obat terlarang. Bahkan mulai menghisap ganja. Untuk pemenuhan biaya kehidupan sehari-hari pun mengandalkan penjualan obat.

Pada 1999 atau ketika menginjak usia 19 tahun, AY apes. Aktivitas menjual pil secara senyap terendus aparat.

Dia ditangkap aparat saat melaksanakan transaksi jual beli obat-obatan terlarang. Moncong pistol tiba-tiba menempel di belakang kepala. “Polisinya nyamar jadi tukang becak,” tuturnya.

AY merasa ngeri masuk penjara. Dia bertemu dengan banyak pemakai dan pengedar narkoba. Lama kelamaan, di sel itu dia merasa nyaman karena menambah banyak teman.

Pada 2001, dia bebas. Ilmu bisnis narkoba meningkat. Satu kali dipenjara tidak membuatnya kapok. Dia kembali mengedarkan obat-obatan terlarang.

Tidak hanya pil BK. Tapi pil lexotan. Pil ini didapat dari relasinya saat bertemu dalam penjara.

Aktivitas AY di dunia hitam masih terpantau oleh aparat. Dia berkali-kali menjadi buronan. Bahkan harus kabur ke luar daerah menghindari perburuan polisi. Setelah di tempat pelarian merasa aman, dia kembali ke Tasikmalaya.

Setelah tiga tahun berkeliaran, pada 2004, dia kembali diciduk polisi dengan kasus yang sama. Dia pun kembali meringkuk di tahanan hingga 2008.

Bahkan, dia sempat dipindah ke Lapas Banceuy, Bandung. Di lapas ini, dia tidak hanya memakai ganja, tetapi juga menggunakan sabu dan putau.

Bebas pada 2008, AY belum berhenti berbisnis di dunia hitam. Selain menjual obat, dia pun mengedarkan ganja. Hasil penjualan barang haram ini memberinya banyak uang.

Suatu ketika, AY mulai merasa lelah menjalani kehidupan kelam itu. Dia tak pernah merasa tenang. Apalagi selalu menjadi buronan.

“Kalau lihat polisi bawaannya takut. Padahal, enggak tahu mereka sedang apa dan mau apa,” katanya.

Saat itu, dia memutuskan untuk berhenti berjualan narkoba. Untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari, dia membuka rental PlayStation (PS), jual beli burung dan handphone. Namun, meski tak lagi mengedarkan barang haram, dia masih menjadi pemakai.

“Saya lupakan masa lalu dan tidak lagi menjual yang begituan (narkoba),” tuturnya.

Seiring berjalannya waktu, pada 2010, teman baiknya dari luar Tasik ingin membeli ganja kepadanya. Padahal dia sudah tidak berdagang lagi.

Namun, temannya itu terus memaksa. Akhirnya AY luluh. Dia langsung meminta ganja ke salah seorang bandar. Saat itu, dia diberi satu kilogram.

Teman baiknya hanya membeli ganja 0,5 kilogram. AY pun mewanti-wanti kepada temannya bahwa dia tidak akan lagi menjual ganja. Sementara, sisa ganja yang tidak terjual dipakai ramai-ramai bersama teman lainnya.

Di waktu kemudian, orang yang sama kembali datang dan meminta barang lagi. Lagi-lagi AY luluh dan meminta ganja ke bandar.

Upayanya untuk berhenti menjual ganja gagal. Dia kembali menjadi pengedar. Bahkan jumlahnya semakin besar. Saat itu, AY bisa tergolong sebagai bandar. “Saya pernah bawa ganja sampai 10 kg,” tuturnya.

Kembali menjual ganja, kembali ke penjara. Masih di 2010, dia divonis 1,5 tahun penjara. Di dalam penjara, dia bisa mengendalikan peredaran narkoba. Namun sudah tidak lagi menjadi pengguna.

“Meskipun dalam penjara, saya sampai bisa mengumpulkan uang Rp 300 juta,” jelasnya.

Namun, bisnisnya dipenjara tercium aparat. Terlebih lagi dia nekat memasukkan ganja ke dalam lapas. Akibatnya masa tahanannya pun ditambah lima tahun lagi.

“Padahal tiga bulan lagi mau bebas, tapi malah ketahuan,” tuturnya.

Pada 2015 AY bisa bebas lagi. kali ini dia menguatkan komitmennya untuk berhenti mengedarkan dan memakai narkoba.

Dia pun rela bekerja serabutan. Kadang bikin kursi, ikut proyek pengaspalan sampai jadi kuli bangunan. Bahkan beberapa pemakai narkoba kerap kali mem-bully-nya.

Apalagi dia sudah punya nama besar sebagai bandar. Kebesaran namanya di dunia hitam tercoreng dengan pekerjaannya yang tak menentu. Emosi sudah pasti. Tapi dia benar-benar berkomitmen untuk meninggalkan dunia hitam itu.

Seiring berjalannya waktu, kehidupannya semakin baik. Dia menjalin rumah tangga dan dikaruniai seorang anak. Sempat terbesit hasrat untuk kembali menjadi bandar. Namun rasa itu selalu ditekan supaya hilang.

Dari pengalamannya, tekad meninggalkan dunia narkoba harus lahir dari keinginan diri sendiri. Perlu pula dukungan dari pihak luar khususnya ketika seorang narapidana narkoba keluar dari penjara.

Mereka perlu diberdayakan. Setidaknya punya pekerjaan halal untuk mencari nafkah.

“Karena mereka bingung mau nyari duit dari mana, jadinya balik lagi,” ungkapnya. (*)

CALEG KITA

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.