Kerugian Akibat Bencana Rp 22 M

19

Siapa Presiden Pilihan Mu ?

CIAMIS – Kerugian akibat bencana alam di Kabupaten Ciamis mencapai Rp 22 miliar. Itu data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Ciamis dari Januari hingga Oktober 2018.

Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Kabupaten Ciamis Ani Supiani ST MSi menjelaskan kerugian Rp 22 miliar itu akibat kerusakan yang ditimbulkan kebakaran, puting beliung, banjir, longsor dan sebainya.

Sampai saat ini, kata Ani, angka bencana alam di Ciamis tetap masih tinggi. Ciamis juga tercatat rangking 16 rawan bencana di Indonesia dan ke-5 di Jawa Barat.

“Terlebih kita ketahui bahwa sekarang sudah memasuki hujan, makanya semua masyarakat diimbau selalu meningkatkan kewaspadaan,” terang Ani kepada Radar di kantor BPBD Ciamis , Kamis siang (8/11).

Berdasarkan informasi yang diterima BPBD dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Badan Giologi (PVMBG) pada bulan November 2018, di 27 kecamatan di Kabupaten Ciamis, terdapat 25 kecamatan yang berpotensi terjadi pergerakan tanah. Ada yang masuk kategori pergerakan tanah menengah dan tinggi.

Daerah yang masuk kategori pergerakan tanah tinggi yakni di Ciamis utara. Seperti Kecamatan Cihaurbeuti, Tambaksari, Panumbangan, Panawanga, Panjalu, Sindangkasih dan Cikoneng.

“Untuk sisanya itu relatif kategori retakan tanah menengah. Kita ketahui kebanyakan pemukiman yang berada di kaki Gunung Sawal,“ jelas Ani .

Ani pun menyampaikan bahwa Ciamis bagian selatan terbilang menjadi titik rawan bencana banjir. Itu akibat luapan sungai-sungai. Terutama dari sungai besar Citanduy.

Kawasan yang masuk kategori rawan banjir, yaitu Lakbok, Banjarsari, Pamarican dan Purwadadi.

“Makanya di musim hujan ini, BPBD mewaspadai wilayah selatan menjadi potensi banjir,” ujarnya.

Hujan yang mengguyur sejak Senin sampai Rabu (5-7/11), sebelumnya, menyebabkan bencana banjir dan longsor di Kecamatan Sukadana, Pamarican dan Banjaranyar. Untungnya bencana alam ini tidak menimbulkan korban jiwa.

Adapun bencana alam di Sukadana berupa longsor Sungai Cigebud sepanjang 10 meter pada Senin (5/11) sekitar pukul 17.00. Lokasi tepatnya di Dusun/Desa Bunter. Akibat longsor ini sekitar 50 hektare sawah tidak teraliri air. Karena sungai terbelah. “Beruntung dalam kejadian itu, jauh dari pemukiman masyarakat sehingga tidak sampai terjadi banjir bandang,” terang Ketua Taruna Siaga Bencana (Tagana) Kabupaten Ciamis Ade Waluya.

Di Kecamatan Pamarican, tepatnya di Dusun Sukasari RT 13 RW 04 Desa Sukajadi, bagian belakang rumah milik Mustolih (40) ambruk pada Selasa (6/11) sekitar pukul 23.00. Runtuhnya bangunan ruang belakang ini tidak menelan korban jiwa. Karena penghuni saat kejadian tengah berada di ruang depan. Rumah ini bisa ambruk diguyur hujan lantaran sudah lapuk. “Saat ini korban bertahan. Hanya saja bagian belakang rumahnya sementara ditutup terpal,” jelas Ade.

Sementara, di Kecamatan Banjaranyar, Sungai Cikaso meluap pada Rabu (7/11) sekitar pukul 06.00. Luapan air ini menggerus beronjong pinggir sungai. Tahun lalu di kawasan ini juga ada rumah yang tergerus sungai. Bahkan jembatan juga terputus. “Kami imbau kepada masyarakat di sana untuk meningkatkan kewaspadaan. Mengingat di lokasi di sana rawan tergerus air sungai,” papar Ade.

Menurut Ade, 27 kecamatan yang ada di Ciamis termasuk daerah rawan bencana. Namun, daerah yang tingkat kerawanannya sangat tinggi berada di 17 kecamatan. “Untuk itu kami imbau kepada masyarakat agar lebih meningkatkan kewaspadaan,” ungkap Ade. (isr)

CALEG KITA

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.