Kerugian Gempa Sulteng Rp 10 T

6
ROBOH. Bandara Mutiara Sis Al-Jufri di Palu mengalami keretakan sepanjang 300 meter. Masih tersisa 2.000 meter landasan pacu di bandara itu yang masih bisa digunakan.

JAKARTA – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) memastikan kerugian akibat gempa bumi dan tsunami di Sulawesi Tengah (Sulteng) lebih dari Rp10 triliun.

Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB, Sutopo Purwo Nugroho nilai kerugian tersebut merujuk pada bencana di Lombok yang menelan biaya Rp18,8 triliun.

Alasannya karena tingkat keparahan di Sulteng tak jauh berbeda dengan yang terjadi di Lombok.

“Di samping proses evakusi berlangsung, kami juga telah menurunkan tim untuk menghitung kerugian, dampak dari gempa dengan metode quick qount,” ujarnya

Data tersebut, kata dia, tentu akan bergerak dinamis, dengan melihat aspek dari kerusakan bangunan, infrastruktur dan sektor ekonomi produktif, rasio penduduk dan aspek lainnya.

“Metode ini juga diterapkan pada percepatan pembangunan yang dilakukan di Lombok hingga 2020,” paparnya.

Untuk saat ini, fokus percepatan pemulihan adalah infrastruktur berupa perbaikan jalan. Hal ini demi memudahkan akses tim SAR dalam melakukan proses evakuasi.

“Pasokan listrik juga perlahan mulai bisa dirasakan masyarakat di lokasi gempa. Sudah tiga unit pembangkit yang beroperasi. Meliputi PLTD Silae, satu unit pembangkit perbaikan PLTU Mpanau, dan satu unit pembangkit transfer ke sistem Sulselbar (PLTA Poso),” paparnya.

Aktivitas di pelabuhan juga sudah mulai berjalan. Beberapa kapal telah mengangkut logistik dan juga siap membawa pengungsi keluar dari Sulteng.

“371 personel PLN juga masih berupaya memperbaiki gardu induk dan jaringan listrik,” ucapnya.

Pasokan BBM juga mulai berdatangan. Sutopo menjelaskan saat ini empat kapal tanker tengah berlayar menuju Donggala, membwa 11,2 juta liter BBM.

“Sudah ada yang merapat pada Kamis (4/10) dan pasokan pengiriman akan lengkap hingga Jumat, 5 Oktober. 100 SPBU portabel, truk pengangkut BBM beserta awak mobil tangki juga dibawa menggunakan kapal,” tandasnya.

Kepala Biro Perencanaan Badan SAR Nasional Abdul Haris, selama proses evakuasi timnya fokus pada pencarian korban yang masih selamat.

Beberapa titik telah ditetapkan sebagai fokus utama pencarian. Seperti di bawah reruntuhan bangunan.

“Hampir sepekan proses evakuasi, kita masih ada harapan ada korban yang hidup dari reruntuhan. Kita merujuk dari hasil penelitian di mana selama tujuh hari tertimpa reruntuhan bangunan, korban yang hidup memungkinkan masih ada,” pungkasnya. (rdi/fin)

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.