Kesadaran Perlindungan Anak Masih Minim

33
0
POS RONDA. Petugas Badan Penanggulangan Bencana Daerah dan Dinas Pekerjaan Umum Perumahan Rakyat Kota Tasikmalaya mengikuti talkshow Pos Ronda di Studio Radar TV tadi malam. UJANG NANDAR / RADAR TASIKMALAYA

CIHIDEUNG – Kota ramah anak untuk Kota Tasikmalaya masih sekadar isapan jempol. Sepanjang 2019, terdapat 30 kasus yang melibatkan anak di bawah umur.

Berdasarkan data Komisi Perlindungan Anak Daerah (KPAD) Kota Tasikmalaya, sepanjang 2019 tercatat ada 30 kasus yang melibatkan anak. Jumlah tersebut terbagi ke beberapa permasalahan yaitu 4 pelecehan seksual, 6 kekerasan fisik dan psikis, 2 eksploitasi, 9 sengketa hak asuh, 2 penelantaran, 1 penculikan, 3 anak berhadapan dengan hukum (ABH), 1 perilaku menyimpang serta 2 pelanggaran hak lain-lain.

Ketua KPAD Kota Tasikmalaya Eki S Baehaqi SH MH menuturkan bahwa perhatian terhadap perlindungan anak memang masih minim. Khususnya dari lingkungan masyarakat sendiri yang sering abai terhadap keamanan anak. “Karena peran yang paling dibutuhkan ya orang dewasa yang berada di lingkungan anak tersebut,” ujarnya.

Salah satu kasus menonjol, kata dia, yakni penculikan anak yang terjadi di Dadaha beberapa waktu lalu. Selain itu ada eksploitasi anak yang menjadi PSK online yang berhasil diungkap kepolisian. “Belum lagi kasus kekerasan fisik dan seksual,” kata tokoh muda ini.

Padahal, kata dia, persoalan anak bukanlah masalah sepele, karena merupakan aset bangsa yang harus dijaga. Bagaimana pun mereka akan menjadi generasi penerus untuk melanjutkan tatanan kehidupan masyarakat. “Kalau sudah kecil sudah rusak, baik secara fisik, psikis maupun mental bagaimana bangsa ini ke depannya,” terangnya.

Sejauh ini pihaknya sudah berupaya melakukan pendampingan kepada korban maupun anak berhadapan dengan hukum (ABH). Sosialisasi kepada masyarakat pun terus dilakukan dengan berbagai kegiatan. “Karena pencegahan itu sebenarnya lebih penting dari pada penanganan,” katanya.

Terpisah, Kepala Di­nas Pengendalian Pen­du­duk, Keluarga Berencana, Pem­berdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DPPKBP3A) Hj Nunung Kartini mengatakan bahwa untuk perlindungan anak pihaknya selalu melakukan pendampingan. “Ketika ada kasus, kita ada tim untuk melakukan pendampingan,” terangnya.

Disinggung soal upaya pencegahan, diakuinya memang belum maksimal karena keterbatasan SDM dan anggaran. Namun dia selalu memanfaatkan berbagai kegiatan untuk melakukan sosialisasi sehingga tidak melulu berdasarkan anggaran. “Ketika ada kegiatan apapun, kita selalu selipkan sosialisasi perlindungan anak,” ujarnya. (rga)

loading...
Halaman

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.