Ketika Lira Bikin Lara

3

Siapa Presiden Pilihan Mu ?

RUPIAH dan indeks harga saham gabungan (IHSG) terus tertekan dalam beberapa waktu terakhir. Sentimen negatif dampak jatuhnya mata uang lira Turki telah menyeret perekonomian negara-negara berkembang, termasuk Indonesia.

Kurs rupiah dan IHSG yang sebelumnya sudah cukup tertekan dampak kebijakan pemerintah AS akhirnya malah terkoreksi kian dalam.

Sejumlah kalangan khawatir Turki yang terancam krisis ekonomi menular ke Indonesia. Bayang-bayang krisis finansial pada 1998 langsung mencuat melihat penurunan mata uang lira yang terjadi dalam sekejap. Apakah hal serupa bakal terjadi pada Indonesia seperti dua dekade silam?

Bila melihat fundamental ekonomi Indonesia saat ini, kita sepertinya yakin krisis finansial 1998 tak bakal terulang. Pertumbuhan masih konsisten di atas 5 persen, cadangan devisa masih tinggi, inflasi pun terkendali.

Namun, tidak berarti ancaman tidak ada. Indonesia masih punya ancaman dari utang luar negeri, baik dari BUMN maupun swasta.

Dari kacamata ekonomi, pelemahan kurs rupiah memang berisiko menurunkan daya saing produk Indonesia, baik domestik maupun ekspor. Sebab, beberapa sektor industri bergantung pada bahan baku dan barang modal yang sebagian impor.

Jika dolarnya mahal, biaya produksi pasti naik dan ujungnya harga barang jadi tak murah.

Namun, di sisi lain, kurs rendah juga membuka peluang eksporter mengirim barang ke luar negeri lantaran menjanjikan pendapatan dalam bentuk rupiah yang lebih tinggi.

Di sini diperlukan kebijakan yang menyentuh sisi ekspor sekaligus memangkas hambatan yang kerap terjadi. Bila ekspor lancar, devisa negara akan terus bertambah yang selanjutnya akan menguatkan kurs. Ekspor besar juga akan mengurangi defisit neraca berjalan.

Selain itu, pemerintah perlu memberdayakan usaha kecil dan menengah (UKM) yang kini banyak muncul dalam bentuk start-up. Saat dua kali krisis, UKM terbukti mampu bertahan.

UKM mampu survive di tengah gejolak kurs lantaran banyak sektor tersebut yang tak terkait dengan dolar AS.

UKM juga menciptakan banyak lapangan kerja, terutama di sektor informal. Pemberian insentif dalam bentuk kredit, pelatihan manajemen, atau pemasaran akan sangat membantu UKM untuk berkembang.

UKM yang kuat juga akan menumbuhkan daya beli domestik sehingga mampu meng-aggregate permintaan dalam negeri.

Akhirnya, kita semua berharap agar kondisi pasar global segera membaik dan krisis bisa berlalu dengan cepat. (*)

loading...