Siapa Calon bupati Tasikmalaya pilihan anda?
17%

83%

Ketua Dewan Ajak Pemkot Berunding Atasi Sampah

46
0
istimewa AMBIL SAMPAH. Petugas sedang mengangkut sampah di wilayah Kota Tasikmalaya Senin (7/10).

TASIK – Belum maksimalnya pe­nanganan sampah di Kota Tasikmalaya disebabkan minimnya armada yang dimiliki dalam memberikan pelayanan kebersihan.

Berdasarkan data Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Tasikmalaya, jumlah armada yang dimiliki hanya 40 persen dikatakan layak.

Dari 20 dumptruck yang dimiliki, kondisi 6 diantaranya baik, 7 rusak ringan dan 7 rusak berat, 12 ambrol truck 8 rusak ringan, 4 rusak berat.

1 unit engkel truck dan 1 pikap berkondisi baik, 7 motor roda tiga berkondisi baik, 11 diantaranya rusak ringan. Sementara, dari 90 kontainer, hanya 39 yang kondisinya baik.

“Kita memohon maaf apabila pelayanan belum optimal, bukan karena tidak melayani hanya belum terlayani,” ucap Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Tasikmalaya H Dudi Mulyadi MSi kepada Radar, Senin (7/10).

Menurutnya, jumlah kendaraan yang kurang, menyebabkan adanya keterlambatan pengangkutan. Apalagi kondisinya hanya 40 persen yang layak beroperasional. Meski seperti itu, pihaknya tetap melaksanakan pelayanan semaksimal mungkin. “Walau pun kami sadari, masih belum sesuai dengan harapan. Idealnya armada itu 60 untuk pelayanan kota, namun itu pun perlu kesadaran dan keterlibatan masyarakat agar pelayanan bisa berjalan baik,” katanya.

Dia mencontohkan di Kota Surabaya masyarakat harus membuang sampah pada jam tertentu. Sehingga dapat terangkut oleh armada yang memberikan pelayanan ke setiap rute. “Sementara di kita, terkadang masyarakat membuang sampah ketika petugas pengangkutan sudah lewat di rumah atau TPS, otomatis tunggu jadwal lagi untuk diangkut,” kata Dudi.

Apabila jumlah armada yang beroperasi di Kota Tasikmalaya sudah mencapai angka ideal pun, kata dia, ketika jadwal penyimpanan sampah warga tidak sinkron dengan jadwal petugas pengangkut, maka akan terjadi penumpukan. ”Sekali lagi, kami mohon kesadaran ketika petugas kami misalnya melintas ke rumah pukul 06.00, sampah bisa disimpan di TPS masing-masing agar langsung terangkut,” ujarnya.

”Belum lagi adanya aktivitas buang sampah tidak pada TPS yang disediakan, termasuk masih kurangnya proses pemilihan dan pemilahan sampah,” sambungnya.

Pihaknya mengalkulasi produksi sampah di Tahun 2019 berdasarkan jumlah jiwa di Kota Tasikmalaya sebesar 291.598,12 kilogram per hari. Sementara sampah yang tertangani dan terangkut ke TPA baru sebesar 165.499,81 kilogram per hari atau 56,76 persen dari timbulan sampah. ”Sisanya belum tertangani masih ada yang dibuang ke sungai atau pun yang dibakar,” kata Dudi.

Terpisah, Ketua DPRD Kota Tasikmalaya Aslim mengakui tagline Kota Resik seharusnya dapat mewujud terhadap tingkat kebersihan daerah. Mengingat, seluruh ajaran agama tentunya menganjurkan untuk menjaga kebersihan. ”Kondisi faktual sampai hari ini belum mewujud daripada tagline kota kita. Padahal selain tagline kita juga sudah mengatur melalui regulasi Perda nomor 7 Tahun 2012 tentang Pengelolaan Sampah,” kata Aslim memaparkan.

Dia mengeluhkan sehebat apapun Perda dirancang, namun sosialisasi dan implementasi tidak dikawal dengan baik, maka tidak akan membawa perubahan. Hanya menjadi hiasan saja sebagai formalitas. “Kita sadari ini jadi persoalan besar, bukan kaitan estetika kota saja tetapi kesehatan masyarakat. Pemkot akan kami ajak berunding untuk mencari solusi penyelesaiannya,” tutur Politisi Gerindra itu.

Aslim mendorong postur APBD untuk belanja kaitan pengelolaan sampah menjadi salah satu prioritas. Terutama dalam menambah jumlah armada, operasional dan SDM petugas persampahan. “Saya yakin wali kota akan memperhatikan serius kaitan ini. Sebab, pelayanan semacam ini harus jadi prioritas,” kata Aslim. (igi)

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.