PLN Akan Meninjau Lokasi SDN Cintajaya

Khawatir Radiasi Sutet, Sekolah Libur

46
0
KHAWATIR. Siswa SDN Cintajaya Kecamatan Tanjungjaya berdiri tepat di bawah saluran udara tegangan ekstra tinggi, Senin (19/8). Insert. Guru SDN Cintajaya mengecek tegangan listrik menggunakan obeng pada besi fondasi sekolah. DIKI SETIAWAN / RADAR TASIKMALAYA

TANJUNGJAYA – Guru SDN Cintajaya di Kampung Cigorowong, Cintajaya, Tanjungjaya khawatir radiasi listrik dari saluran udara tegangan ekstra tinggi (Sutet) yang berada tepat di atas bangunan sekolah.

Guru SDN Cintajaya Aep Saepudin SPd mengatakan, orang tua dan sekolah meminta kepastian dari PLN terkait dampak dekatnya sutet dengan bangunan sekolah. “Kami takut kejadian di Semarang yang kabel sutet meledak dan melukai orang yang rumahnya dekat dengan sutet,” katanya.

Maka dari itu, kata dia, pihaknya khawatir kejadian di Semarang terjadi di sini. Dengan demikian, pihaknya meminta kepastian dari yang bersangkutan terkait keamanan radiasi sutet.

Sebenarnya, kata dia, 2006 lalu PLN Tasikmalaya sudah meninjau lokasi, namun hanya mengukur ketinggian sutet terhadap bangunan sekolah. Itu juga diukurnya bukan dari atap, tetapi dari tanah ke atas kabel. Dulu ukurannya 17 meter, perhitungan pengelola gardu listrik sutet dianggap aman.

“Setelah itu tidak terjadi kejadian luar biasa sampai meledak, akan tetapi banyak keganjilan. Tetapi, kalau diukur-ukur jarak dari atap sekolah ke kabel sutet cukup dekat yakni 11 meter, sedangkan kata petugas PLN batas aman adalah 17 meter, harusnya dihitung dari atap, ini malah dari tanah,” ujarnya.

Kata dia, bangunan SD berdiri lebih dulu ketimbang sutet, yakni 1982, sementara sutet dibangun 2002 dan dioperasikan 2006.

Lanjut dia, kejanggalan terjadi saat pertama dioperasikan. Seperti ketika menyimpan lampu di kosen atap bangunan nyala, kemudian kalau hujan sering terdengar gemuruh dan mendengung keras. “Alhamdulillah sekarang ketika menyimpan lampu di kosen tidak begitu kuat” katanya.

Namun, kata dia, pihaknya tetap khawatir terjadi hal-hal yang membahayakan ketika cuaca buruk. “Makanya kami selalu meliburkan anak-anak ketika cuaca buruk, karena khawatir terjadi apa-apa,” ujarnya.

Tambah dia, pihaknya meminta kejelasan dari PLN untuk memberikan surat keterangan aman atau tidaknya posisi sutet di atas bangunan sekolah.

Jajang Sujana, guru lainnya menambahkan pihaknya menuntut perjanjian hitam di atas putih perihal pernyataan bahaya dan tidaknya tegangan listrik sutet terhadap bangunan sekolah dan keselamatan guru serta siswa.

“Jadi pihak sekolah meminta pertanggung jawaban dari PLN jika ada yang membahayakan dampak dari sutet. Sampai saat ini belum ada surat atau penegasan dari PLN, sejak 2006,” kata Jajang.

Siswa SDN Cintajaya Salman Alfarizi (8) mengaku sering diliburkan sekolah ketika hujan besar. Karena takut dengan adanya sutet di atas bangunan sekolah. “Takut katanya ada listrik tegangan tinggi. Iya kalau hujan suka diliburkan, belajar di rumah,” katanya.

Imas (40), salah satu orang tua siswa mengaku khawatir melihat sutet yang berada di atas bangunan sekolah. Apalagi belum lama ini ada kejadian akibat sutet di wilayah Semarang. “Saya terpaksa menyekolahkan anak ke sini, walaupun sudah tahu ada sutet. Karena tak ada lagi sekolah yang dekat. Anak saya sering mengeluh pusing kalau pulang sekolah,” ujarnya.

Melinda (26), warga yang tinggal tepat di bawah sutet mengatakan pernah beberapa kali pusing ketika pukul 11.00. Namun beberapa jam kemudian pusingnya mulai hilang. “Saya tidak tahu kenapa suka pusing ketika pukul 11.00, walaupun tidak sering setiap hari. Saya tidak tahu penyebabnya kenapa, mungkin karena radiasi sutet,” ujarnya.

Suvervisor Pengelola Gardu Induk Listrik Sambong Tasikmalaya Azwar Haris mengaku sudah dihubungi oleh SDN Cintajaya soal keinginan kepastian keamanan bahaya sutet yang berada di atas bangunannya.

“Rencananya kami Kamis (22/8) akan mengecek dan meninjau ke sekolah tersebut. Sebelum memutuskan bahaya tidaknya, kita survei dulu ke sana. Termasuk pengukuran. Kita tidak bisa memastikan sebelum mengecek ke lapangan,” katanya.

Lanjut dia, ada standar perhitungan soal bahaya tidaknya pembangkit sutet yang dekat dengan pemukiman warga, termasuk sekolah.

“Kami mengacu kepada standar kesehatan dari World Health Organization (WHO) atau badan kesehatan dunia, soal berapa jarak aman pembangkit tegangan tinggi bagi manusia,” ujarnya.

Kemudian, dilakukan juga pengukuran medan listrik dan magnetnya, ada standar ukur yang ditentukan. Nanti akan dihitung berapa ukuran amannya.

“Hasil pengecekan dan pengukuran tersebut akan menjadi dasar kami mengambil keputusan, bahaya tidaknya pembangkit sutet tersebut,” ucapnya. (dik)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.