Siapa Calon bupati Tasikmalaya pilihan anda?
17%

83%

Kilas Balik Hardiksur Ke-57

139
0
Nana Suryana, Ketua Prodi PGMI Suryalaya Tasikmalaya dan Mahasiswa S3 SPs UPI Bandung

Bagi Pesantren Suryalaya Tasikmalaya, Agustus menjadi bulan yang memiliki arti penting. Selain bulan Kemerdekaan Republik Indonesia, Agustus juga awal lahirnya pendidikan formal di Pondok Pesantren Suryalaya (Hardiksur), tepatnya 1 Agustus 1961. Di Milad-nya Pendidikan Formal ke-57 ini berikut disajikan kilas balik pendidikan formal di pondok pesantren.

Salayang Pandang Pondok Pesantren Suryalaya

Pondok Pesantren Suryalaya terletak di Dusun Godebag Desa Tanjungkerta Kecamatan Pagerageung Kabupaten Tasikmalaya. Nama Suryalaya diberikan Syaikh Tolhah dari Trusmi Cirebon, guru Syaikh Haji Abdullah bin Nur Muhamad (Abah Sepuh).

Dalam bahasa Sunda Suryalaya itu terdiri dari dua kata; “Surya” artinya matahari “laya” artinya menyinari. Suryalaya berarti matahari yang menyinari. Makna ini dikandung maksud agar Pondok Pesantren Suryalaya mampu menyinari dunia dan memberikan manfaat bagi umat manusia (rahmatan lil ‘alamin).

Pondok ini didirikan 05 September 1905 M/23 Rajab 1423 H oleh Haji Abdullah Mubarok bin Nur Muhamad.

Awal perjalanan Pondok Pesantren Suryalaya sebagai lembaga pendidikan Islam dengan ciri khas dan spesialisasi pengajian, pengamalan dan pengembangan Tarekat Qadiriyyah Naqsyabandiyyah (TQN) tidak berjalan mulus, ada kesalahpahaman masyarakat ditambah kebijakan pemerintah kolonial Belanda yang tidak mendukung perkembangan Tarekat, namun tidak menyurutkan semangat Abah Sepuh untuk terus mengembangkan Pondok Pesantren Suryalaya.

Abah Sepuh selain terus memajukan pendidikan, juga memajukan bidang pembangunan masjid, madrasah, irigasi, pasar dan turut menjaga keamanan negara dari gangguan DI/TII. Pada tanggal 25 Januari 1956, Usia 120 tahun Abah Sepuh wafat. Segala keberhasilannya diwariskan kepada penerusnya.

Kepemimpinan Pondok Pesantren Suryalaya dilanjutkan oleh anaknya bernama Ahmad Shohibul Wafa Tajul Arifin (Abah Anom).

Beliau dilahirkan 1 Januari 1915 di Kampung Godebag Desa Tanjungkerta Kecamatan Pagerageung Kabupaten Tasikmalaya, putra kelima dari pasangan Syaikh Abdullah Mubarok Bin Nur Muhamad dengan Ibu Hj Juhriyah.

Saudara-saudaranya ialah Hj. Siti Sufiyanah (seayah lain ibu), Hj Siti Sukanah, Muhamad Malik, H Mahmud Abdullah, H Dahlan, Hj Sa’adah, Wasi’ah, Hj Didah Rosdiah, Hj Siti Sumayah Djuhriyah dan KH Noor Anom Mubarok, BA. (Seayah lain ibu). Abah Anom juga memiliki nama lain yaitu Zakamunji dan H Sohib.

Pada masa kepemimpinan Abah Anom, perkembangan Pondok Pesantren Suryalaya semakin maju hingga menembus batas geografis negara Indonesia, antara lain Singapura, Malaysia, Brunai Darusalam, Thailand, Australia bahkan sampai ke Eropa dan Amerika.

Untuk membantu tugas-tugas kemursyidannya Abah Anom mengangkat wakil talqin dan dibantu para mubaligh. Pada tahun 1961 Abah Anom juga mendirikan Yayasan Serba Bakti Suryalaya.

Yayasan ini telah membuka koordinator wilayah (Koorwil) di beberapa propinsi dan perwakilan kabupaten/kota. Sejak tahun 1980 dengan menggunakan metode TQN, Abah Anom berhasil menyembuhkan lebih dari 5000 orang anak muda yang kecanduan obat terlarang, tempatnya disebut Pondok Remaja Inabah.

Atas jasa-jasanya beliau telah banyak menerima penghargaan, baik pada tingkat regional, nasional, maupun internasional.

Penghargaan di bidang lingkungan hidup dari Presiden RI (1980), bidang Rehabilitasi Korban Narkotika dari Presiden RI (1984), Tanda Kehormatan Styalencana Kebaktian Sosial dari Presiden RI (1985), tahun 2000 mendapat penghargaan Bintang Jasa Utama dari Presiden RI, penghargaan sebagai Panglima Darjah Kinabalu dari Yang Dipertuan Negeri Kinabalu, Dr Tun Datuk Hj. Sakaran Bin Dandai, serta pada tahun yang sama mendapat penghargaan dari IFNGO AWARD 2000 For Distinguished Service serta tahun 2008 penghargaan sebagai Polisi Kehormatan dari Kapolwil Priangan dan 2009 mendapat penghargaan Pesantren Best Executive Awar dari Baiturrahman International Foundation (Sekertariat Pondok Pesantren Suryalaya, 2011).

Pendidikan Formal di Pondok Pesantren Suryalaya
Menyadari pentingnya pendidikan bagi masyarakat, sejak tahun 1961 Abah Anom membuka sekolah formal dengan mendirikan SMIP yang berubah nama menjadi Sekolah Menengah Pertama (SMP) Serba Bakti tanggal 1 November 1972.

Dari cikal bakal SMIP inilah pendidikan formal di Pondok Pesantren Suryalaya sampai saat ini telah berdiri pendidikan formal dari TK Ibu Hj. Eusi Siti Ru’yanah, SMPI Serba Bakti, MTs Serba Bakti, SMA Serba Bakti, MA Serba Bakti, MAK Serba Bakti (sudah bergabung dengan MA), SMK Plus YSB, IAILM dan STIELM.

Kedua perguruan tinggi insya allah akan menjadi Universitas Latifah Mubarokiyah yang akan disingkat menjadi Ulama (Bidang Pendidikan YSB, 2017).

Dari pendidikan formal yang ada, telah banyak melahirkan insan-insan yang berkontribusi untuk kepentingan bangsa, negara dan masyarakat. Selamat Milad Pendidikan Formal Suryalaya, teruslah berilmu amaliah dan beramal ilmiah. (*)

*) Ketua Prodi PGMI Suryalaya dan Mahasiswa S3 SPs UPI Bandung

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.