Siapa calon Bupati Tasikmalaya pilihan anda?

0.1%

1.4%

83.5%

5%

0.5%

9.5%
Kamibijak.Com, Media Komunikasi Pakai Bahasa Isyarat dan Penerjemah

Kiprah Para Jurnalis Tuna Rungu Kawal Isu Kekinian

51
0
Khanif Luthfi / Fin EDIT GAMBAR. Video editor KamiBijak.com saat bekerja di kantornya di bilangan Gading Serpong, Kabupaten Tangerang, Banten, Selasa (11/12).

Tuli bukan berarti tak bisa berkomunkasi. Bukan juga tak mampu berkarya.

Seperti yang dilakukan tim redaksi di KamiBijak.com. Semua jurnalis di media ini

merupakan penyandang tuna rungu. Alat komunikasi mereka hanya memakai bahasa isyarat dan satu penerjemah.

KHANIF LUTFI, Tangerang

Kami Bijak nama pendeknya. Kepanjangannya, Kami Berbicara Isyarat Jakarta. Media yang baru lahir September lalu ini cukup menarik perhatian. Seluruh pengelola, baik jurnalisnya sekalipun merupakan penyandang disabilitas tuna rungu.

Media yang fokus menggarap video dalam peliputannya dicetuskan oleh Paulus Ganesha Aryo Prakoso yang akrab disapa Paulus. Ia bukan sosok ahli di industri media. Pria yang juga tuna rungu ini merupakan lulusan salah satu universitas swasta di Jakarta. Jurusan Teknologi Informatika bukan Komunikasi.

Di kantor Kami Bijak, Paulus mulai bercerita awal berdirinya media daring tersebut. Dalam wawancara itu, seorang penerjemah datang menemani menerjemahkan bahasa isyarat dari Paulus. Ya, ide ini berawal saat ia melihat siaran di televisi kecil.

Dahulu saat siaran berita, ada orang yang di sudut kanan bawah yang menggunakan bahasa isyarat. Hal itu dinilai sangat membantu bagi penyandang disabilitas untuk mengetahui informasi terkini.

Kepada wartawan, Paulus menjelaskan Kami Bijak bertujuan memberi kemudahan akses informasi daring ramah disabilitas, terutama bagi mereka yang mengalami masalah pada pendengaran atau tuli. Informasi ini dikemas dalam bentuk video bahasa isyarat dan teks.

Tapi saat ini, sudah tidak ada bahasa isyarat. Makanya kami buat secara utuh, kata Paulus, dengan isyarat dan kata-kata yang coba dimengerti.

Ia pun mulai membuka lowongan di internet mencari editor, videographer sampai reporter yang semuanya tuli. Ada beberapa lamaran masuk, pelamarnya pun bukan sekitar Jabodetabek melainkan berbagai wilayah di Indonesia, Solo, Serang dan Jogjakarta.

Ada enam orang yang tergabung dalam media khusus penyandang tuli tersebut. Setiap hari mereka membuat dua video yang nantinya di unggah ke website dan kanal youtube. “Ada juga video berdurasi pendek yang diunggahnya ke media sosial Instagram,” terangnya.

Pengerjaan media daring ini tak main-main, Paulus yang kelahiran Jakarta 36 tahun lalu itu mengundang tokoh terkenal menjadi narasumber. Sebut saja Gubernur Jakarta Anies Baswedan, Menkominfo, Najwa Shihab, sampai Presiden Jokowi pun pernah diliput untuk diwawancarainya.

Di kantornya di kawasan Gading Serpong, Kabupaten Tangerang suasananya cukup nyaman. Tapi ada yang unik. Dalam satu ruangan semuanya sangat hening. Begitu juga saat proses editing, tidak ada lagu atau suara yang ditampilkan dalam video.

Saat komunikasi dengan rekan kerja, semuanya menggunakan isyarat. Merupakan pemandangan yang sangat jarang ditemui dalam dunia kerja mana pun. Harapannya ke depan media ini cukup besar serta ada perhatian lebih bagi penyandang disabilitas khususnya tuli agar tak dijadikan anak tiri di dunia pekerjaan. Karena banyak perusahaan yang ragu merekrut penyandang disabilitas. “Saya ingin menunjukkan kepada khalayak, jika disabilitas tuli masih bisa eksis dan bekerja layaknya orang normal,” tandasnya. (*/fin)

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.