Kisah dari Posko Perbatasan Pencegahan & Pengendalian Covid-19 Kota Tasik

374
0
MENGATUR. Petugas posko pengendalian dan pencegahan Covid-19 Kota Tasikmalaya di Jalan Ibrahim Adjie, Gumilang Herdis Kiswa mengatur kendaraan masuk di perbatasan Kabupaten Tasikmalaya dan Kota Tasikmalaya Selasa (14/4).

Menjadi anggota pos penjagaan di perbatasan membutuhkan kesabaran. Mereka kadang dibuat kesal para pemudik yang ngeyel: tidak mau jujur sudah dari zona merah.

Deni Nurdiansah, Indihiang

Terik matahari terasa di perbatasan Kabupaten Tasikmalaya dan Kota Tasikmalaya, tepatnya di Jalan Ibrahim Adjie, Indihiang. Sementara kondisi posko pengendalian dan pencegahan Covid-19 ramai. Petugas sibuk mendata identitas pemudik yang akan masuk ke Kota Tasikmalaya. Mereka juga memeriksa suhu tubuh para pendatang itu.

Sementara itu, antrean kendaraan yang didominasi roda empat berjejer dari arah Rajapolah. Mereka diarahkan ke posko yang diisi anggota TNI, Polri, Satpol PP, PNS dan elemen lainnya.

Baca juga : 3 Pemain Judi Poker Online di Kabupaten Tasik Ditangkap Polisi

Salah satu anggota di posko penjagaan itu Gumilang Herdis Kiswa. Dia sibuk mengatur kendaraan yang masuk. Tak lupa, dia memakai masker dan sarung tangan. Dia sibuk meminta pengendara untuk memakai masker.

Pemudik yang diprioritaskan menjalani pemeriksaan yaitu warga yang baru pulang dari zona merah penyebaran Covid-19, seperti dari Jabodetabek dan Bandung.

”Kita selalu imbau mereka untuk melakukan pemeriksaan, tapi kadang ada yang suka beralasan juga sudah diperiksa,” ungkapnya kepada Radar, Selasa (14/4).

”Ulah” pemudik lainnya yaitu tidak mau jujur. Mereka baru pulang dari zona merah, tapi mengakunya dari daerah lain. Dalihnya tidak ingin diperiksa.

Hal itu kadang membuat petugas kesal, padahal mereka hanya ingin mencegah ada penderita Covid-19 yang lolos ke Kota Tasikmalaya. ”Ditambah petugas kita juga masih kurang,” ujar PNS yang sehari-hari memimpin UPTD Dadaha ini.

Semua petugas di posko penjagaan berjumlah 25 orang. Mereka berkerja secara shift. ”Ada tiga shift. Kerjanya sekitar delapan jam untuk satu shift. Jadi penjagaan tidak akan berhenti selama 24 jam,” jelasnya.

Setelah bekerja di perbatasan, Gumilang mengaku waktu bersama keluarga jadi berkurang. ”Tapi itu sudah jadi risiko kita dalam bertugas. Kita kan harus mengabdi kepada negeri,” ujarnya.

Menurutnya, pandemi corona di Kota Tasikmalaya bisa cepat berakhir jika masyarakatnya juga disiplin.

”Sering para pengendara ini tidak memakai masker, saya sering ingatkan ke mereka tapi banyak yang tidak memakainya,” keluhnya.

Sama halnya dengan Gumilang, anggota Satpol PP Kota Tasikmalaya Gugun Ansori yang sedang mengatur arus lalu lintas kadang merasa kesal.

Baca juga : Mulai Hari Ini Jam 18, Warga Kota Tasik Diminta Doa Bersama

”Kesalnya itu ya sedang keadaan lelah, tapi kendaraan sulit diatur, disuruh masuk area posko, eh malah maksa terus maju,” ujarnya.

Namun mau tidak mau ia harus tetap bertugas dengan sepenuh hati, karena itu sudah menjadi perintah. ”Ini sudah jadi tugas saya. Tidak boleh lari,” ungkapnya sambil senyum. (*)

Loading...
loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.