Kisah Para Lelaki yang Sendiri

274
Buku Men Without Women By Murakami
ANTON KURNIA
Pembaca dan penulis

Seperti dalam banyak karyanya, tujuh cerita panjang dalam Men Without Women ini menggunakan pola yang khas Haruki Murakami: alusi pada musik klasik, jazz dan The Beatles.

SISI lain dari penganugerahan hadiah Nobel Sastra tahun ini adalah ”kekalahan” Haruki Murakami dari sesama pengarangkelahiran Jepang yang kini menjadi warga Negara Inggris, Kazuo Ishiguro. Setidaknya sudah lima tahunan ini Murakami disebut-sebut sebagai kandidat kuat pemenang Nobel Sastra. Namun, dia selalu tak beruntung.
Terlepas dari ketakmujurannya di ajang Nobel Sastra, Murakami adalah sosok fenomenal. Buku-bukunya laris manis di berbagai negara dan dia punya banyak penggemar fanatik. Novel terakhirnya, The Colorless Tsukuru Tazaki and His Pilgrimage Years (2013), terjual sejuta eksemplar hanya dalam dua pekan setelah terbit.
Di sisi lain, banyak kritikus memuji karya karyanya yang telah diterjemahkan ke dalam lebih dari 50 bahasa. Dia pun telah meraih berbagai penghargaan bergengsi, termasuk Jerusalem Prize dan Hans Christian Andersen Literature Award.
Tahun ini terbit buku terbaru Murakami dalam terjemahan bahasa Inggris. Sebuah kumpulan cerita panjang berjudul Men Without Women. Judul provokatif tersebut tentu saja ”dicuri” dari kumpulan cerita Ernest Hemingway yang terbit nyaris seabad lalu.
Banyak karya Murakami pada dasarnya adalah kisah cinta yang sedih. Tokoh utamanya biasanya lelaki penyendiri yang kesepian.
Tapi, punya daya tarik tersendiri terhadap perempuan, senang mendengar musik jazz dan klasik, sesekali minum di bar, pandai memasak, terlibat affair dengan perempuan bersuami. Namun, gagal meraih cinta dari perempuan lain yang sebenarnya dia cintai oleh sebab-sebab yang terkadang ajaib dan surealis. Itu pula yang tergambar dalam buku ini.
Kumpulan cerita ini cukup layak ditunggu karena sudah 11 tahun sejak Murakami menerbitkan kumpulan cerita terakhirnya, yakni Blind Willow, Sleeping Woman (2007). Seperti dalam banyak karyanya, tujuh cerita panjang dalam buku Men Without Women ini menggunakan pola yang khas Murakami: alusi pada musik klasik, jazz dan The Beatles. Juga, munculnya kucing misterius, perempuan-perempuan yang menghilang tiba-tiba, serta keterikatan tersembunyi dengan Kafka –penulis dari masa lalu yang dikagumi Murakami.
Salah satu cerita di dalam buku ini yang sebelumnya pernah muncul di majalah terkemuka The New Yorker bahkan merupakan parodi satu cerita terkenal Kafka, Metamorfosis. Cerita cinta yang ganjil ini diberi judul Samsa in Love.
Jika dalam Metamorfosis tokoh Gregor Samsa adalah manusia yang pada suatu pagi berubah menjadi serangga raksasa, dalam cerita ini Murakami menggubah Samsa menjadi serangga yang menjelma manusia. Dia ke mudian jatuh cinta kepada perempuan pertama yang dia jumpai: seorang tukang kunci yang hendak memperbaiki kunci pintu rumah orang tuanya.
Dalam kisah lain, Drive My Car, diceritakan tentang seorang suami yang ditinggal istrinya dengan satu kenangan pedih bahwa istri yang dia cintai berselingkuh dengan seseorang. Setelah kematian istrinya, suami yang kesepian tersebut mengajak selingkuhan istrinya berkenalan.
Tujuannya, berbagi kenangan tentang perempuan yang pernah sama-sama mereka cintai. Mereka pun berkali-kali bertemu di sebuah bar dan mengobrol akrab. Sebuah kisah cinta segi tiga yang absurd.
Dalam buku ini juga terdapat kisah berjudul Yesterday yang tentu saja mengingatkan kita pada lagu hit The Beatles. Itu juga segera mengingatkan kita pada salah satu novel Murakami yang paling realis, Norwegian Wood, yang judulnya juga diambil dari lagu kelompok musik legendaris itu.
Dalam kisah ini diceritakan tokoh Kitaru yang gagal lulus ujian perguruan tinggi terkemuka meminta sahabatnya –narator cerita– untuk berkencan dengan pacarnya yang kesepian. Sebab, Kitaru asyik dengan diri sendiri dan impian-impiannya. Lagi-lagi kisah cinta yang aneh.
Membaca kumpulan cerita ini, kita ”dipaksa” mengakui keahlian Murakami dalam bercerita dan menampilkan kepelikan hidup tokoh-tokohnya yang kerap begitu unik. Seperti biasa, Murakami piawai menuliskan kesedihan, kesepian dan kehampaan manusia modern.
Dia pandai meramu kesedihan lelaki urban tanpa perlu bersayu sayu atau mendayu-dayu. Dalam gaya tuturnya yang sederhana, sesekali dia menohok kita dengan perenungan yang dalam dan membikin kita tercenung akan kila­tan berlian ke­hidupan. (*)

ANTON KURNIA
Pembaca dan penulis

loading...
BERBAGI

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.