Kisah Pasien PDP Sembuh, 18 Hari di Ruang Isolasi RSUD Kota Banjar

258
0
SEMBUH. Salah satu PDP di Kota Banjar kini telah sembuh setelah dinyatakan negatif Covid-19, dan sudah kembali ke keluarganya.
SEMBUH. Salah satu PDP di Kota Banjar kini telah sembuh setelah dinyatakan negatif Covid-19, dan sudah kembali ke keluarganya.

Awalnya cemas, takut, paranoid, hingga kondisi tubuh menjadi drop. Begitu yang dirasakan Cinta Adhytia Wardani (22) usai dirinya dinyatakan sebagai Pasien Dalam Pengawasan (PDP) di ruang isolasi khusus RSUD Kota Banjar.

Cecep Herdi, Kota Banjar

USAI swab test pertama dan kedua turun, hasil yang ditakutkannya pun sirna. Cinta negatif Covid-19. Ia teguh pendirian; selalu berfikir optimis, dirinya akan keluar dari ruang ”menyeramkan” tersebut.

“Lega, seneng lah. 18 hari mikirin gimana ya nasib test saya, gimana ya saya hasilnya. Saya berada di ruang isolasi khusus selama itu,” kata putri pertama dari pasangan bersaudara yang tinggal di Desa Mekarsari kecamatan Banjar itu Selasa (28/4).

Dalam wawancara khusus melalui pesan WhatsApps, wanita yang merintis usaha di bidang kecantikan ini ingin menularkan optimisme yang sempat ia pertahankan di ruang perawatan.

Tubuhnya yang tak lepas dari jarum dan selang infus selama perawatan mengaku awalnya mengalami keluhan sesak nafas, batuk, demam tinggi serta badan lemas usai pulang dari Jakarta.

Loading...

Cinta mengaku pekerjaannya menuntut dirinya berada di Ibu Kota, Tangerang dan Depok.

Baca Juga : Dewan Minta Bantuan dari BTT Segera Disalurkan, Dinsos Kota Banjar Masih Ngurus Data

“Rasanya jadi PDP nggak enak. Yang pertama, sakit karena nggak bisa ditemenin sama keluarga, nggak bisa ketemu temen, orang terkasih, cuma sendiri di kamar isolasi. Belum juga kita menghadapi ceceran pertanyaan dari orang-orang yang harusnya kita diberi ketenangan sejenak untuk menerima apa yang sudah ada di depan mata,” kata dia menuturkan pengalamannya di ruang isolasi.

Tak mudah berada di ruang khusus tindakan tersebut. Anak yang ditinggal ibunya bekerja ke New Jersey, Amerika Serikat ini harus menerima tekanan psikis selama berstatus PDP.

“18 hari di isolasi dan menyandang status menjadi PDP itu stres. Belum lagi saya ngelihat sekitar yang lebih parah, belum dengan lingkungan yang kita biasa tinggali, belum deg-degan dengan hasil swab yang tak kunjung keluar. Di kamar sendiri hanya berteman dengan dokter, perawat dan office boy. Saya bisa sembuh atas dasar semangat saya sendiri untuk percaya bahwa saya negatif Covid-19. Di samping itu saya disiplin minum obat, vitamin dan makanan bergizi yang diberikan rumah sakit,” katanya.

Tim Medis Sebagai Penyemangat

Pada 12 April 2020 menjadi hari membahagiakan. Hasil swab test kedua menyatakan negatif. Kebahagian pun bertambah seiring surprise dari tenaga medis di ruang isolasi RSUD Kota Banjar saat itu.

Dia mengatakan tim medis seperti dokter dan perawat selalu mendukungnya. Menenangkan dia, supaya imunitas tubuhnya tidak kembali turun.

“Sering kali saya nangis ingin pulang. Kangen rumah, kangen orang tua. Tapi di sisi lain tim medis juga seperti selalu ingin meng-cover semuanya agar saya tidak merasa kesepian. Seperti diucapkan selamat pagi, perhatian akan nutrisi, makanan obat dan keluhan. Bisa dijadikan tempat keluh kesah, bisa menjadi keluarga bagi saya yang berada di ruang isolasi. Mereka pahlawan saya,” kata Cinta.

Kesembuhannya dari status PDP harus menjadi motivasi untuk orang lain, terutama bagi PDP lain yang kini masih berjuang di ruang isolasi khusus RSUD Banjar.

“Motivasinya harus tetap percaya diri, jangan mudah panik karena kita menyandang PDP bukan berarti kita bisa disebut positif. Tetap yang bisa menentukan positif atau tidak itu dari swab test. Kemudian jaga imunitas. Percaya ke diri sendiri bahwa kita negatif, kita sembuh dan kita bisa pulang,” tuturnya.

Baca Juga : Bawa 3 Penumpang, Bus Budiman Jurusan Tasik-Semarang Disuruh Balik Arah Petugas

Cinta pun berbagi pengalamannya saat di Jakarta. Daerah dimana kini pemerintahnya sudah menerapkan PSBB. Kata dia, untuk masyarakat umum harus menaati anjuran pemerintah. Gunakan masker dan selalu membawa hand sanitizer. Jaaga jarak dan hindari kerumunan orang.

“Kalo emang tidak perlu-perlu banget keluar, mending diam di rumah. Jangan nongkrong. Jangan sampai berada di ruang isolasi seperti saya, nggak enak. Harus kasihan ke tenaga medis,” katanya.

Kini Cinta pun sudah lepas dari status PDP usai dirinya menjalani isolasi mandiri di rumahnya pasca dipulangkan dari RSUD Kota Banjar selama empat belas hari.

“Meskipun PDP dan hasil swab test negatif, setelah dirawat dan dipulangkan dari RSUD tetap harus menjalankan isolasi mandiri selama empat belas hari,” kata Wakil Direktur Pelayanan RSUD Kota Banjar Purkon. (*)

Loading...
loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.