Kisah Pembalap Cantik Cirebon Ramaikan Ajang Balapan di Cirebon Katon Championship 2019

44

CIREBON – Pembalap asal Cirebon tidak hanya dari kaum pria, ada juga dari kalangan kaum hawa. Salah satunya adalah sosok Sevia Apriliani (18), anak dari pasangan Nono Kartono dan Ani Rohaeni.

Phia, panggilan akrabnya, merupakan salah peserta perempuan cantik dari Cirebon yang mengikuti ajang Cirebon Katon Championship 2019 di sirkuit sekitaran lingkungan Pemerintah Daerah (Pemda) Kabupaten Cirebon, Minggu (17/3/2019).

“Ada 11 peserta cewek kalo gak salah,” ungkapnya kepada Pojokjabar.com, Senin (18/3/2019) malam.

Menurut Phia, dirinya sendiri sudah sejak kecil dikenalkan dunia balap.

“Soalnya papa Phia juga pembalap, hehe,” katanya.

Awalnya, lanjut Phia, ia mengaku tidak tertarik dengan dunia balap. Phia mengaku lebih suka melestarikan budaya tari tradisional.

Tapi, lanjutnya, lama kelamaan karena sering diajak ikut nonton balap, ia pun mulai suka dan tertarik dengan dunia balap. lebih suka melestarikan budaya tari tradisional.

“Awal Phia balap itu tahun 2017. Phia seneng bisa terjun ke dunia balap. Selain menyalurkan hobi dari balap, kita bisa mendapatkan teman baru dari berbagai daerah, dan menambah pengalaman baru, hehe. Kalo suka dukanya sih paling kalo jatoh gitu, kan, yah, lumayan bikin linu linu hehe,”

Menurutnya, saat mengalami jatuh membutuhkan waktu pemulihan sekira satu minggu.

“Yang kemarin jatoh itu M. Albi Yusuf, itu satu paddock sama Phia,” ujarnya.

Gadis cantik ini mengungkapkan, saat pertandingan banyak yang jatuh, tapi, menurutnya hanya dirinya dan Albi yang ditandu.

“Padahal yang jatuh banyak sore itu, soalnya kondisi hujan dan jalanan licin, hehe,” katanya.

Albi, menurutnya, baru pertama kali mengikuti balapan, dan belum punya paddock sendiri.

Phia pun mengakui, saat mengikuti ajang Cirebon Katon Championship 2019, dirinya sempat jatuh juga. Pasalnya, saat itu, para pembalap perempuan bertanding saat sore hari. Dan kondisinya saat itu hujan.

“Iya, kemarin Phia jatuh. Jatuh dan ditandu juga, hehe. Soalnya pas Phia jatuh itu kondisi hujan, jadi gak rame, hehe,” aku perempuan yang bulan April besok berusia 18 tahun.

Phia pun melanjutkan, terkait hubungannya dengan sesama pembalap, baik sesama perempuan ataupun dengan pembalap lelaki, ada saling support (mendukung, red).

“Ya, saling membantu satu sama lain, sih, hehe,” katanya.

Pembalap perempuan di Cirebon, lanjutnya, masih sedikit.

“Kurang deket juga, sih,hehe. Phia lebih deket sama pembalap dari luar daerah Cirebon. Tapi tetep saling support kalo ada event saling kabarin satu sama lain,” terangnya.

Jika tengah berada di luar sirkuit, katanya, pihaknya suka  bermain bersama sesama pembalap, dan saling menyemangati. Hanya saja, jika sudah berada di sirkuit, menurutnya, semua menjadi musuh.

“Gak ada yang namanya temen, saudara atau apapun, hehe” katanya.

Ia pun berharap seperti harapan pembalap lainnya, yakni Cirebon kelak akan punya sirkuit yang layak untuk latihan.

“Karena selama ini Phia kalo mau latihan harus ke Majalengka,” keluhnya.

Pasca pertandingan, ia mengaku masih tetap semangat demi bisa membanggakan Cirebon. Dan ke depannya ia ingin berlatih lebih keras lagi agar bisa menjadi kebanggaan orangtua dan Cirebon sebagai tanah kelahirannya.

Phia pun mengakui, saat mengikuti ajang Cirebon Katon Championship 2019, dirinya sempat jatuh juga. Pasalnya, saat itu, para pembalap perempuan bertanding saat sore hari. Dan kondisinya saat itu hujan.

“Iya, kemarin Phia jatuh. Jatuh dan ditandu juga, hehe. Soalnya pas Phia jatuh itu kondisi hujan, jadi gak rame, hehe,” aku perempuan yang bulan April besok berusia 18 tahun.

Phia pun melanjutkan, terkait hubungannya dengan sesama pembalap, baik sesama perempuan ataupun dengan pembalap lelaki, ada saling support (mendukung, red).

“Ya, saling membantu satu sama lain, sih, hehe,” katanya.

Pembalap perempuan di Cirebon, lanjutnya, masih sedikit.

“Kurang deket juga, sih,hehe. Phia lebih deket sama pembalap dari luar daerah Cirebon. Tapi tetep saling support kalo ada event saling kabarin satu sama lain,” terangnya.

Jika tengah berada di luar sirkuit, katanya, pihaknya suka  bermain bersama sesama pembalap, dan saling menyemangati. Hanya saja, jika sudah berada di sirkuit, menurutnya, semua menjadi musuh.

“Gak ada yang namanya temen, saudara atau apapun, hehe” katanya.

Ia pun berharap seperti harapan pembalap lainnya, yakni Cirebon kelak akan punya sirkuit yang layak untuk latihan.

“Karena selama ini Phia kalo mau latihan harus ke Majalengka,” keluhnya.

Pasca pertandingan, ia mengaku masih tetap semangat demi bisa membanggakan Cirebon. Dan ke depannya ia ingin berlatih lebih keras lagi agar bisa menjadi kebanggaan orangtua dan Cirebon sebagai tanah kelahirannya. (mar/pojokjabar)

loading...
BERBAGI

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.