Kisah Perawat di Ruang Isolasi Covid-19 Kota Tasik, 15 Menit Pake APD Rasanya Seperti Ini..

3392
0
ISTIMEWA KELELAHAN. Sejumlah perawat bertugas di ruang isolasi pasien Covid-19 di RSUD dr Soekardjo Kota Tasikmalaya tengah beristirahat.

Berada di garda terdepan yang berinteraksi langsung dengan pasien positif terjangkit virus Corona atau Covid-19, tenaga medis dihadapkan pada tingginya risiko terpapar pandemi tersebut. Namun hal itu tidak menyurutkan semangat tenaga medis merawat dan memberikan dukungan moril pada pasien. Mereka tetap berjibaku di dalam ruang isolasi.

Rangga Jatnika, Kota Tasik

Seperti diketahui, tidak sedikit perawat dan dokter yang gugur dalam tugasnya menangani pasien Covid-19. Radar pun penasaran bagaimana kondisi para perawat ruang isolasi di Kota Tasikmalaya.

Baca juga : Napi Tasik yang Dirumahkan Diisukan Bawa Virus Corona, Begini Kata Ketua Manasix

Rabu sore (15/4), Radar mendapatkan nomor kontak salah satu perawat yang beberapa waktu lalu ditempatkan di ruang isolasi RSUD dr Soekardjo. Dia adalah Rubi Dirgantara (44), pria asal Kecamatan Cibeureum yang sudah bekerja sebagai perawat sejak tahun 1955.

Rubi mengaku sempat khawatir ketika ditunjuk menjadi salah satu perawat di ruang isolasi. Namun, hal itu sudah menjadi resik untuk dirinya sebagai seorang perawat. “Ya saya sanggupi, memang ada juga rasa khawatir tertular,” tuturnya.

Rubi percaya pihak rumah sakit, tidak akan gegabah menyediakan APD yang sesuai standar kesehatan. Hal itu, sedikit membuat rasa khawatirnya bisa dikesampingkan.

“Apalagi ada tempat isolasi, ada ruangan khusus perawat. Jadi kita tidak satu ruangan dengan pasien,” katanya.

Dalam penugasannya, Rubi berada di ruang khusus perawat yang dilengkapi CCTV dan sarana komunikasi dengan pasien. Sehingga, dia tidak full menggunakan APD. “Kita pakai APD pas ke kamar pasien saja, kalau di ruang perawat kita pakai baju biasa,” terangnya.

Namun demikian, di waktu dan kondisi tertentu dia harus masuk ke kamar pasien. Yakni untuk pemeriksaan tanda-tanda vital atau ketika pasien butuh penanganan. “Ada kan pasien yang infus atau masker oksigennya lepas, jadi kita harus bantu memasang kembali,” tuturnya.

Masuk ke dalam ruangan pasien terbilang momen paling berat dalam tugasnya. Dia harus menggunakan APD lengkap, pakaian medis itu memberikan rasa gerah yang membuat tidak nyaman. “Lima belas menit saja seperti habis maraton, keringat terus bercucuran,” tuturnya.

Dalam satu waktu, Rubi harus berada di ruang pasien sampai satu jam dengan APD lengkap. Hal itu saat ada pasien anak yang lepas jarum infus, untuk memasangnya kembali bukan hal mudah karena google mask dengan kaca yang tebal dan berembun membuat pandangan terganggu. “Tingkat kesulitan pemasangan jarum infus lebih tinggi, makanya jadi lama,” tuturnya.

Usai melepaskan APD, dia maupun perawat lainnya pasti langsung minum untuk mengganti cairan tubuh keluar. Ditambah dengan mengonsumsi vitamin yang disiapkan pihak RSUD. “Lepas APD pun tidak sembarangan, justru itu bagian rawannya jadi harus hati-hati,” katanya.

Rubi bertugas di ruang isolasi selama 10 hari, sejak 17 Maret-5 April 2020. Namun setiap harinya penugasan dibagi ke dalam beberapa sift. Sehingga, dia bisa tetap pulang ke rumah. “Itu pun kita mandi dulu dan ganti pakaian di rumah sakit, jadi sampai rumah itu kondisi sudah bersih,” katanya.

Beruntung bagi Rubi, meskipun ditugaskan di ruang isolasi tidak membuat keluarga dan tetangganya menjauhinya. Justru, dirinya mendapat banyak support dan doa. “Alhamdulillah enggak ada masalah, tapi ada teman saya yang sementara tinggal terpisah dulu dengan keluarga,” terangnya.

Jika kondisi pandemi Covid-19 ini terus berkepanjangan, tidak menutup kemungkinan Rubi kembali ditugaskan di ruang isolasi. Dia pun akan siap menerima tugas tersebut. “Mudah-mudahan cepat selesai, tapi terus-terusan dan saya ditugasin lagi ya saya siap,” katanya.

Baca juga ; Mulai Hari Ini Jam 18, Warga Kota Tasik Diminta Doa Bersama

Kepala Seksi Asuhan Dan Penunjang Pelayanan Keperawatan RSUD dr Soekardjo H Dudang Erawan Suseno mengatakan perawat yang ditugaskan di ruang isolasi berjumlah 45 orang. Mereka terbagi dalam 3 tim yang masing-masing bertugas selama 10 hari dengan sistem sift. “Jadi setiap tim ada 15 orang, dibagi ke dalam tiga sifat setiap harinya,” katanya.

Sejauh ini, kata Dudang, semua perawat dalam kondisi yang sehat, karena dalam setiap tugas selalu dilengkapi APD sesuai standar. Sebelumnya, H Dudang sempat waswas karena stok APD sangat tipis sedangkan penanganan pasien tidak bisa dihentikan begitu saja. “Tapi Alhamdulillah sekarang stok lumayan banyak, jadi tidak begitu khawatir lagi,” ujarnya. (*)

Loading...
loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.