Kisah Stephen Hillenburg Spons Kuning Berpipi Merah ‘SpongeBob’

17
Stephen Hillenburg bersama Patrick dan SpongeBob dalam The SpongeBob SquarePants Movie, November 2004

Pada 1997, Stephen Hillenburg menunjukkan kepada Tom Kenny niatannya membuat serial animasi di Nickelodeon. Dengan tokoh utama sebuah spons kuning berpipi merah yang dinamai Spongebob, sejak pertama mendengar gambaran dari Hillenburg, Tom sudah terpukau.

“Jika saya sampai tidak mengisi suara karakter ini [Spongebob], saya akan berpikir betapa akan sedihnya diri saya,” kenang Tom saat itu, dalam wawancara eksklusifnya dengan The Guardian.

Bahkan sebelum serial itu mendapat lampu hijau dari Nickelodeon, Tom sudah yakin jika Steve—sapaan akrabnya untuk Hillenburg—akan mendulang kesuksesan. Keyakinan ini bukan tanpa alasan.

Saat menunjukkan replika serial animasi yang kelak diberi judul SpongeBob Squarepants itu, Steve mengatakan kepada Tom dengan segalanya dengan sangat konkret dan percaya diri. Dia begitu yakin, seyakin bahwa kelak Tom-lah yang bakal mengisi suara karakter utamanya.

“Saya langsung mendapat suara yang cocok untuk karakter Spongebob pada percobaan pertama atau kedua. Kemudian kami mencoba tertawa, seperti Popeye atau Woody Woodpecker, dan mencoba suara paus,” sambung Tom.

Gayung bersambut. Setelah mendapat lampu hijau dari Nickelodeon, episode pertama SpongeBob Squarepantsa tayang pada 1 Mei 1999. Dan sudah pasti, pengisi suara karakter Spongebob adalah Tom Kenny.

SpongeBob SquarePants jadi bukti konkret kepiawaian Hillenburg dalam menyusun cerita. Serial ini berisi karakter-karakter manis dan berhati baik, namun tidak seimut Care Bears.

SpongeBob Squarepants tidak punya konflik yang tetap, namun bisa menghibur tanpa menuntut penontonnya dengan beban agar berpikir keras.

Kadang satu episode hanya bercerita tentang bagaimana seekor spons kuning menali sepatunya. Di lain waktu, satu episode bisa menceritakan bagaimana Spongebob menemukan kota yang hilang, atau pergi ke ladang ubur-ubur.

Sebagai sebuah serial animasi, SpongeBob SquarePants begitu sukses. Ia menembus pasar lintas usia dan negara.

Diterjemahkan ke dalam lebih dari 60 bahasa, serial ini telah tayang hampir 250 episode dan menyabet berbagai penghargaan bergengsi.

Mulai dari Golden Reel Awards, Emmy Awards, Annie Awards, hingga BAFTA Childern’s Awards. Ia juga telah diadaptasi—oleh Hillenburg sendiri—ke dua film layar lebar dan satu drama musikal Broadway.

Kesuksesan SpongeBob SquarePants tidak serta merta bermula ketika serial ini tayang, atau saat pertama kali Steve menunjukkan gambaran latar awal pada Tom Kenny. Dalam Stephen Hillenburg: the naive genius who made SpongeBob a cultural titan Steve mengaku SpongeBob SquarePants terbentuk di kepalanya sejak masih kanak-kanak.

“Saya berada di Jacques Cousteau, saat masih kecil, dan menyelam sekitar 14 meter, yang membuat pikiran saya terbang. Di dalam laut semuanya indah, berwarna, seperti dunia lain,” tutur Steve.

Sejak pengalaman itu, Steve memutuskan bakal mendedikasikan hidupnya untuk mempelajari makhluk-makhluk indah di lautan.

Ia lantas menempuh studi biologi di Humboldt State University, dan memulai karier sebagai pengajar pada mata kuliah Biologi Laut di Orange County Marine Institute ( saat ini Ocean Institute).

Pada saat itulah, sesuatu yang keras menghantam kepala Steve. Ia baru menyadari betapa dirinya suka menggambar, bahkan sejak masih berada di bangku mahasiswa.

“Saya belajar perencanaan sumber daya alam laut dan berpikir bisa mendapat pekerjaan di beberapa taman laut. Tapi saya ahli dalam seni dan begitu pula biologi laut. Sangat lucu bagaimana keduanya akhirnya datang bersamaan,” ujar Steve.

Sadar perlu mencurahkan dua hal sekaligus, yang tak mungkin kesampaian jika bekerja di bidang kelautan, Steve mengambil langkah besar pada 1987.

Ia keluar dari pekerjaannya, dan mendalami dunia animasi. Keseriusannya juga dibuktikan dengan keputusan untuk menempuh studi Animasi Eksperimental di California Institute of Arts, yang berujung gelar master pada 1992.

Saat proses menempuh studi, ia juga memulai debutnya sebagai kreator sejumlah film animasi pendek. Beberapa film itu antara lain The Green Beret (1991) dan Wormholes (1992). Judul terakhir bahkan sempat menyabet penghargaan di Ottaawa International Film Festival pada 1992.

Lulus studi animasi dan punya berbagai prestasi mentereng, Nickelodeon lantas mempercayai Steve dengan debutnya di perusahaan mereka.

Steve mendapat serial pertamanya, Rocko’s Modern Life. Serial ini tergolong behasil. Ia tayang penuh menuntaskan seluruh episodenya dari 1993 hingga 1996.

Usai kesuksesan itu, Steve kembali dihantam oleh misi awalnya. Sebuah keinginan untuk mendedikasikan kecintaannya terhadap seni dan biologi laut sekaligus. Maka mulailah ia merancang proyek SpongeBob SquarePants secara lebih serius.

Semua kemudian kembali ke narasi awal artikel ini, ketika ia menuntaskan gambaran proyek tersebut dan menunjukkannya kepada Tom Kenny.

Spongebob dan kehidupannya di Bikini Bottom sukses. Dan di dalam serial itu, Steve sedang menceritakan dirinya sendiri hingga saat-saat terakhir.

“Saya ingin Spongebob jadi karakter yang mencintai pekerjaannya. Saya selalu membayangkan seorang anak pergi ke McDonald dan melihat orang memasak di sana, lalu berpikir itu pekerjaan terbaik di dunia [karena seperti Spongebob],” ujar Steve.

Hingga akhir hayatnya, pencipta animasi bawah laut itu telah tutup usia setelah berjuang melawan penyakit Amyotrophic Lateral Sclerosis (ALS).

Ia meninggal pada Senin, 26 November 2018 pada usia 57 tahun, setelah menderita Amyotrophic Lateral Sclerosis ( ALS)

Steve tak pernah berhenti mendedikasikan diri kepada apa yang dicintainya. Stephen Hillenburg meninggal di usia 57 tahun, umur yang relatif muda untuk ukuran seniman. Tapi apa yang didedikasikannya tetap hidup, seperti spons kuning yang selalu tersenyum dan percaya diri. (*)

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.