Klaster Pesantren di Garut Mulai Terkendali

30
0

DINAS Kesehatan Kabupaten Garut menyebutkan penyebaran Covid-19 di klaster pondok pesantren yang sebelumnya mengalami peningkatan, saat ini sudah dapat terkendali. Bahkan hampir sepenuhnya selesai penanganannya.

“Ratusan santri yang sebelumnya positif Covid-19 saat ini hampir semuanya sudah sembuh. Tinggal ada beberapa lagi yang diisolasi,” ujar Sekretaris Dinas Kesehatan Kabupaten Garut Leli Yuliani kepada wartawan, Jumat (20/11).

Menurut dia, santri yang masih menjalani isolasi dan perawatan di rumah sakit dari salah satu pesantren di Kecamatan Samarang. Namun, kondisinya dalam keadaan baik.

“Terakhir (isolasi) sampai besok (hari ini, Red). Klaster pesantren Insya Allah sudah terkendali. Mudah-mudahan tak bertambah lagi,” harapnya.

Dihubungi terpisah, Camat Samarang Neneng Martiana mengatakan dari salah satu lingkungan pesantren di wilayahnya terdapat 59 orang yang terkonfirmasi positif Covid-19. Namun, sebanyak 37 orang di antaranya telah selesai menjalani isolasi di rumah sakit dan kembali ke pesantren.

Para santri positif yang telah selesai menjalani isolasi di rumah sakit masih harus melakukan isolasi di pesantren selama empat hari.

Sedangkan, sebanyak 22 orang lainnya masih dirawat di tiga rumah sakit, yaitu RSUD dr Slamet, RS Medina, dan RS Nurhayati. Para pasien yang masih menjalani isolasi itu umumnya tak memiliki gejala klinis.

“Kondisi yang masih isolasi semua sehat. Karena semua OTG (orang tanpa gejala). Ada satu yang gejala ringan satu orang dan dirujuk ke RSUD,” terangnya.

Baca juga : Pemkab Garut Lelang Jabatan Sekda

Neneng menyebutkan aktivitas di pesantren masih dibatasi. Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Garut sempat memberlakukan pembatasan sosial berskala mikro (PSBM) pada 9-15 November. Namun, setelah PSBM selesai, pihak pesantren melanjutkannya secara mandiri.

PSBM dilanjutkan secara mandiri karena dikhawatirkan ada aktivitas keluar-masuk orang ke lingkungan pesantren. Pihak pesantren juga menempatkan petugas di gerbang menuju pesantren agar tak ada orang yang bebas keluar-masuk.

“Jadi tak ada keluar masuk orang bebas. Karena kalau ke pesantren gangnya cuma satu. Kalau pimpinannya sudah mau PSBM, Insya Allah saya yakin akan dilaksanakan, meski dari pemerintah sudah selesai,” ujarnya.

Neneng menambahkan, sejak PSBM diberlakukan di lingkungan pesantren, Pemkab Garut telah memberikan bantuan berupa jatah hidup (jadup). Lantaran penghuni pesantren itu rata-rata berusia anak, jadup yang diberikan pemerintah dikelola oleh Gugus Tugas Covid-19 Kecamatan Samarang.

Gugus Tugas Covid-19 Kecamatan Samarang membuat dapur umum untuk mengolah jadup untuk para santri di pesantren itu.

Dari dapur umum itu, setiap harinya dikirimkan nasi bungkus untuk kebutuhan sehari-hari para santri yang tinggal di pesantren. Dengan begitu, para santri tak keluar-masuk pesantren untuk memenuhi kebutuhan mereka.

“Itu inisiatif dari kecamatan, karena melihat di sana anak-anak. Apalagi mereka masih trauma karena kasus Covid. Jadi saya bantu masak, bantu semacam trauma healing juga,” paparnya.

Neneng belum bisa memastikan kapan kegiatan di pesantren dapat kembali beraktivitas. Pihak pesantren juga belum dapat memastikan. “Tapi kemarin yang sudah sembuh kembali ke pesantren, tidak langsung pulang ke rumah,” paparnya. (yna)

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.