Klaster Pesantren di Kota Tasik Tinggi, Pemkot Dinilai Kurang Peka

85
0
Opik Taupikul Hak Bendahara GP Ansor Kota Tasikmalaya
Loading...

TASIK – Pemerintah Kota Tasikmalaya dinilai kurang cekatan dalam mengatasi penyebaran Covid-19. Hal ini seiring dengan dominannya pasien terkonfirmasi positif Covid-19 dari kluster pondok pesantren.

“Ini lantaran perhatian Pemkot selama masa pandemi Covid-19, kurang begitu nyata terhadap antisipasi penyebaran di lingkungan warga pesantren,” ujar Bendahara GP Ansor Kota Tasikmalaya Opik Taupikul Hak kepada Radar, Jumat (4/12).

Dia menyebut Pemkot selama pandemi kurang serius memperhatikan pondok pesantren. Terutama penanganan preventif melalui berbagai upaya baik pemberian bantuan maupun penyuluhan.

“Pemkot lebih memilih menyelesaikan pengadaan perangkat teknis ketimbang memperhatikan kesejahteraan tenaga medis, bahkan lebih jauh perhatian terhadap pesantren di masa pandemi nyaris nihil,” tuturnya.

Kemudian, lanjut Opik, ketika klaster pesantren mulai muncul dan terjadi di beberapa titik.

loading...

Baca juga : Diduga Lakukan Politik Uang ,Tim Azies-Haris Dilaporkan ke Bawaslu Kabupaten Tasik

Pemkot seolah membangun opini bahwasannya pesantren diposisikan sebagai sumber mata rantai penyebaran Covid-19. Seperti pernyataan yang dilontarkan salah seorang pejabat,

bahwasannya klaster pesantren merupakan mayoritas paling banyak terkonfirmasi positif.

“Ini jelas bagian dari upaya menyudutkan dan mendiskreditkan posisi  pesantren. Seolah pesantren sumber penyebaran Covid-19 paling aktif,” keluhnya.

Menurutnya, justru Pemkot tidak hadir di pesantren saat wabah mulai menyebar. Upaya cuci tangan yang dilontarkan pejabat publik tersebut tidak bisa dibenarkan. Baik dari sisi etika kerja maupun selaku bagian dari Satgas Gugus Tugas.

“Setelah pandemi terjadi, pesantren tidak disikapi serius. Jangankan penanganan, sumbangan masker, hand sanitizer apalagi penyemprotan disinfektan. Penyuluhan saja tak ada,” terang dia.

Kasatkorcab Banser Kota Tasikmalaya, H Wahid meminta harusnya Pemkot introspeksi diri. ketika pandemi terjadi, apakah sudah berupaya hadir ke pondok pesantren.

Itu membuktikan bahwasanya Pemkot tidak peduli kepada keselamatan dan keamanan masyarakat yang berkecimpung di pendidikan keagamaan.

“Kalau saja Pemkot peduli, saya yakin klaster di pondok pesantren akan terminimalisir, bahkan tidak ada klaster di Kota Tasikmalaya,” tegas Wahid.

ASN Tak Diwajibkan Swab Test
Pemerintah Kota Tasikmalaya menilai kunjungan dinas ke Kabupaten Sleman cukup penting. Maka dari itu, meskipun zona merah kegiatan tersebut tetap dilaksanakan.

Sekretaris Daerah Kota Tasikmalaya, Drs H Ivan Dicksan mengatakan bahwa kegiatan tersebut cukup penting. Karena untuk administrasi OPD yang lebih baik. Sleman dipilih karena punya track record administrasi yang bagus.

“Di sana kan SAKIP-nya (Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintahan) terbaik,” ungkapnya kepada Radar, Jumat (4/12).
Selain cukup penting, program tersebut juga sudah diagendakan jauh-jauh hari. Untuk itu meskipun terbilang zona merah,

kegiatan tetap dilaksanakan. “Baik itu ASN atau warga, umumnya yang bepergian ke luar kota memiliki alasan penting,” katanya.
Meskipun masuk ke zona merah, selama kegiatan pihaknya tetap menerapkan protokol kesehatan.

Lokasi kegiatan pun dilaksanakan di tempat yang representatif untuk menerapkan protokol kesehatan. “Tidak hanya untuk ASN, semua warga yang bepergian ke luar kota harus menerapkan protokol kesehatan,” tuturnya.

Disinggung adakah kebijakan swab test massal untuk para ASN yang pulang dari Sleman, hal itu hanya sebatas anjuran saja. Terlebih jika memang ada yang memiliki gejala-gejala tertentu.

“Apalagi kalau gangguan penciuman dan rasa di lidah, harus memeriksakan diri,” terangnya.

Sejurus dengan itu, Kepala Dinas Kesehatan Kota Tasikmalaya dr Uus Supangat mengatakan bahwa idealnya para ASN yang pulang dari Sleman bisa langsung memeriksakan diri. Namun dari sisi regulasi, tidak ada yang mewajibkan hal itu.

“Setidaknya memeriksakan diri menggunakan rapid test,” tuturnya.

Dirinya sendiri yang memang ikut dalam kegiatan sudah menjalani pemeriksaan. Karena hal tersebut sudah bukan hal asing baginya. “Kalau di Dinas Kesehatan kan memang ada pemeriksaan berkala,” ujarnya.

Namun demikian, pihaknya berharap dia dan rekan-rekan sejawatnya tidak ada yang tertular Covid-19. Jika memang ada, tentu Satgas akan melakukan penanganan medis. “Ya kalau ada tentu akan ditangani Isolasi, tapi mudah-mudahan tidak ada,” imbuhnya. (igi/rga)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.