KMRT: Swab Test Massal di Kabupaten Tasik Terkesan Penghamburan Anggaran

207
0
radartasikmalaya.com
Ilustrasi

SINGAPARNA – Organisasi mahasiswa menilai swab massal yang dilakukan Dinas Kesehatan dan Pengendalian Penduduk Kabupaten Tasikmalaya terkesan hanya formalitas, karena kurang efektif.

Mengingat waktu pelaksanaannya pada saat mulai memasuki adaptasi kebiasaan baru (AKB).

Baca juga : Hasil Rapat di Bandung, Budi: Tol Tasik Mulai Beroperasi 2024

Ketua Koalisi Mahasiswa dan Rakyat Tasikmalaya (KMRT) Kabupaten Tasikmalaya Ryan Nur Falah mengatakan, pelaksanaan swab PCR massal yang dilaksanakan oleh pemerintah daerah bukan hanya lambat, tapi terkesan formalitas saja.

Di mana dilakukannya tidak tepat waktu, karena saat ini sudah mulai memasuki AKB. Apalagi Kabupaten Tasikmalaya masuk kepada daerah zona hijau.

“Karena untuk permasalahan wabah Covid-19 ini kan khususnya di Kabupaten Tasikmalaya sudah tidak terlalu signifikan, apalagi kabupaten masuk zona hijau bukan zona merah,” ungkap Ryan kepada Radar, Rabu (8/7).

Apalagi, kata dia, baik pemerintah pusat dan provinsi sudah mengeluarkan kebijakan menuju new normal atau AKB.

Artinya tidak begitu urgen ketika swab massal ini dilaksanakan saat ini, sehingga terkesan penghamburan anggaran saja.

“Apalagi laporan alokasi anggaran penanggulangan Covid-19 pun belum selesai dan belum jelas laporan pertanggungjawabannya seperti apa,” tegas dia.

Ketua Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Kabupaten Tasikmalaya Zamzam Multazam melihat keterlambatan pemerintah daerah dalam menghadapi virus Covid-19, bukan hanya dari pelaksanaan swab PCR massal.

Tapi dari berbagai aspek pun sudah terlihat banyak yang tidak sesuai dan lambat.

“Dari awal pandemi, pemberlakuan PSBB, termasuk tahapan refocusing anggaran sudah terlihat keterlambatannya. Bahkan mendapatkan sanksi dari Kemenkeu, karena terlambat melaporkan sehingga DAK-nya ditahan,” jelas dia.

Dia melihat kesiapsiagaan dalam merespons kasus pandemi Covid-19, Pemerintah Kabupaten Tasikmalaya dinilai telat dan kurang bersosialisasi.

“Walaupun pada akhirnya, pemerintah daerah beralasan swab PCR baru dilaksanakan akhir-akhir ini, menunggu instruksi dari Pemprov Jabar dan pusat harus,” ujar dia.

Menurutnya, selama PMII memantau penanganan Covid-19 di Kabupaten Tasik sosialisasinya dianggap tidak optimal.

Kaitan swab PCR, tidak dipublikasikan siapa saja yang diperbolehkan mengikutinya, jadi terkesan hanya formalitas saja.

“Apakah masyarakat sipil biasa, atau pendatang, pemudik dan lainnya. Artinya harus ada skala prioritas. Yang lebih baik dilaksanakan swab test terhadap para santri yang datang ke kabupaten dari luar daerah, termasuk zona merah,” ungkap dia.

Ketua PC Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Kabupaten Tasikmalaya Rony Mardyana menambahkan, terkait pelaksanaan swab massal kurang berjalan efektif. Di mana waktunya seolah sudah lewat momentumnya.

“Karena terlalu dipusatkan seperti di kecamatan atau puskesmas sampai di dinas. Harusnya merata sampai ke tataran bawah masyarakat, saya yakin masyarakat sampai akar rumput tidak tahu, karena sosialisasi kurang,” kata dia.

Idealnya, kata dia, swab massal ditujukan untuk tracking mengetahui penyebaran bahkan yang positif Covid-19, dilaksanakan pada saat pandemi ini terjadi puncaknya.

“Bukan sekarang ini, lebih idealnya tracking lebih awal. Karena sekarang kan sudah beranjak new normal. Kami minta nanti hasil swab terhadap 1.300-an orang, dipublikasikan, supaya masyarakat tahu penyebarannya,” dorong dia.

Terpisah, Anggota Badan Anggaran DPRD Kabupaten Tasikmalaya Asep Muslim menerima laporan dati tokoh agama dan pengurus pondok pesantren di Kecamatan Salawu soal swab test massal yang sampai saat ini hasilnya belum diterima.

“Saya menerima laporan dari tokoh, mereka sudah menjalani swab sejak 24 Juni dan dijanjikan empat hari hasilnya keluar, tapi sampai saat ini sudah dua minggu belum ada informasi,” katanya saat menghubungi Radar, tadi malam.

Kata dia, hal ini jelas menjadi kegelisahan bagi masyarakat, terlebih yang mengikuti swab test. Karena mereka mengaku tidak tenang ketika hasilnya belum kunjung keluar.

“Ya jelas mereka bertanya-tanya, apakah hasilnya negatif atau positif. Selama belum keluar tentu mereka tidak tenang,” ujarnya.

Baca juga : Pemkab Tasik Terima Bonus dari PGE Karaha, Ini Besarannya..

Maka dari itu, Asep meminta Dinas Kesehatan segera mengeluarkan hasil swab tersebut supaya masyarakat menjadi tenang.

“Kenapa hasilnya lama dan kalau sudah keluar segera umumkan agar tidak menjadi kegelisahan di masyarakat,” harapnya. (dik/yfi)

Loading...
loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.