Golkar, Gerindra, PPP dan PDIP Lebih Tepat Buka Gerbong Sendiri Deni Rusyniadi Ingin Bangun Tasik Semakin Inovatif

Koalisi Jumbo Sulit Tentukan Cabup

48
0
Oleh Asep M Tamam

SINGAPARNA – Pengamat politik, sosial dan pemerintahan Tasikmalaya Asep M Tamam mengatakan, jika koalisi jumbo yang melibatkan PDI Perjuangan, Golkar, Gerindra dan PPP terjadi akan kesulitan menentukan calon bupati (cabup). Pasalnya masing-masing partai memiliki figur berkaliber cabup.

Kata dia, memang jika koalisi ini terjadi akan mempermudah meraih kemenangan di Pilkada 2020. Namun, penentuan kandidat cabup-nya akan sangat sulit. Mengingat, figur-figur yang ada di masing-masing partai sangat berpotensi menjadi calon orang nomor satu di Kabupaten Tasikmalaya.

Lanjut dia, bisa dilihat di PDIP ada Ade Sugianto yang merupakan petahana dan pasti untuk cabup. Kemudian di Golkar ada nama Yod Mintaraga, Erry Purwanto termasuk Iwan Saputra yang dilirik dan terus didekati sebagai kandidat cabup. Kemudian di kubu PPP punya Lina Ruzhan dan Cecep Nurul Yakin yang juga sudah digadang-gadangkan maju sebagai cabup. Termasuk Gerindra sendiri sudah menyatakan menyiapkan tiga nama untuk cabup seperti H Cecep Ruchimat, H Subarna dan Viman Alfarizi.

“Kalau Ade Sugianto menjadi cabup, karena tidak mungkin lagi menjadi wakil. Kemudian apakah nama-nama sekaliber nama-nama tersebut mau menjadi cawabup,” ujarnya kepada Radar, Selasa (16/7).

Maka dari itu, kata dia, sangat berat dan rumit dalam penentuan posisi cabup dan cawabup-nya. Namun, dalam dunia politik ketika sudah terbangun kesepakatan semuanya bisa terjadi.

“Jika koalisi ini benar-benar ada akan meramaikan perhelatan Pilkada 2020. Dan partai di luar koalisi ini harus memutar otak meramu strategi, karena kalau dijumlahkan kursi keempat partai ini ada 29 kursi, Golkar tujuh, Gerindra sembilan, PPP tujuh dan PDIP enam,” katanya.

Ketua Fraksi PPP DPRD Kabupaten Tasikmalaya Asop Sopiudin mengatakan, koalisi jumbo bersama Golkar Gerindra dan PDIP bisa saja terjadi di Pilkada 2020. Karena peta politik jelang pesta demokrasi lima tahunan ini semakin dinamis dan semua bisa terus berubah setiap saat.

“Ya, soal penjajakan bisa iya bisa tidak bicarakan pilkada. Artinya soal segala sesuatu sekarang ini pasti berkorelasi dengan arah politik partai ke depan (Pilkada 2020, Red). Sekecil apa pun ruang, karena politik itu ruang komunikasi bisa mencari informasi yang sebanyak-banyaknya agar menjadi pertimbangan politik ke depan bagi daerah ke pusat,” ujar Asop.

Kata dia, memang jika koalisi jumbo ini terjadi akan kesulitan dalam menentukan cabup. Namun, bicara surat keputusan (SK) siapa yang diusung pada Pilkada 2020 merupakan kewenangan dari pengurus pusat. “Kami di daerah memberikan masukan-masukan ke pusat soal peta politik. Makanya sekarang ini dengan siapa pun dengan kekuatan mana pun kita harus menjalin komunikasi,” ujarnya.

Sementara itu, Deni Rusyniadi SAg, tokoh yang akan maju menjadi cabup di Pilkada 2020 semakin mematangkan niatnya untuk maju pada pesta demokrasi tersebut. Dia mengaku memiliki gagasan membangun Kabupaten Tasikmalaya lebih maju, inovatif dan mengembalikan nilai-nilai religius lebih optimal.

Kata dia, dirinya ingin mengabdikan potensi yang dimiliki untuk Kabupaten Tasikmalaya. Pengalaman menjadi Direktur Institute For Civil Society Development (ICSD) Foundation atau organisasi nirlaba yang bergerak di bidang kesehatan dan lingkungan masyarakat di wilayah Jawa Barat.

Kemudian, dia pernah menjadi Ketua Dewan Walhi (Wahana Lingkungan Hidup Indonesia) Jawa Barat, pengurus PMII dan GP Ansor, serta Lakpesdam NU Bandung. “Saya ingin mengetahui permasalahan yang ada di Kabupaten Tasikmalaya dan bisa mendapatkan input (masukan, Red) perihal bagaimana Tasikmalaya lebih maju berdasarkan fakta-fakta yang ada dari Radar Tasikmalaya,” ujarnya saat berkunjung ke Graha Pena Radar Tasikmalaya, Selasa (16/7).(mg1)

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.