Koleksi Sepeda Ontel Produksi Tahun 1933

20

Siapa Presiden Pilihan Mu ?

Sejak kecil H Bangi SPd sudah gemar bersepeda, bahkan untuk berpergian ke manapun, ia selalu menggunakan sepeda. Khususnya jenis ontel, seiring berkembangnya waktu kecintaan terhadap sepeda ontel semakin menjadi bahkan saat ini.

Deni Nurdiansah, Pangandaran

Sepeda ontel tua nampak berjejer memenuhi aula Kecamatan Pangandaran, bentuknya dan mereknya macam –macam ada philips, ada mister, bruno dan lain-lain. Walaupun kondisinya sudah tua, namun sepeda-sepeda tersebut terlihat masih bagus.

Ontel tersebut tidak lain adalah milik H Bangi yang tidak lain adalah Sekmat Pangandaran. ”Disini ada tujuh sepeda ontel, sementara yang tiga lagi ada di rumah jadi total 10, semuanya masih bisa dipakai dan masi dirawat,” ungkapnya kepada Radar saat ditemui di Ruang Kerjanya, Senin (5/11).

Menurut Bangi, sejak masih SD sampai SMA, ia selalu menggunakan sepeda untuk pergi sekolah. ”Dari Sidomulyo sampai ke SMAN 1 Pangandaran yang jaraknya mungkin sampai 10 km, saya tetap mengayuh sepeda,” terangnya.

Ketika kuliah di IKIP (Sekarang UPI Bandung), ia juga senang memakai sepeda. ”Keliling Kota Bandung dan main bareng komunitas sepeda, itu sudah jadi rutinitas,” tuturnya.
Setelah lulus kuliah dan jadi seorang PNS, kecintaannya terhadap sepeda terus berlanjut. Pada tahun 2003, ia mendapatkan wasiat sebuah sepeda ontel dan sejak itu ia mulai menggali sepeda jenis tersebut.

Pada tahun 2009, ia mulai mengoleksi sepeda ontel, ia rela merogoh goceknya demi mendapatkan sepeda atik itu. ”Sampai tahun 2009, saya benar-benar menggilai sepeda jenis ini, untuk mendapatkanya saya rela nyebrang sampai Jawa Tengah seperti Cilacap dan Kebumen,” terangnya.
Waktu itu, ia membeli sepeda ontel merek rally dari Cilacap, dengan harga Rp 1.400.000. ”Sampai saat ini harga sepeda ontel yang paling mahal itu, sampai Rp 2.000.000,” katanya.
Usia sepeda ontel yang ia koleksi bermacam-macam ada yang tahun 70-an, 60-an bahkan ada yang dibuat tahun 1933. ”Jadi sepeda ontel saya yang dibuat sebelum Indonesia merdeka,” ujarnya.

Cara merawat sepeda-sepeda tersebut, kata dia, sangatlah mudah dan tidak menelan biaya yang cukup mahal. ”Saya cukup membeli semir sepatu saja, buat dioleskan ke batang sepeda, agar kelihatan mulus,” terangnya.

Untuk spare partnya juga mudah didapat, sehingga tidak perlu pusing mencari. ”Makanya kalau sekali service paling cuman menghabiskan puluhan ribu,” tuturnya.

Semua koleksi ontel yang ia miliki tidak akan dijual, bahkan ia mau mewariskan kepada anak cucunya kelak. ”Naik sepeda ontel itu ada rasa kebanggaan tersendiri dan terasa berbeda dibanding yang lainya,” tegasnya. (den)

CALEG KITA

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.