Hanya untuk Warga Kabupaten Tasik
SIAPA BUPATI & WAKIL BUPATI PILIHAN ANDA?

2.9%

19.1%

7.1%

70.9%
Kepsek Harus Bikin Aturan Terkait Sanitasi

Kondisi Toilet Sekolah Masih Memprihatinkan

48
0
ANALISIS. Peserta lokakarya dari perwakilan sekolah melakukan analisis kebutuhan sanitasi untuk sekolah masing-masing di Hotel Santika, Selasa (17/9). Tina Agustina / Radar Tasikmalaya

YUDANEGARA – Kondisi toilet di sejumlah sekolah di wilayah Kota Tasikmalaya masih sangat memprihatinkan. Ketersediaan sarana toilet belum sebanding dengan rasio jumlah murid di sekolah tersebut. Salah satu contohnya adalah toilet di Kompleks SD Negeri Cieunteung.

Jumlah murid dari tiga sekolah dasar tersebut mencapai sekitar 1.000 orang. Akan tetapi ketersediaan toiletnya hanya tiga unit. Padahal berdasarkan ketentuan dari aturan kesehatan rasio penggunaan toilet adalah 1:25 orang untuk murid laki-laki dan 1:20 orang untuk toilet murid perempuan.

Hal tersebut terungkap saat lokakarya Orientasi Perencanaan Sanitasi Sekolah yang diikuti oleh 20 sekolah perwakilan dari kelurahan-kelurahan yang menjadi peserta Jawara ODF 2019, Menuju Sanitasi Aman di Hotel Santika, Selasa (17/9).

Menurut Gesit Mulyawan, pemateri dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Jawa Barat, secara nasional hanya ada 23 persen sekolah yang sudah memiliki sarana sanitasi—termasuk toilet—yang sudah memadai. Sedangkan sisanya memang belum memenuhi standar.

Dengan demikian, pemerintah pusat melalui berbagai program harus bisa mewujudkan sarana sanitasi yang memadai untuk di seluruh sekolah.

“Sanitasi itu kaitannya dengan sumber air, bangunan toilet atau jamban dan septic tank. Untuk tata kelola sanitasi ini, maka harus ada aturan yang dibuat oleh kepala sekolah sebagai acuan pelaksanaan sanitasi di sekolah,” kata Gesit.

Pengelolaan sanitasi yang baik sejak sekolah dasar akan menjadikan pembiasaan yang baik pula untuk peserta didik. Begitu pula sebaliknya, apabila sanitasi sejak sekolah dasar jelek, maka akan menjadi pembelajaran yang jelek bagi anak-anak.

“Maka dari itu, bagaimana pihak sekolah harus memiliki aturan sanitasi agar bisa mengontrol kondisi sanitasi seperti toilet di sekolahnya masing-masing, juga bagaimana memberikan knowledge kepada anak tentang sanitasi yang baik,” katanya.

Selain aturan sanitasi, Gesit juga berpesan agar toilet-toilet di sekolah betul-betul ramah anak. Artinya sekolah juga harus menyediakan toilet khusus bagi murid yang sedang menstruasi.

Dari data yang ada saat ini, rasio jumlah anak yang sudah menstruasi di usia sekolah dasar adalah 5:1. Artinya dari 5 orang anak ada 1 orang anak yang sudah masuk pada fase menstruasi, meskipun masih duduk di bangku sekolah dasar.

Guna mendukung program sanitasi ini, pihak sekolah bisa mengakses dana alokasi khusus (DAK), melalui Kementerian PUPR untuk pembangunan sarana jamban dan sanitasi di sekolah.

Senada dengan yang disampaikan Gesit, Kabag Kesehatan dari Biro Pelayanan Pembangunan Sosial Provinsi Jawa Barat, Hasanudin menerangkan bahwa melalui program pengembangan unit kesehatan sekolah (UKS) terus didorong untuk perbaikan sarana. Salah satunya melalui pembangunan satu kelas satu wastafel. Selain itu juga pembenahan toilet-toilet di sekolah.

Menurut Hasanudin, masih banyak sekolah yang baru berdiri, namun tidak memperhatikan prasarana toilet dan air bersihnya.

“Kondisi sanitasi ini akan berpengaruh pada nilai untuk akreditasi sebuah sekolah. Salah satunya adalah ketersediaan wastafel. Rasionya 3 kelas 1 wastafel nilainya C, 2 kelas 1 wastafel nilainya B dan 1 kelas 1 wastafel nilainya A,” katanya.

City Coordinator SNV Indonesia untuk Kota Tasikmalaya, Retno Ika Praesty mengungkapkan, SNV bersama beberapa OPD di Kota Tasikmalaya bekerja sama untuk pendampingan sanitasi. Tidak hanya sanitasi sekolah saja, namun juga sanitasi secara umum di masyarakat. (red)

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.