Siapa calon Bupati Tasikmalaya pilihan anda?

0.8%

8.9%

2.5%

26.4%

2.6%

50.1%

0.1%

8.7%

0%

Konsumsi Dorong Pertumbuhan Ekonomi

61
0

JAKARTA – Setelah sekian lama lesu darah, konsumsi rumah tangga akhirnya kembali menggeliat. Pada kuartal II 2018, konsumsi rumah tangga tercatat tumbuh 5,14 persen secara year-on-year (YoY). Angka itu lebih baik dibanding pertumbuhan konsumsi rumah tangga pada kuartal II 2017 yang 4,95 persen.

Membaiknya konsumsi rumah tangga mendorong pertumbuhan ekonomi kuartal II yang tercatat 5,27 persen (YoY). Konsumsi rumah tangga berkontribusi 55,43 persen terhadap produk domestik bruto (PDB).

Sebelumnya, konsumsi rumah tangga sejak tahun lalu terus bergerak stagnan di bawah 5 persen hingga kuartal I 2018. Hal itu membuat pertumbuhan ekonomi bergerak di bawah 5,2 persen. Padahal, kontribusi konsumsi rumah tangga pada pertumbuhan ekonomi adalah yang terbesar dari sisi pengeluaran.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Suhariyanto mengatakan, peningkatan konsumsi rumah tangga menunjukkan daya beli masyarakat masih bagus. ’’Sebab, inflasi cukup terjaga dan pasokan barang juga cukup memenuhi kebutuhan,” ujarnya Senin (6/8). Konsumsi rumah tangga meningkat salah satunya berkat pencairan tunjangan hari raya (THR) dan belanja rumah tangga pada momen Ramadan dan Lebaran.

Indikator pengeluaran lain yang membaik ditunjukkan oleh penjualan eceran yang tumbuh 6,42 persen, menguat dibanding kuartal II 2017 yang naik 4,98 persen. Bantuan sosial (bansos) dari pemerintah tumbuh 61,69 persen, meningkat dari pertumbuhan kuartal II tahun lalu yang 18,57 persen.

Dari sisi penjualan kendaraan, penjualan wholesale sepeda motor dan mobil penumpang masing-masing tumbuh 18,96 persen dan 3,25 persen. ’’Yang bagus dari penjualan motor, tumbuh baik sekali. Itu menunjukkan daya beli masyarakat menengah ke bawah meningkat,” lanjutnya.

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menyatakan, angka pertumbuhan tersebut melampaui prediksi pemerintah yang memperkirakan 5,16–5,17 persen. Jika melihat komponennya, yang sangat baik adalah angka konsumsi yang meningkat. Hal itu menunjukkan berbagai upaya pemerintah seperti stabilisasi harga saat Lebaran, membuat libur panjang, hingga kenaikan THR dan gaji ke-13 membawa dampak positif.

Meski demikian, aspek lain seperti investasi belum menunjukkan angka menggembirakan. Hal itu terlihat dari pembentukan modal tetap bruto (PMTB) yang tumbuh di bawah 6 persen. Padahal, pada tiga kuartal sebelumya, pertumbuhan berada di angka 7 persen. Menurut dia, fakta itu harus disikapi secara hati-hati.

’’Apakah karena libur panjang, mungkin ada korelasi,’’ imbuhnya.
Project Consultant Asian Development Bank (ADB) Eric Alexander Sugandi mengungkapkan, melesatnya konsumsi rumah tangga tidak lepas dari kenaikan demand pada Ramadan dan Lebaran. Selain itu, daya beli masyarakat terdorong THR PNS. ’’Kemudian juga pemulihan harga komoditas energi dan perkebunan,’’ imbuhnya. (rin/far/ken/jpg)

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.