Korban Tsunami Diberi Bantuan

12
BERI BANTUAN. Kapolres Garut AKBP Budi Satria Wiguna saat mengunjungi salah seorang warga Kabupaten Garut yang menjadi korban tsunami Selat Sunda.

CISURUPAN – Empat warga Kampung Pasirjengjing RT 02/03 Desa Simpangsari Kecamatan Cisurupan Kabupaten Garut menjadi korban tsunami Selat Sunda yang terjadi pada Sabtu (22/12).

Keempat orang tersebut yakni pasangan suami istri Komarudin (47) dan Ita Rosita (45) serta dua keponakanya, Hanhan Hanifah (22) dan Wawan (35).

Kapolres Garut AKBP Budi Satria Wiguna SIK mengatakan dari empat orang yang menjadi korban, satu orang bernama Ita Rosita (45) meninggal dunia. Sedangkan tiga orang lainnya mengalami luka-luka.

“Yang meninggal sudah dimakamkan. Sementara yang luka-luka sekarang masih dalam perawatan di rumah sakit,” ujarnya kepada wartawan di Mapolres Garut Selasa (25/12).

Dia menerangkan Hanhan Hanafiah (22) mengalami luka parah. Sementara dua korban lainnya, yakni Komarudin dan Wawan hanya mengalami luka ringan. “Untuk biaya pengobatan korban di rumah sakit kami tanggung,” ungkapnya.

Khusus Hanhan, kata dia, Polres Garut turun tangan mengulurkan bantuan. “Luka Hanhan cukup serius di bagian tulang belakang, termasuk luka di sejumlah tubuh,” terangnya. Selain membantu biaya pengobatan, pihakanya juga memberikan sejumlah bantuan untuk dua korban lainnya.

Dihubungi terpisah, salah seorang keluarga korban Empar mengatakan keempat keluarganya menjadi korban tsunami ketika bekerja di salah satu vila di kawasan Pantai Carita Kabupaten Pandeglang Provinsi Banten. “Keluarga saya itu bekerja di vila tersebut sejak enam tahun lalu,” katanya.

Saat tsunami menerjang, kata dia, Ita bersama suami serta dua keponakannya berada di dalam vila. Korban terjebak di vila tersebut.

“Ita tak berhasil menyelamatkan diri, kalau suaminya dan dua keponakannya masih bisa menyelamatkan diri meski mengalami luka,” ujarnya.

Empar mengetahui keluarganya menjadi korban tsunami Selat Sunda setelah melihat berita di televisi. “Ketika melihat berita saya langsung mencoba menghubungi lewat telepon, tetapi tidak ada yang aktif,” paparnya.

Karena khawatir, dirinya langsung pergi ke Banten untuk memastikan nasib keempat keluarganya. Setelah sampai di kawasan Pantai Carita, kekhawatirannya kian menjadi karena melihat vila tempat keluarganya bekerja sudah rata dengan tanah.

“Saya pun terus mencari informasi hingga akhirnya saya dapat informasi jika keluarga saya sudah di Rumah Sakit Pandeglang,” paparnya. (yna)

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.