Kota Resik Tidak Bisa Cantik

135
0
Asep Devo

TAWANG – Pemerintah Kota (Pemkot) Tasikmalaya harus segera sadar betapa pentingnya menanggulangi sampah. Bila sampah menumpuk di mana-mana, upaya pemkot mempercantik kota akan sia-sia. Kota Resik tidak jadi cantik, malah kumuh.

Ketua Dewan Pengurus Daerah Lembaga Penyelamat Lingkungan Hidup (DPD LPLHI) Kota Tasikmalaya Asep Devo menyebutkan, idealnya jumlah armada pengangkut sampah di Kota Resik mencapai 70 unit sampai dengan 80 unit.

Hal tersebut berdasarkan rasio produksi sampah yang dihasilkan masyarakat setiap hari mencapai 150 ton sampai dengan 200 ton. “Idealnya kita punya armada itu 70 sampai 80 unit bukan cuma 30 unit saja,” ujar dia kepada Radar, Senin (1/4).

Menurutnya, beberapa tahun terakhir, Pemerintah Kota (Pemkot) Tasikmalaya tidak lagi mengalokasikan dana untuk pengadaan armada pengangkut sampah. Bantuan untuk pengelolaan persampahan di TPA Ciangir berupa excavator dan alat berat lain pun, belakangan diberikan dari Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR). “Baik pembebasan lahan, pengadaan sarana prasarana saja tidak dianggarkan. Sebetulnya ada tidak goodwill dalam melaksanakan pelayanan dasar? Sampah itu pelayanan dasar,” tuturnya.

Pekerjaan rumah tersebut, kata dia, bukan semata beban eksekutif melainkan juga legislatif. Sebab, urusan sampah di Kota Resik sudah menginjak stadium atas, terbukti dengan adanya beberapa ruas jalan yang menjadi bulan-bulanan pembuang sampah sembarangan. “Sudah urgen, pemkot dan DPRD itu terpikirkan tidak urusan ini?” kata dia.

Dia berpendapat bahwa penumpukan sampah di traffic light di perempatan Jalan Siliwangi harus menjadi cambuk bagi semua pihak. Terutama pemkot yang dalam hal ini kurang mampu menyadarkan masyarakat supaya lebih tertib membuang sampah.

Masyarakat seharusnya mema­hami bahwa kebersihan merupa­kan aspek penting terutama di lingkungan sekitar.

Dia meminta pemkot tidak hanya fokus pada penataan untuk mempercantik kota, tetapi harus bergerak menangani sampah yang membuat kumuh. “Bangun drainase, kirmir, taman, tugu-tugu dan lain-lain. Sementara saat ini air menggenang di jalan dan tercampur dengan tumpukan sampah, aduh bagaimana ya itu sumber penyakit dan mengganggu sekali terhadap lingkungan,” kata dia.

Sementara itu, Kepala Bidang Kebersihan Dinas Lingkungan Hidup (LH) Kota Tasikmalaya Iwan Setiawan mengakui jumlah armada pengangkut sampah belum optimal. Saat ini armada yang ada berupa arm roll truck 12 unit, dump truck 20 unit, truk engkel satu unit, pikap satu unit, motor roda tiga 18 unit, kontainer 90 unit dan tempat pembuangan sementara (TPS) mini 34 unit. “Idealnya minimal 45 unit untuk keseluruhan dump truck, sedangkan untuk arm roll truck 25 unit. Itu, tidak sebanding dengan wilayah. Akibatnya menjadi pelayanan kurang, paling 50 persen yang tertangani,” kata dia.

Dia membeberkan, berdasarkan data penanganan sampah ke tempat pembuangan akhir (TPA) 2018, produksi sampah per hari mencapai 3,64 liter (0,44) kilogram per orang. Adapun volume produksi sampah Kota Tasikmalaya 290.226, 64 kilogram per hari. “Berdasarkan alat ukur timbangan di TPAS Ciangir yang terangkut berjumlah 165.499,81 kilogram per hari. Jadi, persentase pelayanan sampah rata-rata 290.226,64 atau 57,02 persen. Maka, penanganan sampah ke TPAS Ciangir 2018 sebesar 59,63 persen,” ujar dia kepada Radar di Dinas LH.

Menurut Iwan, sarana prasarana memang belum mencukupi pelayanan 10 kecamatan. Apalagi keterbatasan jumlah armada dapat menghambat pengangkutan sampah dari TPS ke TPA Ciangir. Armada yang ada baru mampu memaksimalkan pengangkutan sampah di Kecamatan Cihideung, Tawang dan Cipedes.

Dengan keterbatasan sarana prasarana itu, dia berharap pemerintah kelurahan dapat turut serta membuat program penanganan lingkungan. Dinas LH pun siap membantu memberikan pembinaan. (igi/mg1)

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.