Kota Tasik Butuh PCR Deteksi Corona, Biar tak Nunggu Lama Hasil dari Bandung

206
0
RAPAT. Komisi IV DPRD dan Dinas Kesehatan Kota Tasikmalaya mengadakan rapat evaluasi penangangan Covid-19 di ruang rapat komisi, Kamis (14/5). Deni Nurdiansah/Radar Tasikmalaya

TASIK – Dinas Kesehatan Kota Tasikmalaya akan mengusulkan pembelian alat Polymerase Chain Reaction (PCR) untuk mendeteksi virus Corona. Alat PCR ini, juga bisa digunakan sebagai pendeteksi HIV/AIDs.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Tasikmalaya dr Uus Supangat mengatakan pihaknya masih melakukan kajian dan pertimbangan untuk mengusulkan pembelian alat PCR. Terutama untuk jenis dan harganya.

”Selama ini pasien yang terpapar Covid-19 harus menunggu cukup lama, untuk mengetahui apakah dia positif atau tidak, karena tes PCR sendiri harus dilakukan di luar kota,” jelasnya kepada Radar, Kamis (14/5).

Menurut dia, estimasi pengadaan alat PCR ini mencapai Rp 2 miliar, harga yang memang cukup besar.

”Ya ini baru sementara, tapi komisi IV juga mendukung pengadaan tersebut, dalam kondisi seperti ini,” katanya.

Dengan anggaran untuk penanganan Covid-19 yang mencapai Rp 80 miliar, sambung Uus, memungkinkan mengusulkan pengadaan tersebut.

”Mudah-mudahan saja tidak melebihi Rp 2 miliar, kita terus lakukan survei harga,” jelasnya.

Baca Juga : Data Bansos Kota Tasik Sudah Sesuai

Menurutnya, jika pasien terlalu lama menunggu tes PCR, bisa menimbulkan rasa resah dan cemas, bahkan bisa saja menjadi depresi.

”Selain menahan rasa sakit, pasien akan merasa resah dan stres,” ucapnya.

Uus menambahkan hingga saat ini anggaran yang sudah direalisasikan mencapai Rp 1,5 miliar dan saat ini mereka akan mengajukan lagi Rp 1 miliar.

”Jadikan anggaran ini berdasarkan usulan kebutuhan, bukan berdasar RKA (Rencana Kerja Anggaran) atau DPA (Dokumen Pelaksanaan Anggaran),” ujarnya.

Saat ini, menurut Uus, di setiap masing-masing Puskesmas ada dana Biaya Operasional Kesehatan (BOK) yang disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing Puskesmas untuk kegiatan penanganan Covid-19. ”Besarannya mencapai Rp 3 miliar,” katanya.

Ketua Komisi IV DPRD Kota Tasikmalaya Dede Muharam mendorong pembelian alat PCR tersebut.

Kalau melihat kondisi saat ini, kami mendorong juga asalkan jelas manfaatnya. Selain itu harus ada kajian dulu,” ujarnya.

Apalagi, kata dia, alat PCR itu juga bisa digunakan untuk mendeteksi virus selain Covid-19. ”Ia alat ini juga katanya bisa mendeteksi HIV/AIDs,” ucapnya.

Sebelumnya diberitakan, salah satu kendala dalam penanganan Covid-19 yakni antrean swab test yang cukup panjang.

Pemerintah Kota Tasikmalaya akan mengupayakan agar swab test bisa dilakukan di daerah.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Tasikmalaya dr Uus Supangat mengatakan, panjangnya antrean membuat hasil swab test baru keluar setelah dua minggu. Sementara untuk memastikan pasien sehat perlu dilakukan swab ulang.

“Kita bisa tahu pasien sehat ketika swab kedua dinyatakan negatif,” ungkapnya kepada Radar.

Dengan tes swab yang perlu dilakukan dua kali. Artinya pasien harus diisolasi sekitar satu bulan. Ini menimbulkan kekhawatiran terhadap psikologi mereka jika terlalu lama tidak berinteraksi dengan dunia luar. “Khawatir pasien jadi stres kalau terlalu lama diisolasi,” ujarnya.

Baca Juga : Stok Pangan di Kota Tasik Aman Sampe Lebaran, Sayuran Murah, Bawang Merah Mahal

Solusi yang harus dilakukan yakni melakukan PCR atau swab test di daerah untuk mempersingkat mekanisme pemeriksaan, maka dari itu pihaknya akan mencari peluang tersebut.

“Kalau bisa tes PCR di sini, dua hari bisa keluar hasilnya dan pasien bisa lebih cepat pulang,” katanya.

Lanjut dr Uus, saat ini Gubernur Jawa Barat sedang mewacanakan ada rumah sakit yang bisa menjadi rujukan di daerah. Dia berharap Kota Tasikmalaya atau daerah sekitarnya bisa ditunjuk.

“Meskipun di kabupaten tidak apa-apa yang penting dekat dan kita prosesnya bisa cepat,” tuturnya. (den)

Loading...
loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.