Kota Tasik Mulai PSBB Proporsional, Para Pejabat Touring..

236
1
Kami cuma memutar saja, mencairkan kejenuhan dan sambil menyupir sendiri-sendiri, supir hanya mendampingi jaga-jaga kalau cape, ka­rena kita PP(pulang-pergi, Red).” H Ivan Dicksan Sekretaris Daerah Kota Tasikmalaya

CIHIDEUNG – Kebijakan pembatasan sejumlah aktivitas di masyarakat dengan dalih pandemi Covid-19. Dinilai kalangan mahasiswa cuma berlaku bagi masyarakat, bukan terhadap pejabat. Padahal Kota Resik belakangan masih berstatus zona merah dan berisiko tinggi penyebaran corona.

Wakil ketua 1 PC PMII Kota Tasikmalaya, Muhamein Abdul Absith menganalisa pernyataan Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil, bahwa Kota Tasikmalaya minggu lalu merah dan minggu sekarang masih merah.

Perlu diteliti lebih lanjut, apa penyebab kota kecil tapi sering sekali masuk kedalam zona merah.

“Saya mau menjawab pertanyaan dari Pak Gubernur, salah satu penyebabnya yaitu karena aturan mengenai Covid ini hanya berlaku untuk masyarakat tidak untuk birokrat dan para pejabat,” tuturnya kepada Radar, Minggu (10).

Dia mengeluhkan di tengah perekonomian masyarakat yang terus merosot, banyak lapak usaha yang ditutup akibat kebijakan pembatasan aktivitas usaha.

Namun, sudah sebulan terakhir hampir dua kali pihaknya mendengar bahwa pejabat Pemkot malah melakukan perjalanan dinas ke luar kota.

Baca juga : Peserta VAKSINASI di Kota Tasik Masih DICARI

“Termasuk akhir pekan ini, para pejabat termasuk Plt wali kota yang merupakan ketua satgas Covid-19 melakukan touring ke Cipatujah dan Pangandaran,” selorohnya.

Pihaknya mengaku heran tujuan dari semua perjalanan tersebut. Harusnya, kegiatan bisa lebih efektif jika dilakukan secara daring di tengah kondisi seperti ini.

Sejalan dengan seruan yang dilontarkan pemerintah terhadap masyarakat, selain menghambur-hamburkan anggaran tentunya sebagai publik figur yang baik, para pejabat harus mencontohkan tindakan yang baik juga.

“Semoga ini bisa didengar Pak Gubernur. Akhir tahun lalu, Pemkot beberapa kali ke zona merah untuk kegiatan dinas.

Dan kemarin, touring bareng pejabat, supaya jadi catatan kenapa zona merah tak kunjung reda karena pimpinannya tidak memberi teladan untuk masyarakat,” tegas mahasiswa tersebut.

Senada dengan Muhaimin, aktivis mahasiswa lainnya Cep Lutfi Abdul Aziz menuturkan hal serupa. Di awal tahun 2021 ketika kinerja Pemkot belum terlalu terlihat, Lagi dan lagi dimasa pandemi Covid-19 kepala daerah yakni Plt wali kota tidak mencerminkan seorang teladan baik untuk masyarakatnya.
“Ketika warga mencoba disiplin prokes pejabat malah asyik liburan bersama Plt wali kota. Lain cerita kalau itu liburan personal,” tuturnya.

Menurutnya, potret touring sejumlah kepala OPD tidak sejalan bahkan mengindahkan intruksi Menteri Dalam Negeri Nomor 6 Tahun 2020 tentang Penegakan Protokol
Kesehatan untuk Pengendalian Penyebaran Covid-19.

Dimana isi konsideran itu, mengintruksikan pada kepala daerah yakni, sebagai pemimpin tertinggi pemerintahan di daerah masing-masing harus menjadi teladan bagi masyarakat dalam mematuhi protokol kesehatan Covid-19.

“Termasuk tidak ikut dalam kerumunan yang berpotensi melanggar protokol kesehatan,” keluhnya.

Maka, lanjut dia, sangat wajar dan jangan menyalahkan ketika masyarakat masih ada yang melanggar protokol kesehatan tersebut. Sederhananya, ketika pimpinan tidak memberikan contoh tentu akan ambigu apabila diikuti masyarakatnya.

“Bagi saya lah wong pemimpinnya pun tidak memperdulikan dengan intruksi Mendagri, sangat disayangkan. Apalagi disaat gaji PNS yang belum turun, ini menjadi sebuah problem kepemimpinan Plt wali kota,” paparnya.

“Ditambah SOTK baru yang sampai hari ini belum bisa diterapkan. Baiknya Plt wali kota fokus dulu, bereskan masalah tatanan birokrasi di awal tahun jangan kemudian masalah belum beres malah ngajak liburan pejabat jalan jalan apa urgensinya,” sambung mantan Presma STAI Tasikmalaya itu.

Masyarakat, kata dia, tengah membutuhkan kehadiran pemimpinan pada kondisi serba sulit. Membutuhkan solusi yang konkret, karena banyak contoh pengusaha yang menjerit dengan surat edaran yang sangat berdampak terhadap omzet pelaku usaha. “Dimana kinerja satgas PEN kok belum terdengar kinerjanya. Jangan hanya operasi penindakan prokes saja.

Ingat kota ini pusat penghidupan ekonomi Priangan Timur, kalo pusat ekonomi ini mati tak berjalan jelas sudah krisis yang dialami,” terangnya.

BACA JUGA : HANYA Gara-gara Pakaian, Ibu Dipenjarakan Anak Kandungnya di Demak

Terpisah, Sekretaris Daerah Kota Tasikmalaya, H Ivan Dicksan menjelaskan agenda touring dilaksanakan pulang-pergi. Minggu pagi pun (kemarin pagi, Red), para pejabat yang turut serta pada kegiatan itu sudah berada di Kota Tasikmalaya.

“Kami cuma memutar saja, mencairkan kejenuhan dan sambil menyupir sendiri-sendiri, supir hanya mendampingi jaga-jaga kalau cape, karena kita PP (pulang-pergi, Red),” katanya.

Ia menegaskan kegiatan itu tidak diwajibkan terhadap seluruh pejabat. Hanya beberapa saja yang tidak berhalangan dan siap untuk mengikuti touring. Tidak ada kegiatan formal atau khusus, hanya membangun sinergitas di awal tahun supaya bekerja ke depan lebih solid dan optimal kembali.

“Tidak semuanya ikut, bukan kaitan kedinasan. Banyak kita diskusi, sharing dan sinergitas supaya awal tahun ini kinerjanya dioptimalkan lagi,” jelas Ivan.

#satgascovid19 #ingatpesanibu #pakaimasker #jagajarak #jagajarakhindarikerumunan #cucitangan #cucitanganpakaisabun (rga/igi)

loading...

1 KOMENTAR

  1. Apapaun alasannya ,touring pejabat tidak memberikan contoh yg baik….baru kalai ini selama saya jd ASN ….GAGAL GAJIAN

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.