Kota Tasikmalaya Dianggap Belum Siap Menjadi Smart City

516
0

CIHIDEUNG – Kota Tasikmalaya dianggap belum siap menjadi smart city yang mengandalkan kecanggihan teknologi digital. Kasus peretasan running text LED sekolah yang kedua kalinya terjadi menunjukkan belum adanya sistem pengawasan sarana digital di tempat umum atau pun di lingkungan pendidikan.

Hal tersebut diungkapkan aktivis Sipatutat Myftah Farid. Dia menyebut masyarakat dan pemerintah hanya menjadi konsumen di era digital. Ketika terjadi permasalahan, termasuk peretasan maka akan kelabakan. “Karena kita masih sebagai pemakai, bukan perangkai,” tutur dia kepada Radar, Senin (25/11).

Kasus dugaan peretasan sudah beberapa kali terjadi di Kota Resik. Sebelum di SMK Yapsipa, peretasan running text juga terjadi di SDN Galunggung pada Pemilu 2019. Bahkan, pernah juga layar videotron di jalan HZ Mustofa yang diduga diretas dan menayangkan video porno. “Dan belum ada yang terungkap,” katanya.

Menurutnya, kasus-kasus peretasan ini tidak bisa dianggap sepele. Karena tidak menutup kemungkinan peretasan yang lebih besar terjadi dan berdampak kepada kepentingan publik. “Bisa saja peretasan dilakukan terhadap data-data pemerintah,” ujarnya.

Dia memperkirakan kepolisian dan Dinas Kominfo Kota Tasikmalaya belum punya tim IT yang berkompeten. Mereka cenderung hanya melakukan pengawasan aktivitas warganet di media sosial. “Kalau menghadapi masalah peretasan saya lihat belum ada,” tuturnya.

Dalam hal ini Dinas Pendidikan dan Kominfo juga perlu melakukan sosialisasi kepada masyarakat dan sekolah-sekolah. Supaya bisa memberi pemahaman bahwa setiap peralatan digital punya potensi diretas. “Karena mungkin pihak sekolah tidak tahu risiko itu,” ujar dia.

Wawancara terpisah, Ketua Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS) SMK Kota Tasikmalaya H Wawan mengaku belum berkoordinasi dengan pihak sekolah terkait peretasan itu. Pasalnya, dia baru tiba di Kota Tasikmalaya untuk urusan kedinasan. “Belum tahu, saya baru datang dari luar kota,” ujarnya.

Ketika dijelaskan duduk permasalahannya, H Wawan pun enggan memberikan komentar. Dia mengaku akan menanyakan dulu kepada pihak sekolah yang bersangkutan. “Nanti saya tanyakan dulu,” imbuhnya.

Diberitakan sebelumnya, masyarakat di wilayah Jalan Perintis Kemerdekaan Kelurahan Tugujaya Kecamatan Cihideung dihebohkan dengan tulisan berbau porno pada running text LED di gerbang sekolah menengah kejuruan (SMK), Sabtu (23/11) sore. Tulisan berjalan itu diduga telah diretas oleh oknum tak bertanggung jawab.

Pada running text SMK yang berada di perempatan Padayungan itu masyarakat melihat tulisan berupa, “Sekolah Terus Mending Nonton Bokep di xnxx.com Hacked by Mr.Z IMr4ch13L”. Normalnya, teks berjalan itu bertulisan identitas SMK beserta nama-nama jurusan.

Maman (45) menyebutkan, para pedagang, pengendara dan warga di sekitar sekolah tersebut kaget melihat tulisan jorok pada papan tulisan berjalan itu. “Saya juga kaget saat lihat itu,” kata Maman, warga sekitar.

MENGENAL PERETAS

Menurut Wikipedia, peretas (hacker) adalah orang yang mempelajari, menganalisis, memodifikasi, menerobos masuk ke dalam komputer dan jaringan komputer, baik untuk keuntungan atau dimotivasi oleh tantangan.

Terminologi peretas muncul pada awal tahun 1960-an di antara para anggota organisasi mahasiswa Tech Model Railroad Club di Laboratorium Kecerdasan Artifisial Massachusetts Institute of Technology (MIT). Kelompok mahasiswa tersebut merupakan salah satu perintis perkembangan teknologi komputer dan mereka berkutat dengan sejumlah komputer mainframe.

Kata bahasa Inggris “hacker” pertama kalinya muncul dengan arti positif untuk menyebut seorang anggota yang memiliki keahlian dalam bidang komputer dan mampu membuat program komputer yang lebih baik daripada yang telah dirancang bersama.

Kemudian pada 1983, istilah hacker mulai berkonotasi negatif. Pasalnya, pada tahun tersebut untuk pertama kalinya FBI menangkap kelompok kriminal komputer “The 414s” yang berbasis di Milwaukee, Amerika Serikat. 414 merupakan kode area lokal mereka. Kelompok yang kemudian disebut hacker tersebut dinyatakan bersalah atas pembobolan 60 buah komputer, dari komputer milik Pusat Kanker Memorial Sloan-Kettering hingga komputer milik Laboratorium Nasional Los Alamos. Satu dari pelaku tersebut mendapatkan kekebalan karena testimonialnya, sedangkan 5 pelaku lainnya mendapatkan hukuman masa percobaan.

Kemudian pada perkembangan selanjutnya muncul kelompok lain yang menyebut-nyebut diri sebagai peretas, padahal bukan. Mereka ini (terutama para pria dewasa) yang mendapat kepuasan lewat membobol komputer dan mengakali telepon (phreaking). Peretas sejati menyebut orang-orang ini cracker dan tidak suka bergaul dengan mereka. Peretas sejati memandang cracker sebagai orang malas, tidak bertanggung jawab, dan tidak terlalu cerdas. Peretas sejati tidak setuju jika dikatakan bahwa dengan menerobos keamanan seseorang telah menjadi peretas.

Peretas memiliki konotasi negatif karena kesalahpahaman masyarakat akan perbedaan istilah tentang hacker dan cracker. Banyak orang memahami bahwa peretaslah yang mengakibatkan kerugian pihak tertentu seperti mengubah tampilan suatu situs web (defacing), menyisipkan kode-kode virus, dan lain-lain, padahal mereka adalah cracker. Cracker-lah menggunakan celah-celah keamanan yang belum diperbaiki oleh pembuat perangkat lunak (bug) untuk menyusup dan merusak suatu sistem. Atas alasan ini biasanya para peretas dipahami dibagi menjadi dua golongan: White Hat Hackers, yakni hacker yang sebenarnya dan cracker yang sering disebut dengan istilah Black Hat Hackers. (rga/snd)

Loading...
loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.