Hanya untuk Warga Kabupaten Tasik
SIAPA BUPATI & WAKIL BUPATI PILIHAN ANDA?

3.1%

19.5%

7.4%

70%

KPAI Investigasi Kasus Buang Bayi di Parungponteng Tasik, Pelaku Akan Menikah Bulan Ini

196
0
MENJENGUK. Ketua KPAID Kabupaten Tasikmalaya Ato Rinanto berbincang dengan pelaku buang bayi AN di Rumah Tahanan Polres Tasikmalaya, Jumat (17/7). DIKI SETIAWAN / RADAR TASIKMALAYA

SINGAPARNA – Komisi Perlindungan Anak Indonesia Daerah (KPAID) Kabupaten Tasikmalaya melakukan investigasi terhadap kasus buang bayi di Kecamatan Parungponteng yang dilakukan sepasang kekasih tanpa ikatan pernikahan AN (20) dan K (20), Jumat (17/7).

Investigasi tersebut dilakukan untuk mengetahui secara langsung masalah dan alur cerita pelaku hingga tega membuang dan sampai mengubur darah dagingnya sendiri di lahan perkebunan.

Baca juga : Kasus Corona di Kabupaten Tasik Jadi 9 Orang dari Cibalong, Cikalong, Sodonghilir dan Leuwisari

KPAID juga mengingatkan kepada orang tua agar lebih memperketat pengawasan terhadap anak-anaknya, sehingga tidak terjerumus kepada pergaulan bebas apalagi sampai hamil dan nekat menggugurkan sampai membuang bayi.

Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia Daerah (KPAID) Kabupaten Tasikmalaya Ato Rinanto mengatakan, hasil pendalaman langsung dari ibu bayi ternyata diketahui sampai nekat membuang bayi.

Pelaku AN (20) yang ditemuinya di rumah tahanan (Rutan) Polres Tasikmalaya, mengakui awalnya tidak ingin membuang bayi yang dilahirkannya.

“Dia (AN, Red) sudah dari awal menyadari bahwa dirinya hamil dan pengakuannya datang ke tukang urut setelah lebaran lalu, dia tambah yakin sedang hamil. Termasuk mau menyampaikan kepada orang tuanya bahwa 25 Juli ini mau menikah,” ungkap Ato kepada Radar, Jumat (17/7).

Lanjut Ato, AN juga mengaku sebelum menguburkan bayi di lahan perkebunan hutan berkomunikasi dulu minta izin kepada pacarnya atau kekasihnya.

“Ya sudah setelah itu bayi tersebut dikuburkan. Karena keterbatasan alat dan juga panik, sehingga dikuburnya tidak dalam, tanpa diketahui aromanya tercium anjing dan akhirnya digali,” kata Ato.

Pada prinsipnya, kata Ato, ada dua pelajaran atau pesan yang harus diketahui oleh masyarakat dari kejadian ini pertama intinya tunggu hasil autopsi apakah bayi tersebut meninggalnya pada saat dalam kandungan atau pas dilahirkan.

“Kalau setelah lahir bayi itu meninggal artinya memang ada upaya pembiaran dari ibu bayi tersebut hingga bayinya meninggal,” ungkap Ato.

Kemudian, lanjut Ato, efeknya karena yang membuang bayi ini adalah masih muda umur 20 tahun ke bawah, sebelum ada ikatan pernikahan sudah hamil di luar nikah.

“Maka kasus ini adalah efek lose pengawasan dari orang tua. Kalau saja orang tuanya itu kontrol dan memantau anak selayaknya orang tua yang baik. Saya yakin ini anak ini tidak terjerumus dalam masalah ini,” kata dia.

Baca juga : DBD di Kota Tasik Terus Naik, Total 889 dan 25 Dirawat 17 Meninggal

Wakil Ketua Bidang Penanganan Kasus KPAID Kabupaten Tasikmalaya Fajar Gumilar SPd menambahkan, artinya masyarakat juga harus menghormati mekanisme proses hukum yang sedang berjalan dan ditangani oleh kepolisian.

“Mudah-mudahan dari kasus ini bisa diambil pembelajaran agar masyarakat atau orang tua lebih memperhatikan dan selalu mengawasi gerak-gerik anaknya, agar tidak terjerumus,” tambah dia. (dik)

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.