KPAID Minta Belajar Daring di Kabupaten Tasik Dievaluasi

65
0
Ato Rinanto

CISAYONG – Komisi Perlindungan Anak Indonesia Daerah (KPAID) Kabupaten Tasikmalaya meminta proses belajar siswa secara daring dievaluasi. Karena, sejauh ini banyak dikeluhkan oleh masyarakat, orang tua dan siswa itu sendiri.

“Banyak orang tua siswa yang tidak siap atau bahkan tak sanggup menjadi guru bagi anaknya ketika belajar daring dilaksanakan sehingga membuat kejenuhan terhadap anak,” ujar Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia Daerah (KPAID) Kabupaten Tasikmalaya Ato Rinanto SIP kepada Radar, Selasa (20/10).

Ato mengatakan, metode pembelajaran daring ini, KPAID sebetulnya sudah sepakat dengan Dinas Pendidikan bahwa daring ini sebagai alternatif pembelajaran yang sifatnya tidak wajib.

“Sehingga, daripada tidak sama sekali dilaksanakan proses pembelajaran. Cuma dalam prakteknya bahwa pembelajaran daring ini seolah-olah dipaksakan menjadi metode pembelajaran wajib oleh para guru, ketika pembelajaran tatap muka ditiadakan,” ujarnya.

Menurut dia, yang menjadi permasalahan bahwa pembelajaran daring ini tidak melihat kondisi psikologis keluarga, anak dan orang tua di rumah. Sehingga berdampak terhadap kurang baiknya hubungan sosiologis antara anak dengan orang tua.

“Sehingga pembelajaran daring ini, kami pikir butuh adanya evaluasi, pemerintah daerah saya pikir wajib untuk turun tangan bisa meneruskan asupan nutrisi untuk anak,” kata dia.

Baca juga : Tanam 45 Pohon Ganja di Polybag, Warga Kadipaten Tasik Dibekuk BNN

Dia menambahkan, selama ini memang belum ada laporan ke KPAID soal masalah pembelajaran daring, namun keluhannya sudah banyak dirasakan. Persoalannya tidak semua orang tua siap menjadi penyampai pembelajaran yang baik kepada anaknya.

“Kemudian tidak semua orang tua juga, misalnya ada empat orang anak, tidak semua siap menerima dengan metode pembelajaran daring yang harus paham smartphone. Ditambah lagi ada kendala letak geografis dan sinyal tidak merata,” ungkap dia.

Sehingga, tambah dia, KPAID berkesimpulan agar pembelajaran dengan metode kearifan lokal itu patut untuk dikedepankan dalam proses pembelajaran di tengah pandemi Covid-19 ini.

“Seperti contoh, anak-anak tidak lagi melaksanakan pembelajaran yang ditugaskan seperti di LKS. Bisa dicontohkan sederhana untuk anak SD, seperti memfotokan salat berjamaah subuh dengan orang tua sehingga mengedepankan pendidikan budi pekerti dan karakter,” jelas dia.

Maka, ungkap dia, dengan pendidikan kearifan lokal ini bisa menumbuhkan rasa hubungan emosional yang kuat antara anak dan orang tua itu lebih erat dan dekat lagi, jadi jangan melulu proses pembelajaran secara umum. (dik)

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.