KPK Akan Buka Semua Amplop Serangan Fajar

118
0
Loading...

JAKARTA – KPK menduga 400 ribu amplop berisi uang pecahan Rp 20 ribu dan Rp 50 ribu, dengan total sekitar Rp 8 miliar akan dibagikan secara acak (random) oleh anggota DPR RI Bowo Sidik Pangarso.

“Kemungkinan amplop itu, untuk menjaring konstituen agar memilihnya,” ujar Ketua KPK Agus Rahardjo di gedung KPK Jakarta, Jumat (29/3).

KPK sendiri berencana membuka seluruh amplop yang disita dalam OTT tersebut.

“Kemarin kan kami membuka random saja, ada yang isi 20 ribu, 50 ribu. Semuanya akan kami buka,” ungkap Agus.

Ketika ditanya apakah ada aliran dana ke partai atau lainnya, Agus mengaku belum bisa menyimpulkan. “Belum sampai ke sana, biar teman-teman penyidik menyelesaikan pemeriksaan, baru setelah tuntas kita tentukan arah,” tambah Agus.

Loading...

Dalam perkara ini, Bowo diduga telah menerima suap sebesar Rp 310 juta dan 85.130 dolar AS atau sekitar Rp 1,2 miliar dari Marketing Manajer PT Humpuss Transportasi Kimia (HTK) Asty Winasti.

Suap diberikan karena Bowo membantu PT HTK mendapatkan kembali kontrak kerja sama dengan PT Pupuk Indonesia Logistik (Pilog). Untuk mendistribusikan pupuk yang diproduksi PT Pupuk Indonesia.

Selain dari PT HTK yang merupakan cucu perusahaan Humpuss Grup, Bowo diduga telah menerima suap dan gratifikasi dari sejumlah pihak lain yang totalnya mencapai Rp 8 miliar.

Kamis (28/3) dini hari, KPK melakukan OTT terhadap Bowo Sidik Pangarso yang caleg anggota DPR RI 2019-2024 dari daerah pemilihan Jawa Tengah II yang meliputi Kudus, Demak dan Jepara.

Bowo Sidik Pangarso menyiapkan 400.000 amplop berisi uang Rp 20 ribu dan Rp 50 ribu dalam 84 kardus untuk serangan fajar pada pelaksanaan pemilu 17 April 2019.

Kasus ini bermula ketika PT HTK berupaya kembali menjalin kerja sama dengan PT Pilog untuk mendistribusikan pupuk PT Pupuk Indonesia menggunakan kapal-kapal PT HTK. Untuk merealisasikan hal tersebut, PT Humpuss meminta bantuan Bowo Sidik Pangarso. Pada 26 Februari 2019 dilakukan MoU antara PT Pilog dengan PT HTK. Salah satu materi MoU tersebut adalah pengangkutan kapal milik PT HTK yang digunakan oleh PT Pilog.

Dengan bantuannya tersebut, Bowo Sidik Pangarso meminta komitmen fee kepada PT HTK atas biaya angkut yang diterima sejumlah 2 dolar AS per metric ton.

Untuk merealisasikan komitmen fee tersebut, Asty memberikan uang sebesar Rp 89,4 juta kepada Bowo melalui Indung di kantor PT HTK di Gedung Granadi, Jakarta, Rabu (27/3). Setelah proses transaksi, tim KPK membekuk keduanya.

Suap ini bukan pertama diterima Bowo dari pihak PT HTK. Sebelumnya, Bowo sudah menerima enam kali pemberian senilai Rp 221 juta dan 85.130 dolar AS. Selain dari Humpuss, KPK menduga Bowo menerima suap atau gratifikasi dari pihak lain.

Atas tindak pidana yang diduga dilakukannya, Bowo Sidik Pangarso dan Indung disangkakan melanggar Pasal 12 huruf a atau Pasal 12 huruf b atau Pasal 11 dan atau Pasal 12B UU nomor 31 tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi juncto Pasal 55 Ayat (1) ke-1 KUHP Juncto Pasal 64 Ayat (1) ke-1 KUHP. (riz/ful/fin)

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.