Kuatkan Bahasa Indonesia, Hindari Bahasa Asing

24
BERI MATERI. Direktur Radar Tasikmalaya Group Dadan Alisundana, Kepala Balai Bahasa Provinsi Jabar Drs Sutejo dan Kepala Pusat Bahasa Pikiran Rakyat Drs Imam Jahrudin Priyanto MHum menjadi pemateri diskusi di Hotel Crown, Rabu (28/11). Foto kanan, Asredpel Radar Tasikmalaya Sandi Abdul Wahab menyampaikan materi. foto: Rangga Jatnika / Radar Tasikmalaya

TASIK – Penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar dalam dunia tulis menulis belum sepenuhnya diketahui oleh masyarakat. Sehingga banyak terjadi kekeliruan dan kerancuan dalam mengolah kata di setiap kalimat. Bahkan seringkali ditemukan penggunaan bahasa asing yang tidak tepat.

Menyikapi persoalan tersebut, Balai Bahasa Provinsi Jawa Barat melakukan Diskusi Kelompok Terpumpun dengan insan pers yang diselenggarakan di Hotel Crown, Rabu (28/11). Dalam kegiatan tersebut, dibahas berbagai kata yang banyak digunakan namun penempatannya keliru.

Kepala Balai Bahasa Provinsi Jawa Barat Drs Sutejo mengharapkan ada sikap positif dari media terhadap bahasa Indonesia. Karena media massa merupakan ruang yang dipercaya oleh masyarakat.

“Karena sikap setia kepada bahasa Indonesia masih kurang,” ungkapnya.

Menurutnya, banyak masyarakat yang keliru dalam memilih kosakata. Maka dari itu, perlu ada edukasi oleh media massa tentang penggunaan bahasa yang baik dan benar.

Sutejo juga menyinggung soal banyaknya masyarakat yang belum bangga berbahasa Indonesia. Contoh kecilnya yakni dalam menamai produk atau tempat usaha. “Banyak yang masih dicampur dengan bahasa asing, seolah tidak bangga dengan bahasa Indonesia,” tuturnya.

Direktur Radar Tasikmalaya Group Dadan Alisundana mengungkapkan tugas media massa cukup berat. Dalam bahasa saja pada dasarnya perlu menyampaikan kata dan kalimat yang baik dan benar. “Media itu guru bahasanya publik,” terangnya sebelum membuka kegiatan.

Dadan juga menegaskan bahwa negara ini dipersatukan oleh bahasa Indonesia, sehingga perannya sangat penting. Dia sepakat soal penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar dalam redaksional media massa. Jangan sampai menjadi dosa sosial. “Ketika kita salah dalam bahasa, dan itu dianggap benar oleh publik,” ucapnya.

Kepala Pusat Bahasa Pikiran Rakyat Drs Imam Jahrudin Priyanto MHum menyebutkan ada beberapa kata yang lazim digunakan publik termasuk media, namun maknanya keliru. Salah satunya kata memenangkan yang rentan salah penempatan. “Persib memenangkan pertandingan, yang benar itu Persib memenangi pertandingan,” sebutnya.

Pada prinsipnya, media perlu memberikan bahasa yang dimengerti oleh publik. Akan tetapi idealnya kata-kata yang digunakan tetap menggunakan bahasa yang baik dan benar. “Pesannya sampai, kualitasnya (bahasa) pun bagus,” tuturnya.

Imam juga memaparkan beberapa hal yang perlu dilakukan seperti penggunaan bahasa yang lugas dan tepat. Selain itu ditekankan menggunakan kalimat-kalimat pendek dan mudah dipahami. “Jadi satu kalimat itu cukup sekitar 20 sampai 25 kata,” terangnya.

Pada kesempatan yang sama, Asisten Redaktur Pelaksana (Asredpel) Harian Radar Tasikmalaya Sandy Abdul Wahab memaparkan kata-kata tidak baku namun lazim digunakan masyarakat. Maka dari itu, media massa perlu memberikan edukasi dengan penggunaan kata yang sudah ditetapkan dalam Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (PUEBI). Utamakan menggunakan kata baku. “Seperti adzan kata bakunya itu azan, masyarakat lebih sering menggunakan kata adzan,” terangnya.

Bukan hanya masyarakat awam, pemerintah pun beberapa kali dia temukan menggunakan kata yang tidak tepat termasuk di Kota Tasikmalaya. Dia menampilkan sebuah gapura bertuliskan Komplek Olahraga Dadaha Kota Tasikmalaya yang terpampang di kawasan Dadaha. “Kata bakunya itu kompleks, bukan komplek,” imbuhnya. (rga)

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.