Kurs Rupiah Tinggi, Listrik Batal Naik

28
0
Loading...

JAKARTA – Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Ignasius Jonan memperkirakan jika kurs rupiah terus menguat dan harga minyak tidak menurun, maka tarif dasar listrik (TDL) tahun depan tidak jadi naik. Bahkan, kemungkinan bisa turun.

Mantan direktur utama Kereta Api Indonesia (KAI) itu menyebutkan listrik tidak naik di tahun ini karena ada dua indikator yakni kurs rupiah yang menguat atas dolar dibanding asumsi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) dan Rencana Kerja dan Anggaran Perushaan (RKAP) PLN yang mencapai Rp 15 ribu per dolar Amerika Serikat (AS).

Begitupun listrik tahun depan tidak naik jika kurs, harga minyak dan harga batu bara tidak terus bertahan di posisi aman. Jonan melihat kurs rupiah cenderung terus menguat dan di bawah Rp 15.000 per dolar AS.

Sementara harga minyak masih bertengger di 61 dolar AS per barel, kemungkinan tahun depan masih di kisaran yang sama. Sedangkan harga acuan batu bara sudah di angka 71 dolar AS per ton, angka ini nyaris sama dengan harga patokan batu bara kelistrikan 70 dolar AS per ton.

Tak hanya itu, juga harga gas ditetapkan 8 persen atau maksimum 14,5 persen di pembangkit listrik. Ditambah lagi adanya efisiensi seperti susut jaringan dan operasional keuangan yang menyusutkan biaya produksi.

“Pandangan saya tarif listrik di tahun depan mudah-mudahan akan tetap sama bahkan sejalan dengan target PLN bahwa tarif listrik dapat turun khususnya untuk pelanggan industri dan bisnis,” ujar Jonan dalam keterangan tertulisnya Minggu (7/7).

Saat ini, kata Jonan, pemerintah dan DPR masih menggodok rencana perubahan tarif listrik tahun depan. “Hingga saat ini komisi-komisi terkait serta di Banggar, belum menetapkan rencana perubahan tarif listrik di 2020,” kata Jonan.

Loading...

Sementara ekonom INDEF Ahmad Tauhid menerangkan, memang salah satu komponen tarif listrik adalah nilai tukar dan juga harga minyak sehingga pemerintah akan mengajukan penyesuaian harga minyak sesuai perkembangan tanpa persetujuan DPR, seperti untuk rumah tangga non subsidi.

“Seperti halnya untuk harga BBM yang non subsidi. Tarif listrik terakhir kenaikannya pada tahun 2017 dan belum ada penyesuaian lagi sehingga ada usulan seperti itu,” ujar Ahmad.

Menurut dia, pelemahan nilai tukar rupiah dan kenaikan inductively coupled plasma (ICP) telah memperlebar jarak antara harga keekonomian dan harga jual energi kepada masyarakat. (din/fin)

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.