Lapar, Warga Jarah Toko dan BBM

2

Siapa Presiden Pilihan Mu ?

Korban gempa dan tsunami Donggala-Palu, Sulteng, makin nekat. Lapar membuat mereka anarki. Menjarah pertokoan. Mereka tak takut lagi meskipun ada aparat di sekitar pertokoan. Bahkan, mereka berombongan membobol ruko dan ritel di Kota Palu. Nyaris tak ada yang lolos. Aparat pun tak berani melarang. Di Carrefour Jalan Hasanuddin penjarahan terjadi sehari sejak gempa terjadi. Lapar menjadi alasannya.

Sementara, bantuan masih minim. Jangankan makanan, camilan pun susah. Belum lagi kesulitan air bersih. Di Jalan Pramuka, tak jauh dari Markas Korem 132 Tadulako, warga bahkan membawa linggis untuk membobol pintu ruko yang terbuat dari besi dan teralis. Demikian halnya di Jalan KH Ahmad Dahlan dan Jalan Gusti Ngurah Rai.

Di Jalan Muh Yamin, ratusan kendaraan mengepung stasiun pengisian bahan bakar minyak umum (SPBU).

Mereka menjarah BBM. Mereka bahkan membawa pipa untuk mengalirkan BBM dari dalam tangki. “Warga sudah tidak takut. Bahkan rela mati daripada kelaparan,” kata Cholis, seorang warga yang ikut menjadi relawan.Petugas SPBU pun memilih membiarkan mereka menjarah.

Alasannya, tak mau mengambil risiko jadi korban amuk warga yang beringas. Demikian halnya pemilik toko, tak bisa bertindak apa-apa saat toko mereka dibobol. BBM Langka Saat ini, BBM memang sangat langka di semua wilayah Palu. Ada beberapa penjual eceran, namun harganya bahkan dijual antara Rp30 ribu-Rp100 ribu. “BBM sangat langka. Kan SPBU dijarah semua toh,” ujar Herlina Taslim, warga Palu keturunan Bone.

Selain di Jl Muh Yamin, SPBU di Jl Pramuka, Jl Yos Sudarso, Jl Maluku, Jl Cumi-cumi, Jl Pangeran Diponegoro, Jl Ahmad Yani, dan Jl Imam Bonjol, juga tak luput dari aksi penjarahan.

Sementara itu, rombongan pembawa logistik BNPB dikabarkan juga jadi korban penjarahan saat hendak masuk ke Palu dari Donggala. “Truk kontainer pembawa bantuan dijarah di Donggala,” beber salah seorang relawan Aksi Cepat Tanggap (ACT) Sulsel.

Masih Tertimbun

Sementara itu, evakuasi terhadap korban gempa dan tsunami Donggala-Palu, Sulteng, dinilai lamban. Ratusan warga masih tertimbun reruntuhan. Korban reruntuhan Hotel Roa-roa Jl Pattimura, Kota Palu yang diperkirakan mencapai ratusan orang, juga belum dievakuasi. Sejauh ini, evakuasi hanya dilakukan kepada jenazah yang ada di jalan.

Di Kelurahan Petobo, Kecamatan Palu Selatan, ratusan rumah hanyut, Andri, salah satu warga yang masih sempat menyelamatkan diri saat rumahnya ambruk. Namun, harta bendanya hancur. Mobil dan sepeda motor penyot tertimpa reruntuhan. Di Palu Grand Mall (PGM), evakuasi juga belum maksimal. Korban kebanyakan terjebak di basement saat gempa dan tsunami datang. Selain itu, di salah satu kampung di Desa Biromaru, Kabupaten Sigi, nyaris tak ada korban tsunami selamat. “Masih belum ada (jenazah) didapatkan. Yang bisa selamat hanya yang masih bisa keluar dari lumpur saat tsunami,” sambung Andri.

Paling parah adalah di pesisir Pantai Talise. Di kawasan inilah sedang digelar Festival Palu Tomoni III sebagai rangkaian HUT ke-40 Kota Palu. Warga sedang ramai berkumpul di Anjungan Nusantara menyaksikan pertunjukan. “Banyak orang terseret di atas mobilnya. Mereka menonton hiburan di anjungan. Karena suaranya ribut, mereka tak dengar tsunami datang,” kata seorang anggota Satpol PP Pemprov Sulteng. Kepala Penerangan Kodam 13 Merdeka Kolonel Infanteri Muh Thohir menegaskan, penjarahan bantuan untuk korban gempa sejatinya tak terjadi. Mereka yang membawa bantuan, terutama logistik, bisa meminta pengawalan baik dari TNI maupun Polri.”Sebelum ada pengawalan, mohon jangan dulu didorong (diantar) bantuannya. Kami akan pastikan keamanannya dengan pengawalan,” ujar Thohir.

Mengenai penjarahan minimarket dan toko, Thohir mengatakan itu tak boleh. Tak ada perintah yang membolehkan warga menjarah. Namun, jika mereka mau ke minimarket atau swalayan, sebaiknya ada aparat keamanan dan pemerintahan yang mendampingi.

Selanjutnya, kebutuhan mereka diinventarisasi, lalu pemerintah akan menyediakannya. Dia menegaskan, sebagai negara hukum, penjarahan tak dibolehkan. Termasuk penjarahan BBM di SPBU, juga tak dibolehkan.

Bupati Sigi Muh Irwan juga mengakui banyak warganya jadi korban gempa dan tsunami. Terutama di perbatasan Palu dan Sigi. Di situ, satu kompleks tertimbun. Sejauh ini belum ada posko pengungsian yang dibangun pemerintah. “Untuk pengungsian, masing-masing korban membangun tenda secara swadaya,” katanya.

Dia mengakui, ada tujuh kecamatan dalam status terisolasi di Sigi pascagempa. Di antaranya Kecamatan Kulawi, Lindu, Kulawi Selatan, Solo Barat, dan Dolo Selatan. Hingga kemarin, kecamatan itu belum bisa diakses kendaraan.Pemkab Sigi juga belum membangun dapur umum. “Masyarakat sendiri yang membangun dapur di masing-masing tenda yang mereka buat,” katanya.Untuk evakuasi korban gempa dan tsunami, selama dua hari itu tak dilakukan. Baru kemarin sekitar pukul 14.00 WITA, Basarnas baru turun. “Sekarang yang paling mendesak adalah obat-obatan, logistik, makanan, dan minuman,” imbuhnya. (zuk/rif)

loading...