Latih Antikorupsi Sejak Dini

27
0
EDUKASI. Kepala Kejaksaan Negeri Kota Tasikmalaya Lila Agustina (kanan) mengunjungi SMPN 10 Kota Tasikmalaya di momen Hari Antikorupsi, Senin (9/12). Firgiawan / Radar Tasikmalaya

TAWANG – Memperingati Hari Antikorupsi 9 Desember 2019, Kejaksaan Negeri (Kejari) Kota Tasik­malaya menyambangi sekolah untuk memberikan edukasi berkenaan korupsi terhadap peserta didik. Sekaligus mengapresiasi sekolah yang sudah concern menyelenggarakan kantin kejujuran sebagai salah satu pembentukan karakter anak usia didik.

Kepala Kejaksaan Negeri (Kajari) Kota Tasikmalaya Lila Agustina ber­sama tim berikut Sekretaris Dinas Pen­didikan Apep Yosa Firmansyah mem­berikan pemaparan dan wawasan terkait antikorupsi. “Anak-anak pe­lajar ini generasi milenial, aset bang­sa dan penerus bangsa sehingga me­reka perlu diberikan pemahaman ter­kait korupsi agar mereka nantinya men­jadi agen-agen terdepan dalam me­lakukan pencegahan tindakan ko­rupsi,” ujarnya pada kunjungan ke SMPN 10 Kota Tasikmalaya, Senin (9/12).

Pihaknya akan terus memberi penyuluhan antikorupsi terhadap pelajar, membangun jiwa dan karakter sebagai individu jujur dan tidak koruptif kelak. “Termasuk di sini ada kantin kejujuran, pembalut kejujuran, juga kotak penyimpanan barang ketinggalan di sekolah. Itu bentuk pihak sekolah, menumbuhkan jiwa anak jujur dan mendidik tidak korupsi dari usia sekolah,” katanya.

Kepala SMPN 10 Hj Affi Endah Navilah menjelaskan, sudah menjadi keharusan saat ini pendidikan karakter antikorupsi harus masuk dalam kurikulum di sekolah sehingga pihak sekolah mencari kegiatan pembiasaan yang tujuannya mengarah mendidik anak untuk berbuat jujur. “Sekolah ada sebuah kegiatan yang diterapkan untuk membiasakan anak-anak jujur dan tidak korupsi seperti kantin kejujuran, pembalut kejujuran serta kotak kejujuran, sehingga pendidikan antikorupsi tidak hanya sebatas teori di dalam kelas yang tidak efektif, namun dengan kegiatan tersebut mampu membiasakan dan mendidik anak-anak berjiwa jujur dan tidak korupsi,” tutur dia.

Menurutnya, penerapan anti­korupsi di lingkungan sekolah bisa diaplikasikan bermacam-macam sesuai dengan dunia mereka. Misalnya tidak menyontek atau tidak bolos. “Berbicara korupsi bagi anak-anak tidak bisa diaplikasikan berbicara dengan anggaran tapi diaplikasikan di dunianya seperti bolos sekolah, terlambat ke sekolah dan menyontek teman,” ujarnya. (igi)


LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.