Layanan Cuci Darah di RSUD Kota Tasik Ditutup, Rakyat Jadi Korban

41
0
ilustrasi
Loading...

Polemik tutupnya pelayanan cuci darah di RSUD dr Soekardjo, dikeluhkan pasien yang memiliki jadwal rutin mendapatkan pelayanan di rumah sakit berpelat merah tersebut.

Salah seorang diantaranya, tokoh masyarakat Kota Tasikmalaya Asep Suherlan menyayangkan rumah sakit yang notabene milik pemerintah mengalami gangguan pelayanan semacam itu.

“Terus terang, sangat disayangkan rumah sakit sudah bagus bangunannya, fasilitas lengkap, tetapi layanan satu per satu malah tutup begitu,” ujarnya saat menghubungi Radar, kemarin (2/2/2021).

Baca juga : GP Ansor Kota Tasik Ingatkan Elite Politik Soal Wali Kota

Dia menceritakan mulanya pada Sabtu (30/1) hanya enam pasien saja yang dirujuk ke rumah sakit lain agar mendapat layanan cuci darah. Tetapi untuk jadwal layanan cuci darah hari ini (3/2), sebanyak 25 pasien yang biasa mendapat layanan cuci darah di RSUD dirujuk ke rumah sakit swasta.

loading...

“Besok (hari ini, Red) itu kita dijadwalkan pada shift 3, seluruh pasien alihan dari RSUD. Pukul 16,00 sampai dengan 21.00. Biasanya kita dapat layanan sejak pagi dan harus sabar sampai sore hari,” kata Asep.

Asep tidak menyoalkan hal tersebut selagi pelayanan di rumah sakit lain pun biayanya ditanggung jaminan kesehatan. Sebab, ketika harus menggunakan jalur umum tanpa jaminan kesehatan, satu kali cuci darah pasien harus merogoh kocek sekitar Rp 1,2 juta.

Menurut dia, beberapa pasien yang sering bersamaan dengannya mendapat pelayanan tersebut mengeluh ketika harus berpindah tempat dan khawatir sulit mendapat jadwal, ketika di rumah sakit lain sudah memiliki pasien rutin.

“Kita bersyukur RSUD bisa mengondisikan ke rumah sakit lain, sehingga kita tidak sampai melewati satu hari dalam jadwal rutin cuci darah,” kata dia menceritakan.

“Pasien lain mengeluhkan saat pindah layanan fasilitas kesahatan, tentu harus ada penyesuaian. Syukur-syukur waktu penjadwalannya tidak terlampau lama, ketika melewati satu hari saja dari jadwal rutin itu bisa membuat kami para pasien menderita,” sambung mantan Ketua Forum Cempaka Untuk Semua itu.

Menurut Asep, apabila dirinya terlambat melakukan cuci darah dari jadwal rutin, napas terasa sesak dan beberapa bagian tubuh mengalami pembengkakan. Tidak jarang harus menggunakan jangka ketika berjalan bahkan sulit beraktivitas seperti biasa.

“Kita tanya ke pihak rumah sakit, sampai kapan waktunya tidak bisa memastikan. Sebagian pasien berharap kondisi seperti ini tidak berlarut-larut dan harus ada tindakan cepat dari para pemegang kebijakan, sehingga pasien tidak dikorbankan lagi,” harap dia.

Dia juga sempat menghubungi pihak ketiga yang bekerja sama dengan Gedung Hemodialisa RSUD. Asep memahami ketika urusan kemanusiaan akan berakhir rasional ketika tunggakan rumah sakit sebagai fasilitas kesehatan masyarakat, terlampau besar terhadap rekanan.

“Ya kalau satu bulan tertunda wajar, rekanan juga berpikir rasional. Kita pahami, mereka urusi urusan kemanusiaan dan medis, sementara mereka juga kalau terus suplai tanpa dibayar, tidak manusiawi juga,” tegasnya.

“Kita mohon komisi terkait di DPRD bisa mengawasi dengan serius, sebab ini tanggungjawab bersama para pemangku kepentingan yang implikasinya dirasakan sekali oleh masyarakat,” sambung Asep. (igi)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.