Layanan Cuci Darah Ditutup, RSUD Kota Tasik Harus Dievaluasi

44
0
SAMBUTAN. Sekretaris Daerah Kota Tasikmalaya H Ivan Dicksan saat menghadiri musrenbang Kecamatan Cihideung di aula kantor kecamatan, Rabu (3/2/2021).
Loading...

CIHIDEUNG – Merespons ditutupnya pelayanan cuci darah di Gedung Hemodialisa RSUD dr Soekardjo. Pemkot Tasikmalaya langsung melaksanakan rapat koordinasi (rakor) mencari solusi supaya pelayanan tersebut segera kembali beroperasi.

Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Tasikmalaya H Ivan Dicksan mengatakan setelah Struktur Organisasi Tata Kelola (SOTK) baru efektif, RSUD berada dibawah koordinasi Dinas Kesehatan.

Menurut dia, perlu adanya evaluasi berkenaan kerjasama operasional (KSO) yang dikerjakan pihak ketiga dalam menunjang layanan-layanan tertentu di rumah sakit.

“Tadi sudah instruksikan Asda I untuk rakor, karena sekarang kan dibawah koordinasi Dinkes. Maka diskusikan itu dengan dinas dan stakeholder terkait. Kita memohon maaf adanya persoalan semacam ini, semoga segera kita temukan solusinya,” ujar Ivan kepada Radar usai menghadiri Musrenbang di Kantor Kecamatan Cihideung, Rabu (3/2/2021).

Dia menilai status RSUD yang merupakan Badan Layanan Umum Daerah (BLUD) memungkinkan untuk melakukan pinjaman sebagai dana talang membayar tunggakan kepada pihak ketiga. Supaya layanan tersebut bisa kembali beroperasi, dengan ketersediaan suplai kebutuhan penunjang layanan.

loading...

“Tetapi, tentunya harus dengan perhitungan cermat dan kehati-hatian. Karena terkait dengan pinjaman, kita harus melihat juga potensi pendapatan rumah sakitnya, apakah bisa untuk membayar itu atau seperti apa, harus dihitung dengan matang,” katanya memaparkan.

Selain itu, kata dia, sejumlah layanan yang dikerjakan pihak ketiga harus di-review perjanjian kerjanya. Apakah perlu dilaksanakan perpanjangan, diperbaharui atau hal lainnya dalam kontrak yang sudah disetujui RSUD dan para rekanan.

“Kita kan terikat dengan perjanjian, itu dikaji dulu seperti apa. Apakah sudah berapa tahun, perlu diperbaharui atau bagaimana,” ujar Ivan.

“Karena dulu itu, KSO semacam ini, rekanan berinvestasi dan tempatnya di RSUD. Kemudian ada pembagian hasil dan kesepakatan kerja. Nah, sekarang kondisinya seperti apa, perlu kita evaluasi lagi, apakah keuntungan bisa diubah atau investasinya dilakukan apa saja,” sambung dia.

Terpisah, Anggota Komisi IV DPRD Kota Tasikmalaya Enan Suherlan menekankan Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Tasikmalaya melakukan pembenahan fundamental di tubuh rumah sakit berpelat merah tersebut.

Sesuai Struktur Organisasi Tata Kerja (SOTK) baru, dimana RSUD diklasifikasikan menjadi UPTD Khusus, dibawah koordinasi Dinkes. “Ada pekerjaan rumah di rumah sakit ini. Dimana perlu pembenahan serius dan menyeluruh, mengingat layanan rumah sakit berkaitan langsung dengan nyawa masyarakat,” tutur Enan.

Ketua Ormas Paguyuban Otomotif Tasikmalaya tersebut menyimpulkan pola belanja RSUD saat ini seharusnya bisa lebih efektif dan efisien.

Sebab, di samping memiliki persoalan tersendiri dari tata kelola manajerialnya, kebijakan rujukan berjenjang dari BPJS Kesehatan ditambah pandemi Covid-19 masih berlangsung, mempersulit kondisi keuangan RSUD.

“Kami juga sempat beberapa kali kesempatan kunjungan ke RSUD, Gedung Hemodialisa itu tidak representatif bagi pasien regular. Perlu adanya lift di sana, sehingga pasien cuci darah tidak harus menaiki tangga curam dengan keadaan fisik yang biasanya tidak optimal untuk berjalan,” keluh politisi PAN tersebut. (igi)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.