Layanan Sedot Tinja Terganjal Aturan

17
Event Organizer Radar Tasikmalaya NGOBROL SANTAI. UPTD SPALD Kota Tasikmalaya melaksanakan Ngobrol Santai bersama para pengusaha sedot tinja di Hotel Horison, Rabu (14/8).

YUDANEGARA – Layanan sedot tinja di Kota Tasikmalaya yang dilakukan oleh UPTD Sistem Pengelolaan Air Limbah Domestik (SPALD) hingga saat ini belum berfungsi secara maksimal karena belum adanya peraturan daerah (perda) yang khusus mengatur operasionalnya.

Kepala UPTD SPALD Kota Tasikmalaya Suprianto ST menyampaikan, saat ini untuk pelayanan sedot tinja masih mengacu pada Perda Nomor 5 Tahun 2011 tentang Tarif Retribusi dengan tarif sebesar Rp 125 ribu. Padahal, UPTD SPALD tidak hanya menjadi penyedia jasa sedot tinja saja, akan tetapi bisa memberikan layanan untuk pembuangan limbah tinja dari perusahaan sedot tinja milik swasta.

“Hal paling penting yang dibutuhkan saat ini adalah segera punya aturan mengenai operasional UPTD SPALD, kita memang baru terbentuk, namun belum dibarengi dengan regulasi,” katanya saat menyampaikan materi di acara Ngobrol Santai bersama para pengusaha sedot tinja di Hotel Horison, Rabu (14/8).

Akibat tidak adanya regulasi, lanjut Supri, para pemilik usaha sedot tinja yang beroperasi di Kota Tasikmalaya pun tidak terpantau dan terawasi. Pihaknya tidak bisa memastikan ke mana limbah tinja yang disedot oleh pihak swasta tersebut, karena selama ini tidak pernah ada buangan ke Instalasi Pengolahan Limbah Terpadu yang dikelola oleh UPTD SPALD Kota Tasikmalaya.

“Yang kami khawatirkan pemilik layanan jasa sedot tinja milik swasta ini membuangnya di sembarang tempat, ini sebetulnya yang jadi ke kekhawatiran kami saat ini, karena kita belum memiliki aturan,” ujar dia.

Menurut dia, Untuk jasa sedot tinja di Kota Tasikmalaya saat ini terus mengalami peningkatan. Pada Mei mencapai 77 permintaan, Juni 64 permintaan dan Juli sampai 110 permintaan. Kenaikan permintaan ini tidak terlepas dari sosialisasi yang gencar dilakukan Dinas Kesehatan melalui program open defecation free (ODF) di mana banyak dilakukan pemicuan di beberapa wilayah di Kota Tasikmalaya.

Boy Tagajagawani, perwakilan dari Forkalim dan juga mantan Direktur Air Limbah PDAM Tirta Wening Kota Bandung mengungkapkan, bila ke depannya jasa sedot tinja ini bisa menjadi peluang ekonomi bagi masyarakat. Hal ini ditunjang dengan berbagai faktor seperti jumlah manusia yang semakin bertambah kemudian kebutuhan buang air besar merupakan kebutuhan utama manusia.

Tak heran apabila di Kota Bandung, kata Boy, sudah banyak layanan sedot tinja yang dikelola pihak swasta yang bekerja sama dengan pemerintah. “Pengolahan air limbah ini punya potensi ekonomi. Penduduk itu pasti bertambah, pasti buang air besar, dan ini menjadi peluang. Salah satu tantangannya adalah harus punya regulasi. Di Kota Tasikmalaya sampai saat ini belum punya regulasinya, semoga ke depannya, regulasi ini bisa segera terwujud,” tutur dia.

Salah satu pengusaha sedot tinja swasta dari Kota Bandung, Rasito menyampaikan pengalamannya dalam menggeluti usaha sedot tinja dengan wilayah jangkauan Bandung dan sekitarnya. Pria yang sudah memiliki lima tangki sedot tinja ini, bila dirata-ratakan dalam satu bulan bisa beroperasi sebanyak 100 kali penyedotan. Dari usaha sedot tinja tersebut Rasito bisa mendapatkan omzet mencapai Rp 10 juta per bulan dari satu tangki saja. (red)

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.